thumbnail Halo,

Kemenangan 2-1 atas Nantes banyak memberi pelajaran pada Laurent Blanc, terutama bagaimana dia menyikapi duet Zlatan Ibrahimovic-Edinson Cavani. Pelajaran seperti apa?


GOALANALISIS   ANUGERAH PAMUJI     Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

Banyak yang menilai kombinasi Zlatan Ibrahimovic dan Edinson Cavani di Paris Saint-Germain bakal menciptakan duet mematikan musim ini. Tapi tak sedikit pula yang sangsi menilai apakah efektif menandemkan keduanya, mengingat gaya bermain ditambah tingkat emosi serta egoisme mereka yang mirip.

Pihak-pihak yang kontra terhadap duet ini pun mulai berbesar kepala lantaran melihat fakta jika kedua bomber haus gol ini memperlihatkan penampilan yang kurang menjanjikan pada dua laga awal Ligue 1 Prancis.

Dari dua partai pertama yang dilalui itu, Les Parisiens hanya meraup dua poin ketika ditahan Montpellier 1-1 dan Ajaccio 1-1. Tak ada yang terlihat sangar di lini depan PSG. Dua gol saja dikemas dalam dua pertandingan. Itupun dicetak setelah mereka tertinggal lebih dulu. Cavani memang membuat gol debut di laga journee 2, namun tak ada pemandangan atraktif dari kerja samanya dengan Ibrahimovic di sektor depan. Suara sarkasme seketika menyeruak di ibu kota, dan Laurent Blanc bisa jadi tak bisa tidur nyenyak jelang menghadapi pekan ketiga liga.

Akan tetapi mantan pelatih timnas Prancis tersebut bukanlah sosok semenjana. Blanc terus menganalisis hingga pada laga kontra Nantes, Senin [26/8] dini hari WIB, Larry White menurunkan starting XI yang berbeda dari dua laga sebelumnya. Alih-alih meneruskan pakem Carlo Ancelotti dengan menerapkan 4-4-2, faktanya pada hari H, Blanc akhirnya kembali memainkan formasi favoritnya, 4-3-3.

Tak ada lagi porsi yang menitikberatkan pada dua figur menonjol di depan. Sekarang Blanc melibatkan Ezequiel Lavezzi untuk melengkapi trisula 4-3-3 kesukaan Blanc, dan hasilnya... Perubahan pun dimulai.


                            Ezequiel Lavezzi, pencair duet Zlatan Ibrahimovic-Edinson Cavani

Barisan depan PSG tak lagi terlihat kikuk. Kehadiran Lavezzi seperti mencairkan suasana. Jika di dua laga sebelumnya Ibrahimovic-Cavani seperti bermain bak mengusung tumpukan beban, di laga Nantes, segala sesuatunya berjalan lancar selama 90 menit. Lavezzi benar-benar memberi Blanc opsi menyerang yang lebih variatif, dan penyerang Argentina itu menjadi pemain yang paling banyak membuat umpan kunci dan umpan silang bagi PSG. Maksud hati menempatkan Ibrahimovic sebagai target man, bomber Swedia itu -- yang di musim lalu menjadi topskor Ligue 1 -- tampaknya sudah memahami bahwa kemenangan bukan untuk individu, tapi mutlak buat tim.

"Bersama Cavani segalanya berjalan lancar. Tidak masalah buat saya tidak mencetak gol. Yang terpenting adalah membantu tim dan membantu para pemain menciptakan peluang," ujar Ibrahimovic selepas laga Nantes.

Satu assist cantik kepada Cavani yang berbuah gol pertama, disusul terlibat dalam skema gol kedua yang memudahkan Lavezzi menjebol si lawan, seolah ingin menegaskan: lupakan duet Ibrahimovic-Cavani! Dan PSG pun mengklaim tiga poin pertama dengan menang 2-1 atas pasukan Michel Der Zakarian. Ibrahimovic menjadi sorotan bukan lagi mempersoalkan duetnya dengan Cavani, tapi sekarang dia disanjung karena kontribusinya. Yah, Ibra di laga malam itu menjadi "pelayan"!

Buat mantan penyerang FC Internazionale itu, pencapaiannya sebagai pencetak gol tersubur di 2012/13 lebih karena tim tak memiliki sosok "Cavani". Namun hari ini ceritanya telah berbeda, dan Ibrahimovic agaknya sudah mengerti betul bagaimana kini dia harus memposisikan diri di tim.

"Kami tidak memiliki Cavani musim lalu. Kalaupun memang terlihat "ada", tak sering pemain itu bisa menyelesaikannya menjadi gol," jelas penyerang berumur 31 tahun itu, yang pada kesimpulannya, ketergantungan akan sosok Ibrahimovic -- yang musim lalu mencetak 30 gol -- memang tak bisa dimungkiri.

Sekarang, yang penting untuk dipertimbangkan masak-masak oleh Blanc apakah dia masih penasaran untuk tetap mewujudkan duet Ibrahimovic-Cavani, atau seterusnya akan menerjunkan Ezequiel Lavezzi berbarengan dengan keduanya dalam sistem 4-3-3. Blanc merasakan persis, dengan menempatkan tiga gelandang dan tiga penyerang menciptakan keseimbangan antara menyerang dan bertahan.

Catatan penting lainnya, salah satu alasan yang membuat Javier Pastore kurang berkembang di PSG boleh jadi karena missposisi si pemain. Selama berkarier di Parc des Princes, Pastore lebih banyak dimainkan sebagai sayap. Padahal, posisi ideal pemain 24 tahun itu adalah gelandang serang. Tapi dalam skema 4-3-3, Pastore bermain di sentral dan dia cukup menikmati.

Secara luas artinya 4-3-3 adalah taktik yang terlihat paling dibutuhkan Blanc dan bisa merefleksi setiap karakter para penggawanya, walau diakui si pelatih 4-4-2 juga tak akan dikesampingkan sepenuhnya.

"Dengan 4-3-3 ada keseimbangan yang lebih baik di lini tengah. Sistem ini membuat saya puas. Kami mungkin bakal menggunakan 4-3-3 lagi, kembali ke 4-4-2 atau mungkin menggunakan sistem yang lain di masa depan. Kami perlu menemukan sebuah sistem yang memberi kami keseimbangan," pungkas Blanc.


Bagaimana dengan Anda? Bisa membantu Blanc mencarikan solusi terbaik, apakah tetap menduetkan Ibrahimovic-Cavani dalam sistem 4-4-2, atau melibatkan Lavezzi dalam skema 4-3-3? Atau mungkin Anda punya taktik yang lain? Sampaikan pada kolom komentar di bawah ini, kami ingin tahu...


Ligue 1 Prancis >> Halaman Khusus Sepakbola Prancis
>> Berita Sepakbola Prancis Lainnya
>> Semua Klub Ligue 1 & Panduan 2013/14
>> Klasemen Ligue 1 Prancis
>> Jadwal & Hasil Ligue 1 Prancis
>> Daftar Transfer Ligue 1 Prancis

Terkait