thumbnail Halo,

Lebih banyak bintang Prancis yang berbondong-bondong meninggalkan Ligue 1 dibandingkan yang datang.


CATATAN   ROBIN BAIRNER     PENYUSUN   AGUNG HARSYA    
Jika Ligue 1 Prancis merayakan musim panas 2012 dengan kedatangan bintang dunia seperti Zlatan Ibrahimovic dan Thiago Silva, pada jendela transfer berikutnya akan dikenang dengan arus keluar sejumlah bintang domestik ke mancanegara berbanderol transfer murah.

Bukannya mempertanyakan keputusan pemain seperti Yann M'Vila, Mapou Yanga-Mbiwa, dan Loic Remy, yang bermain mulai dari klub domestik level menengah hingga top, tetapi karena mereka bergabung ke klub yang tidak bisa dibilang masuk jajaran elit Eropa.

Klub seperti berlomba-lomba mencari tambahan uang pada periode ini. Di Prancis, eksodus pemain ditandai dengan arus uang di bawah nilai yang sebenarnya ada di dalam bursa.
EKSODUS BINTANG
Mereka yang meninggalkan Ligue 1
Pemain Klub asal
Klub baru
Debuchy Lille Newcastle
Gouffran Bordeaux Newcastle
Haidara Nancy Newcastle
M'Vila Rennes Rubin Kazan
Remy Marseille QPR
Sissoko Toulouse Newcastle
Yanga-Mbiwa Montpellier Newcastle

Salah satu faktornya jelas kesulitan finansial. Keputusan Marseille melepas Remy ke tim papan bawah Liga Primer Inggris, Queens Park Rangers, merupakan desakan untuk mengencangkan ikat pinggang karena proyek pembagunan ulang Stade Velodrome.

Sungguh merisaukan klub sebesar Marseille; yang merupakan salah satu dari 20 klub berpendapatan terbesar di Eropa versi Deloitte, ditambah dukungan rata-rata 50 ribu penonton per laga, dan mencapai perempat-final Liga Champions musim lalu; tak mampu menahan diri dari godaan fulus klub gurem Liga Primer.

Untuk klub seperti Rennes, isu ini lebih penting, seperti yang pernah dijelaskan pelatih Frederic Antonetti. Misuh-misuh usai kalah dalam sebuah pertandingan, pelatih asal Corsica itu meledak di depan pers, "Klub terbawah Inggris ingin menarik salah satu pemain terbaik kami. Secara finansial sepakbola Prancis sedang menukik. [Kemampuan] Kami terbatas."

Saat ini hanya sedikit klub Ligue 1 yang mengalami kesulitan seperti Nancy. DNGC, badan yang memastikan klub-klub Prancis tetap sehat, memaksa mereka untuk memangkas anggaran gaji pemain.

Januari terbukti menjadi bulan mengerikan bagi tim kawasan Lorraine itu, yang sedang berkutat di papan bawah klasemen. Jejak pemain bintang seperti Yohan Mollo dan Andre Luiz diikuti oleh bek muda menjanjikan Massadio Haidara, yang pindah ke Newcastle United hanya dengan banderol 3 juta.

Bos Newcastle Alan Pardew memahami kondisi klub-klub Prancis sehingga merangsek bursa dengan pemain yang berbanderol murah. Kalau saja Haidara bermain untuk sebuah klub Inggris, bisa jadi dia mendapat transfer tiga kali lipat dari yang saat ini dikeluarkan Magpies, mengingat kualitas dan potensial yang dimilikinya dalam usia 20 tahun.

Sederetan pemain Prancis yang sudah memperkuat Newcastle terbukti menjadi magnet bagi rekan-rekan senegaranya, seperti keberhasilan Yohan Cabaye membujuk bek kanan Mathie Debuchy untuk bertualang di Inggris.

Pardew seperti bermain FIFA 13 dengan mode Ultimate Team dan terus meningkatkan rating "Chemistry" dengan merekrut sejumlah pemain Ligue 1 lain, seperti Yoan Gouffran dan Moussa Sissoko. Juga dengan harga yang murah. Gouffran barangkali sebuah perjudian melihat rekor golnya di Ligue 1 musim ini, belum diketahui apakah dia ditempatkan di sektor sayap atau striker di tim barunya. Bertambah luar biasa dengan perekrutan Sissoko yang hanya memakan biaya 2,5 juta.

Sissoko merupakan pemain internasional Prancis dan baru berusia 23 tahun. Sangat diyakini dia belum menjawab seluruh potensi di Toulouse, tapi kemampuan teknik dan fisiknya memadai untuk bertarung di Liga Primer. Toulouse berkeinginan menahannya, terlihat dari penolakan mereka melepas sang pemain musim panas lalu, dan sekarang mereka di ambang kehilangan salah satu produk akademi terbaik secara gratis di akhir musim. Mereka jadi tak punya banyak pilihan selain menerima banderol miring untuk aset berharganya.


Pardew mengambil keuntungan dari situasi finansial klub-klub Prancis

Perwakilan Sissoko menyayangkan sikap buruk petinggi Toulouse dalam situasi ini karena sang pemain dipinggirkan dari skuat inti saat solusi tengah dicari. Daripada menyalahkan Sissoko, Toulouse lebih baik melihat kesalahan mereka sendiri karena situasi seperti ini tidak bisa dihindari.

Kasus Gouffran mirip. Bordeaux membiarkannya pergi dengan nilai kompensasi yang rendah. Mereka kini tinggal memiliki satu orang penyerang tengah karena Cheick Diabate bertugas di Piala Afrika, sedangkan David Bellion tak pernah mengemas gol di liga sejak 2009.

Tambahan terakhir Newcastle Januari ini, yang bisa menjadi yang terbaik, adalah Mapou Yanga-Mbiwa. Montpellier terpaksa melepasnya meski berkeinginan menahan lebih lama lagi. Sang pemain bisa saja pindah gratis di akhir musim, tapi memilih melakukannya saat ini apalagi penampilan Montpellier terus menurun.

Arsenal pernah meminatinya dan pemilik Montpellier Louis Nicollin tampak frustrasi karena Yanga-Mbiwa tak sabar ingin pindah. Bahkan si pemain digambarkan Nicollin "brengsek" karena memiih pindah ke Newcastle di tengah-tengah musim. Tidak terlalu mengejutkan Yanga-Mbiwa ingin pindah karena juara bertahan Ligue 1 itu tampil jelek dan dia punya kemampuan bersinar di Inggris.

Dengan sisa bursa transfer yang ada, banyak nama besar lain yang akan pindah. Michel Bastos baru saja meninggalkan Lyon untuk Schalke 04, barangkali menyusul Lisandro Lopez. Sepertinya tidak banyak pemain pengganti mereka. Di luar Lucas Moura yang bergabung ke Paris Saint-Germain, bisa dibilang tidak ada impor pemain berarti di Prancis sepanjang Januari ini.

Positifnya, produk akademi akan memperoleh kesempatan bersinar untuk menjadi generasi berikutnya dari M'Vila, Yanga-Mbiwa, dan Remy. Kalau Ligue 1 benar-benar ingin menjadi salah satu liga hebat Eropa, mereka harus berupaya menahan para pemain berbakat dari kepindahan ke mancanegara.


GOAL.com hadir via ponsel di alamat m.goal.com.
Unduh juga aplikasi GOAL.com secara langsung untuk OS ponsel Anda:


Terkait