thumbnail Halo,
Tonny Vilhena dan Jean-Paul Boetius, contoh sukses pengembangan pemain muda Feyenoord Rotterdam.

FOKUS: Mengenal Varkenoord, Akademi Terbaik Belanda Empat Tahun Beruntun

Tonny Vilhena dan Jean-Paul Boetius, contoh sukses pengembangan pemain muda Feyenoord Rotterdam.

PROSHOTS

Feyenoord Rotterdam bangkit dari ancaman kebangkrutan dengan sederetan bintang muda.


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter

Tanggal 31 Mei menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu oleh anak-anak Belanda. Pada hari itu tim-tim usia muda di seluruh penjuru Belanda mendaftarkan susunan pemain ke KNVB. Dari dalam daftar itu tersimpan bakat-bakat pemain potensial yang kelak menjadi bintang di timnas negara kincir angin itu.

Belanda sudah dikenal luas sebagai negara terdepan dalam hal pengembangan sepakbola usia muda. Pegiat sepakbola usia dini mengenal metode Coerver yang dikembangkan pelatih legendaris, yang juga pernah menukangi timnas Indonesia medio 1970-an, Wiel Coerver. Belum lagi revolusi taktik sepakbola modern oleh Rinus Michels yang memanfaatkan penguasaan bola dan ruang. Secara tradisional Ajax Amsterdam menjadi representasi kesuksesan Belanda dalam mencetak pemain-pemain berbakat. Namun, empat tahun terakhir reputasi itu pelan-pelan ditandingi rival abadi mereka, Feyenoord Rotterdam.

Pada Februari 2006, Stanley Brard datang ke Varkenoord untuk menjadi kepala pemantau bakat sekaligus direktur akademi Feyenoord. Pria keturunan Indonesia kelahiran 24 Oktober 1958 itu menjadi penanggung jawab mencari pemain-pemain berbakat di sekitar Feyenoord untuk dijadikan calon-calon bintang melalui program kepelatihan berjenjang di akademi mereka. Akademi Feyenoord memiliki segala yang dibutuhkan seorang pemain muda untuk mengembangkan kemampuan. Kompleks latihan Varkenoord memiliki lima lapangan sesuai segala jenis cuaca, satu lapangan standar, tiga lapangan rumput artifisial, enam kamar ganti, ruang pertemuan, ruang analisis video, empat ruangan kantor, ruang medis, ruang kebugaran, ruang perlengkapan, serta kantin.

ROBIN VAN PERSIE:
Alumnus Varkenoord paling terkenal

Striker andalan timnas Belanda ini memperkuat Feyenoord pada 2001-2004 dengan mencicipi gelar Piala UEFA 2002. Masuk akademi Varkenoord sejak usia lima tahun dan diorbitkan pelatih Bert van Marwijk sebagai pemain sayap.
Akademi Feyenoord bekerja sama dengan klub sekota, SBV Excelsior, dengan tim kelompok berjenjang, mulai dari usia U-8 hingga U-19. Metode latihan dibedakan sesuai dengan usia para pemain. Anggota tim U-18 hingga U-12 berlatih setiap petang karena mereka juga tidak boleh ketinggalan dalam hal pelajaran di sekolah formal. Mulai U-13 hingga U-19, tim diberikan materi latihan di siang hari. Waktu latihan disesuaikan dengan sekolah masing-masing. Akademi memberikan kebutuhan pemain di luar lapangan, seperti psikolog, ahli gizi, analis video, pelatih   fisik, serta pelatih khusus yang dirotasi setiap enam pekan. Feyenoord juga menyediakan waktu kepada para pemain untuk menikmati kehidupan sosial mereka, seperti mengikuti acara keluarga. Dalam semusim ada dua kali sesi Rencana Pengembangan Personal untuk mendiskusikan perkembangan sang anak. Orangtua diharuskan hadir dalam sesi tersebut.

Kedatangan Stanley Brard ke Varkenoord awalnya ditentang suporter. Brard dianggap titipan dari presiden Jorien van den Herik yang tidak disukai para suporter karena rencana finansialnya yang tidak populer. Kondisi keuangan Feyenoord terus memburuk meski sukses menjuarai Piala UEFA 2002. Hampir saja Feyenoord terjebak dalam kebangkrutan pada 2010 sebelum pelan-pelan mampu bangkit berbenah.

Georginio Wijnaldum merupakan pemain muda pertama yang diorbitkan Feyenoord pascakedatangan Brard. Pada 8 April 2007, dalam usia 16 tahun, Wijnaldum mengukir rekor sebagai pemain termuda sepanjang sejarah yang pernah tampil untuk skuat utama Feyenoord. Seorang rekan seangkatan menyusul jejak Wijnaldum, delapan bulan berselang, yaitu Leroy Fer. Pada 2011, Feyenoord menangguk keuntungan lebih dari €10 juta hasil penjualan Wijnaldum dan Fer ke PSV Eindhoven dan FC Twente. Kini keduanya menjadi andalan Jong Oranje di Kejuaraan Eropa U-21 yang dimulai di Israel tengah pekan ini.

PARA PERMATA FEYENOORD
Stefan de Vrij
Bruno Martins Indi
Jordy Clasie
5 Februari 1992 8 Februari 1992 27 Juni 1991
Anass Achahbar Tonny Vilhena Jean-Paul Boetius
 13 Januari 1994  3 Januari 1995  22 Maret 1994

Kondisi keuangan yang buruk tidak lantas memperburuk kinerja Brard dan stafnya di akademi Varkenoord. Mereka berhasil menyusun visi yang jelas sehingga kehilangan dua bintang akademi seperti Wijnaldum dan Fer tak begitu terasa karena bakat lain segera bermunculan. Kondisi keuangan yang parah justru mendorong Feyenoord untuk memproduksi pemain secara mandiri. Brard memperhalus moto klub "Geen Woorden, Maar Daden", tindakan bersuara lebih lantang daripada kata-kata, menjadi materi latihan yang tidak terlalu membebani para pemain muda. Sesi latihan dibikin lebih efisien ditambah lagi dengan tambahan sesi individual dan diet sesuai kebutuhan masing-masing.

Secara menakjubkan kinerja Varkenoord menopang kursi kepelatihan Ronald Koeman yang datang menangani tim utama mulai musim 2011-12. Sembilan bulan sebelum kedatangan Koeman, Feyenoord menjadi bulan-bulanan PSV dengan skor kekalahan terburuk sepanjang masa, 10-0. Koeman tak ragu menggunakan para pemain hasil pendidikan akademi klub, seperti Stefan de Vrij, Bruno Martins Indi, dan Jordy Clasie. Secara menakjubkan Feyenoord bertengger di peringkat kedua klasemen akhir Eredivisie musim itu dan lolos ke kualifikasi Liga Champions!

Meski gagal melangkah dari kualifikasi Liga Champions, Feyenoord menciptakan prestasi tak kalah mengagumkan pada pertengahan 2012. Seiring dengan kegagalan Belanda di Euro 2012 dan kedatangan Louis van Gaal menggantikan Bert van Marwijk, para pemain Feyenoord mulai menjadi tulang punggung Oranje. De Vrij dan Martins Indi memulai debut internasional mereka saat dikalahkan Belgia 4-2, Agustus tahun lalu. Di kualifikasi Piala Dunia 2014, para pemain muda Feyenoord lainnya secara bergantian memulai debut, seperti Daryl Janmaat dan Jordy Clasie. Duet De Vrij dan Martins Indi kian tak tergantikan di sentral pertahanan, sedangkan Daryl Janmaat makin mantap di posisi bek kanan. Dua pemain yang melejit musim 2012/13, Tonny Vilhena dan Jean-Paul Boetius mulai mengintip kesempatan.

Tantangan yang dihadapi Feyenoord dalam melindung pemain muda mereka adalah uang. Klub-klub Eropa sudah mengintai calon bintang mereka dengan iming-iming gaji yang menggiurkan. Belum lagi reputasi klub peminat. Dengan cara inilah Feyenoord kehilangan Kyle Ebecilio, Karim Rekik, serta Jeffrey Bruma dan Nathan Ake yang memilih pindah ke Arsenal, Manchester City, dan Chelsea saat mereka masih berusia 15-16 tahun. Pelajaran dapat diambil ketika Feyenoord kehilangan Royston Drenthe yang tergiur jutaan euro dari Real Madrid pada 2007. Kini Drenthe luntang-lantung mencari posisi permanen untuk dapat bermain secara reguler. Padahal bagi pemain muda, kesempatan bermain merupakan hal yang paling berharga, lebih daripada sekadar uang.

PARA ALUMNI VARKENOORD
Royston Drenthe
Jeffrey Bruma
Nathan Ake
(Alania Vladivazkaz) (Hamburg/Chelsea) (Chelsea)
Karim Rekik
Kyle Ebecilio
Luc Castaignos
 (Manchester City)  (Twente)  (Twente)
Jonathan de Guzman Leroy Fer Georginio Wijnaldum
 (Swansea)  (Twente) (PSV)

Tak kurang dari legenda seperti Johan Cruyff memuji keberhasilan Varkenoord. "Itulah satu-satunya cara mengurus sepakbola. Cara lain yang dilakukan di Belanda kelihatan tidak masuk akal. Terkadang saya berpikir uang telah merusak pesepakbola muda," ujarnya Januari lalu.

Dapat dikatakan Feyenoord menemukan waktu yang sangat tepat untuk bersinar terang. Kesulitan finansial justru mendorong mereka menggunakan para pemain akademi yang telah mendapatkan materi latihan mumpuni. Di sisi lain, timnas Belanda tengah giat melakukan regenerasi. Varkenoord tak pelak merebut penghargaan sebagai akademi terbaik di Belanda untuk kali keempat secara beruntun tahun ini.

"Penghargaan ini makin terasa indah dari tahun ke tahun," cetus Brard.

"Artinya sukses terus berkelanjutan. Tahun ini merupakan pencapaian yang lebih besar dibandingkan saat kali pertama kami memenanginya. Musim lalu kami berhasil menang karena metode latihan kami sehingga para pemain muda mampu menembus skuat utama."

"Penghargaan ini menjadi apresiasi luar biasa untuk seluruh tim dan terutama staf di Valkenoord yang telah bekerja keras dalam menjadikan para pemain lebih baik. Untuk saya pribadi, penghargaan ini menjadi hadiah perpisahan saya yang indah dengan Feyenoord."

Feyenoord menghuni posisi ketiga klasemen akhir Eredivisie musim 2012-13 dan masih menunggu lebih lama untuk merengkuh trofi liga pertama dalam 14 tahun terakhir. Brard memutuskan pindah ke klub Azerbaijan, FC Gabala, musim panas ini untuk mendapati tantangan baru. Mungkin juga menyusul para bintang muda Feyenoord yang hengkang ke jenjang yang lebih tinggi. Tetapi, kesuksesan Varkenoord tidak semata-mata terletak pada kemampuan individual melainkan visi dan sistem mereka yang jelas.

Seperti ditulis Mark Lievisse Adriaanse, seorang penulis yang juga fans Feyenoord, De Vrij, Martins Indi, Clasie, dan bahkan Brard boleh saja pergi, tetapi semangat Varkenoord akan terus menyala. Marlon Slabberkoorn, Oussama Idrissi, Melvin Kingsale, Bart Nieuwkoop, Kamil Miazek, Milton Klooster, Robbert de Vos, Ali Ulusoy, dan Caner Yalamogi segera menjadi para pengganitnya.


Garuda vs. Oranje

Terkait