thumbnail Halo,
SPESIAL: Lima Alasan Saksikan Eredivisie Belanda 2012/13

SPESIAL: Lima Alasan Saksikan Eredivisie Belanda 2012/13

PROSHOTS

Inilah sejumlah alasan kenapa Anda harus menyaksikan Eredivisie Belanda musim 2012/13 ini.

Oleh
Stefan Coerts

Musim kompetisi Eredivisie Belanda yang baru dimulai Jumat (10/8) malam dengan mempertemukan dua tim asal Brabant, NAC Breda dan Willem II Tilburg. Tim favorit PSV Eindhoven akan bertanding keesokan harinya disusul kemudian Ajax Amsterdam, Feyenoord Rotterdam, FC Twente, dan AZ Alkmaar, Minggu.

Harus diakui, Eredivisie bukan lagi kompetisi yang gemerlap dan sukses seperti dahulu diakibatkan hijrahnya sejumlah pemain bintang, tapi tidak berarti tidak layak dipantau.

Klub-klub seperti Ajax, Feyenoord, dan PSV masih berada di deretan klub bereputasi Eropa. Bahkan klub yang lebih kecil seperti AZ Alkmaar dan FC Twente mulai menancapkan kuku masing-masing di kompetisi antarklub regional.

Eredivisie lebih daripada sekadar persaingan semua tim itu. Banyak alasan kenapa Anda harus menyaksikan Eredivisie musim 2012/13. GOAL.com membeberkan lima alasannya:


BINTANG MASA DEPAN


Bukan kebetulan kalau klub-klub top Eropa sering melirik Eredivisie saat ingin memperkuat skuat mereka tanpa perlu membelanjakan berpuluh juta euro. Ajax dan Feyenoord punya akademi taruna yang fantastis dan sudah terbukti mencetak sejumlah pemain berbakat selama beberapa tahun terakhir, sementara PSV, Twente, FC Groningen, dan SC Heerenveen juga dikenal memiliki staf pemantau bakat yang mumpuni.

Para bintang seperti Zlatan Ibrahimovic, Wesley Sneijder, dan Robin van Persie pernah berkiprah di Belanda. Untuk ukuran masa kini, banyak pemain berbakat yang beredar di Eredivisie. Christian Eriksen, Kevin Strootman, Jordy Clasie, dan Adam Maher merupakan pemain berpotensi dengan masa depan yang terbentang luas. Menarik ditunggu pencapaian mereka musim ini.

KEMBALINYA MARK VAN BOMMEL


Ketika Mark van Bommel meninggalkan Eredivisie musim panas 2005, ada keraguan apakah sang pemain mampu bertarung di kancah tertinggi sepakbola Eropa. Pemain yang kini berusia 35 tahun itu rupanya mampu menjawabnya dengan mengoleksi gelar juara liga di Spanyol, Jerman, dan Italia. Satu trofi Liga Champions juga pernah dicicipinya bersama Barcelona.

Tujuh tahun setelah meninggalkan Belanda, Van Bommel merasa sudah saatnya kembali ke negara asal. Mungkin dia bukan lagi pemain berkelas dunia seperti dulu, tapi dia masih punya banyak kemampuan yang bisa diberikan di Eredivisie. Keinginannya untuk selalu menang akan menjanjikan banyak momen menarik musim ini.

SEMUA TIM BERMAIN MENYERANG


Di beberapa negara Eropa lain, lazim diketahui tim-tim kecil tidak ragu bermain bertahan dengan 11 pemain selama 90 menit untuk meraih hasil bagus. Sikap ini tidak dikenal Eredivisie.

Terserah menganggapnya naif atau tidak, seperti ada konsensum awam di Belanda kalau kalah 5-4 dengan bermain menghibur lebih terhormat daripada bermain imbang tanpa gol dengan gaya main hanya membuat frustrasi tim lawan. Tentu saja, tim-tim tampil lebih disiplin menjelang akhir musim, tapi secara umum bisa diharapkan tim papan bawah pun akan mencoba mengalahkan tim papan atas dengan bermain menyerang.

PERSAINGAN JUARA PALING KETAT


Di Spanyol, 18 dari 20 tim sudah tahu sejak awal musim kalau posisi ketiga klasemen merupakan hasil terbaik yang bisa mereka capai. Sementara, Serie A Italia, Bundesliga Jerman, dan Liga Primer Inggris didominasi tim-tim yang sama. Situasi ini tidak terjadi di Belanda.

Dalam lima musim terakhir, empat tim yang berbeda mampu memenangi liga. Lebih baik lagi, enam tim sekaligus berebut gelar juara Eredivisie hingga akhir musim lalu. Persaingan itu dapat dibilang perebutan gelar juara liga paling sengit di dunia. Hal serupa dapat saja terulang musim ini.

GAYA BERTAHAN YANG BURUK


Memang ini bukan nilai jual yang bisa dibanggakan, tapi tidak ada gunanya menyangkal kalau terkadang terjadi pula kecerobohan sebuah tim dalam bertahan di Eredivisie sehingga memancing gelak tawa penonton.

Ingat ketika John Terry coba menahan Robin van Persie ketika Arsenal menang 5-3 atas Chelsea musim lalu, atau Per Mertesacker dalam beberapa pertandingan. Hal serupa bisa disaksikan di laga papan atas Eredivisie, seperti bagaimana bek kanan PSV Stanislav Manolev dikenal dengan gaya bermainnya yang "khas". Tidak usah heran kalau ternyata masalah utama timnas Belanda selama beberapa tahun terakhir adalah lini belakang mereka.


Ikuti Stefan Coerts di



SIAPA TERATAS DALAM DAFTAR
50 PEMAIN TERBAIK 2012
VERSI GOAL.COM?

Terkait