thumbnail Halo,

Kata "mustahil" sepertinya memang tak pernah ada dalam kamus Barcelona, dengan sekali lagi membuat khalayak sepakbola tak bisa percaya atas apa yang mereka lakukan.


OLEH    AHMAD REZA HIKMATYAR      Ikuti @rezahikmatyar di twitter

"Tak ada yang mustahil" jadi pepatah terkenal untuk mereka yang mulai didera rasa putus asa. Termasuk dalam olahraga terpopuler dunia, sepakbola, yang gemar hadirkan keajaiban. Walau tak selalu, faktanya ada begitu banyak momen di mana kemustahilan lenyap oleh keajaiban.

Dan dalam sedekade terakhir, Barcelona tampaknya jadi klub yang sudah menghapus kata "mustahil" dalam kamusnya. Bagaimana tidak? Apa yang sudah mereka capai dalam periode tersebut memang bisa dipandang sebagai kemustahilan.

Kita mulai dari koleksi 27 gelar Barca dalam sedekade terakhir, termasuk empat di antaranya trofi Liga Champions. Sepanjang sejarah, belum pernah ada klub yang mampu menyamai catatan tersebut termasuk rival abadinya, Real Madrid.

Kemudian Barca mampu melahirkan pemain yang mungkin terbaik dalam sejarah sepakbola, siapa lagi jika bukan Lionel Messi. Dia sanggup mengoleksi rerata 50 gol di setiap musimnya dan jadi pemain terbaik dunia sampai lima kali! Tak ada pemain yang setara dengannya, kecuali Anda menemukannya di PlayStation.

Terakhir hadir dalam duel menakjubkan di Camp Nou, Kamis (9/3) dini hari WIB. Barca hadirkan comeback yang mungkin terbaik dalam sejarah sepakbola, dengan melumat habis Paris Saint-Germain 6-1!

SIMAK JUGA: Fantastis, Barca Singkirkan PSG!

Dalam tajuk leg kedua babak 16 besar Liga Champions, Barca memiliki kewajiban menang minimal 5-0 di Camp Nou untuk lolos. Hal itu terjadi karena pada pertemuan pertama di Parc des Princes lalu, mereka dibantai 4-0 oleh PSG.

Khalayak sepakbola bahkan segelintir fans Barca enggan terlalu berharap bahwa keajaiban akan terjadi. Karena faktanya belum pernah ada tim dalam sejarah Liga Champions, yang berhasil lolos setelah kalah 4-0 di pertemuan pertama. Jadi sederhanya hal itu mustahil.

Barca pernah merasakannya sendiri di semi-final Liga Champions 2012/13. Kala itu pada leg pertama di Allianz Arena, Blaugrana dilumat habis 4-0 oleh Bayern Munich. Mereka pun tak berdaya di leg kedua karena kembali dihajar 3-0 (agregat 7-0), sekalipun bermain di Camp Nou.

Namun keyakinan tetap digadang seluruh awak Barca. Media resmi klub bahkan sampai membuat moto yang serupa dengan salah satu hits band Good Charlotte, "We Believe", jelang dihelatnya laga.

Satu pernyataan tersohor juga dilontarkan pelatihnya, Luis Enrique. "Melakukan comeback? Kenapa tidak? Kami akan mencobanya. Jika PSG mampu mencetak empat gol, kami bisa mencetak enam gol!" serunya, seperti dikutip Goal Spanyol.

SIMAK JUGA: Barca Lakukan Comeback Terbaik Di Sepakbola

Segalanya, entah bagaimana, lantas jadi kenyataan! Barca memulai laga dengan begitu menggebu, disertai dukungan heroik 96.290 publik Catalan yang membuat Camp Nou seakan tak miliki celah.

Tandukan Luis Suarez ketika pertandingan baru berjalan 154 detik jadi pemula. Menyerang dari segala arah lewat skema 3-4-3, Barca kemudian menambah keunggulannya jadi 2-0, lima menit jelang turun minum. Usaha spartan Andres Iniesta, membuat Layvin Kurzawa lakukan bunuh diri.

Penalti Lionel Messi di menit 50 akibat pelanggaran Thomas Meunier pada Neymar di kotak terlarang, membuat harapan untuk lolos makin nyata. Unggul 3-0, Barca butuh dua gol lagi untuk lolos atau cukup satu gol guna paksakan babak perpanjangan waktu.

Namun ketika pertandingan memasuki waktu satu jam, harapan untuk lolos seakan lenyap. Tembakan voli Edinson Cavani membuat Camp Nou terdiam, karena skor jadi berubah 3-1. Artinya Barca harus menambah tiga gol lagi atau menutup laga dengan skor 6-1 untuk bisa lolos. Sederhanya itu nyaris mustahil.

Beberapa suporter di Camp Nou pun tampak muai tinggalkan stadion dan Anda yang melihatnya melalui televisi, mungkin langsung mengganti channel ke duel Borussia Dortmund kontra Benfica.

SIMAK JUGA: Neymar Pemain Terbaik Barca Kontra PSG

Tapi ketika laga tinggal menyisakan dua menit waktu normal, Neymar jadi sosok krusial untuk bangkitkan Barca mengejar keajaiban. Tendangan bebasnya melesat manis ke jala Kevin Trapp, untuk bawa Barca unggul 4-1. Asa semakin membesar, setelah wasit pemimpin laga memberikan waktu lima menit masa injury time.

Di menit pertama masa injury time, pemain internasional Brasil itu kembali masuk papan skor lewat gol penaltinya untuk perbesar keunggulan jadi 5-1. Sedikit kontroversial memang, karena prosesnya diwarnai perdebatan diving Suarez di kotak penalti PSG. Tapi siapa yang peduli, karena tinggal satu gol lagi untuk hadirkan keajaiban.

Benar saja, orgasme kemudian hadir beberapa detik jelang peluit tanda berakhirnya pertandingan ditiup. Secara luar biasa Sergi Roberto yang lolos dari jebakan offside, sukses menyambut umpan matang Neymar, untuk membawa Barca menang 6-1! Ya, Los Cules pastikan kelolosannya dengan keunggulan agregat 6-5! Di titik itu, semua orang -- kecuali suporter PSG dan Real Madrid -- mendadak jadi fans sesaat Azulgrana.

Sekali lagi, Barca membuktikan bahwa mereka memang tak pernah mengenal kata "mustahil" dalam kamusnya. Apa yang tersaji di partai ini sangat sulit dipercaya, comeback yang membutuhkan enam gol, dengan tiga gol di antaranya terjadi di tujuh menit akhir laga. Sungguh sukses memainkan emosi penontonya hingga tangis bahagia pun tampak menerjang publik Camp Nou.

Walau bobot laganya tak seberat Manchester United di final Liga Champions 1998/99 atau Liverpool di final Liga Champions 2004/05, sepertinya kita patut sepakat dengan Rio Ferdinand yang menganggap duel ini sebagai comeback terbaik yang pernah ada di sepakbola. Patut diingat pula bahwa comeback ini membuat Barca melawan sejarah dan kemustahilan, soal nasib klub yang kalah 4-0 di leg pertama babak gugur Liga Champions.

Menutup momen ajaib ini, mari kita mengutip pernyataan Ruud Gullit bahwa "Theatre of Dreams bukan lagi di Old Trafford, Theatre of Dreams ada di Camp Nou, di Barcelona!"

 

Terkait