thumbnail Halo,

Laurie Cunningham menjadi pionir datangnya pesepakbola Britania Raya ke Santiago Bernabeu.


GOALOLEH   DEDE SUGITA


Senin (2/9) kemarin, hari pamungkas pasar transfer musim panas 2013, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah seorang pria Wales menjadi bagian skuat Real Madrid. Gareth Bale, pemuda 24 tahun kelahiran Cardiff, membuat Los Merengues rela berpisah dengan uang €100 juta, rekor baru transfer termahal sejagat raya, demi melihatnya merumput di Santiago Bernabeu.

Untuk pengusung bendera Britania Raya, bintang kidal pengoleksi total 26 gol dengan Tottenham Hospur musim lalu itu menjadi orang keenam yang mengenakan jersey Si Putih.

Siapa yang pertama? Bukan, bukan Steve McManaman. Melainkan Laurie Cunningham, yang telah menjejakkan kaki di Bernabeu dua dekade sebelum Macca datang, tepatnya pada musim panas 1979 saat ia diakuisisi dari West Bromwich Albion seharga £950 ribu.

Tentunya bukan tanpa alasan El Real memutuskan menggaet Cunningham. Karenanya tak heran sebelum menjadi pionir untuk kehadiran pesepakbola Britania Raya di raksasa ibu kota Spanyol, Cunningham terlebih dahulu membuat perbedaan di negara asalnya.

Menjadi pemain kulit hitam pada masa yang masih amat kental dengan rasisme, sosok kelahiran 8 Maret 1956 ini membuka mata publik lokal lewat performa istimewanya di lapangan sebagai winger.

Sempat ditolak Arsenal karena dianggap sebagai pemuda yang tak tepat waktu -- ia memang dikenal sering terlambat datang latihan karena kegemarannya mengikuti kontes dansa di malam hari, Cunningham remaja merintis karier profesionalnya bersama Leyton Orient.


Dipinang Madrid pada musim panas 1979

Oleh pelatihnya, George Petchey, yang memberinya kesempatan debut di usia 16 tahun, Cunningham diimbau untuk tabah menerima perlakuan rasis fans. Kalau dilempari pisang, sang bos meminta anak asuhnya itu untuk merespons dengan memberikannya kepada hakim garis. Sementara itu, mantan rekan setimnya di Lorient, Bobby Fisher, bercerita bahwa di sebuah lawatan ke kandang Millwall mereka membungkam ejekan publik tuan rumah dengan selebrasi "Black Power salute" setelah Cunningham melesakkan gol penentu kemenangan Lorient pada menit terakhir.

Menunjukkan prospek cerah bersama Lorient, nama Cunningham benar-benar melambung setelah digaet West Brom pada 1977. Di bawah asuhan manajer Ron Atkinson, ia menjalin kerja sama dengan dua pemain hitam lainnya, striker Cyrille Regis dan bek Brendon Batson, hingga trio legendaris ini mendapat julukan "The Three Degrees", yang berasal dari nama sebuah grup vokal tenar Amerika Serikat.

Dengan kehadiran tiga serangkai tersebut, WBA juga sekaligus menjadi tim kedua di kasta teratas Inggris yang rutin memainkan tiga pemain berkulit hitam sekaligus, setelah West Ham United dengan trio Clyde Best, Clive Charles, dan Ade Coker.

Amat memukau dengan aksinya menyusuri sisi sayap, melewati lawan, mengkreasi dan menyelesaikan serangan, Cunningham menjadi bagian integral skuat The Baggies yang saat itu menjulang sebagai salah satu klub dengan permainan teratraktif di Tanah Inggris. Salah satu momen paling berkilau dari Cunningham semasa berseragam WBA adalah kala membantu tim membungkam Manchester United 5-3 di Old Trafford pada Desember 1978.

Performa tersebut membuat Cunningham mulai dilirik Madrid, dan di bulan yang sama Los Blancos benar-benar dibuat jatuh hati tatkala ia mengobrak-abrik pertahanan Valencia dalam kemenangan 2-0 WBA di sebuah laga Piala UEFA.

"Itu laga yang dikenang semua orang. Dia elektrik, menunjukkan permainan berkelas sepanjang 90 menit. Semuanya berjalan baik. Perfoma itu mencuri perhatian orang yang tengah memantau untuk Real Madrid dan dia merekomendasikannya ke klub," cerita Regis, yang menjadi sahabat dekat Cunningham dari periode mereka di West Brom.


Mengundang decak kagum publik Camp Nou

El Real pun menunjukkan keseriusan untuk meminang Cunningham. Setelah negosiasi harga yang alot pada musim panas 1979, kedua klub akhirnya menemukan kesepakatan di nominal £950 ribu. Cunningham, di usia yang baru 22 tahun, akhirnya meretas petualangan baru di Negeri Matador.

"Itu hal fantastis baginya untuk dicapai, bermain untuk Real Madrid, tapi sedih juga rasanya karena West Brom ada chemistry fantastis di West Brom. Itu awal dari kehancuran. Dua atau tiga tahun kemudian Bryan Robson pindah, kemudian Remi Moses. Saya pikir klub tak pernah lagi sama setelah itu," kenang Regis.

Cunning sendiri mengawali kiprahnya di Madrid dengan sangat mengesankan. Dalam debutnya ia langsung mengemas dua gol, dengan Valencia kembali menjadi korban.

Namun itu mungkin bukan apa-apa jika dibandingkan dengan aksinya dalam duel el clasico di Camp Nou pada Februari 1980. Cunningham memang tak mencetak gol, namun memegang peran vital mengantar Madrid membungkam sang seteru abadi 2-0.

Terpukau dengan performa eksepsional bintang asal Inggris itu, publik tuan rumah bahkan tak sungkan memberikan standing ovation di akhir pertandingan. Diyakini bahwa sampai saat ini Cunningham menjadi satu-satunya penggawa Madrid yang memperoleh perlakuan itu dari suporter Barca.

"Seperti melihat [Johan] Cruyff tapi dengan kulit hitam. Bocah itu bisa melakukan apa pun dengan sebuah bola sepak," ujar seorang fans Barca kala itu.

Pujian dari Vicente Del Bosque, mantan rekan setimnya di Madrid yang sekarang menukangi tim nasional Spanyol, juga dapat menggambarkan kemampuan Cunningham: "Saya tak berpikir kualitasnya di bawah Cristiano Ronaldo."

Regis juga sependapat dengan Del Bosque. "Laurie mirip Cristiano Ronaldo dalam caranya melewati pemain lawan. Dia memiliki gaya, keanggunan, dan kecepatan. Dia berlari dengan ujung kakinya, dia seperti penari balet dengan trik-trik dan kecepatan mengagumkannya."

Musim debut Cunningham bersama Madrid pada 1979/80 berujung manis dengan raihan dobel gelar La Liga plus Copa del Rey. Cerita indah Cunningham di ibu kota Spanyol, sayangnya, tak berlanjut karena gangguan cedera yang mulai sering menghinggapinya sejak musim kedua bersama Madrid.

Pertama ia mengalami patah ibu jari kaki yang mengharuskannya naik meja operasi. Absen panjang, Cunningham pulih untuk memperkuat tim di final Liga Champions 1981 kontra Liverpool, tetapi ia terlihat jelas belum benar-benar fit meski dimainkan penuh. El Real takluk 1-0 di laga tersebut.

Setelahnya, di sesi pramusim jelang 1981/82 Cunningham terlilit cedera paha sehingga mendekam di ruang terapi nyaris sepanjang musim. Cerita tak berbeda dialaminya di kampanye 1982/83. Cunningham lebih banyak ditepikan hingga akhirnya dipinjamkan ke Manchester United pada April 1983 untuk bereuni dengan pelatih Ron Atkinson. Kembali ke Madrid di akhir musim, Cunningham dipinjamkan lagi ke Sporting Gijon sebelum akhirnya dilego permanen ke Olympique Marseille pada 1984.

Dari sana ia tak pernah lama menetap di suatu klub. Berturut-turut setelah Marseille, Cunningham hijrah Leicester City, Rayo Vallecano, Charleroi, Wimbledon, dan kembali lagi ke Rayo.

Sementara itu, karier internasional Cunningham juga tidak berjalan mulus. Melakoni debut gemilang bersama skuat Inggris U-21 pada April 1977 (menjadikannya pemain hitam pertama yang beraksi dengan Young Lions) dan langsung menandainya dengan sebuah gol ke gawang Wales, Cunningham untuk pertama kalinya membela tim senior dua tahun berselang. Namun, setelahnya ia lebih sering terabaikan dan total cuma mengoleksi enam cap tanpa pernah mencetak gol.


Pemain pertama yang membela Real Madrid dan Manchester United

Bukan hanya karier, kisah hidup seorang Laurie Cunningham berakhir tragis ketika sebuah kecelakaan maut di Madrid merenggut nyawanya pada 15 Juli 1989. Kala itu ia masih berstatus penggawa Rayo Vallecano.

"Ketika Anda melihat sahabat Anda, yang hidupnya dalam banyak cara berjalan paralel dengan hidup Anda, dan dia pergi dan semua uang, mobil, rumah, dan hal-hal yang ditinggalkannya, itu membuat Anda bertanya-tanya tentang kehidupan, jadi sekitar 15 bulan kemudian [setelah kematian Cunningham] saya menjadi seorang umat Kristiani yang terlahir kembali," ujar Regis.

Di balik potensi Cunningham yang tak mencapai batas maksimal, Regis menyadari benar bahwa sang sahabat telah menghadirkan perubahan dan membuka mata orang-orang yang sebelumnya memandang sebelah mata pesepakbola kulit hitam.

"Saya melihatnya tak pernah menyadari potensinya. Tapi coba berbicara kepada generasi kedua pemain-pemain hitam yang muncul setelah kami, orang-orang seperti Ian Wright, dan mereka akan mengatakan bahwa saat mereka melihat orang-orang seperti Laurie di lapangan, mereka jadi berpikir 'kalau dia bisa melakukannya, saya juga bisa'."


LAURIE CUNNINGHAM

Nama: Laurence Paul Cunningham

Tempat, Tanggal Lahir: Archway, London, 8 Maret 1956

Posisi: Sayap kiri

Klub:
Leyton Orient (1974-77)
West Bromwich Albion (1977-79)
Real Madrid (1979-84)
Manchester United (pinjam, 1983)
Sporting Gijon (pinjam, 1983-84)
Olympique Marseille (1984-85)
Leicester City (1985-86)
Rayo Vallecano (1986-87)
Charleroi (1987)
Wimbledon (1988)
Rayo Vallecano (1988-89)

Tim nasional:
Inggris U-21 (1977-78)
Inggris B (1978)
Inggris (1979-80)
Koleksi Gelar

Real Madrid
La Liga Spanyol (1):
1980
Copa del Rey (2):
1980, 1981

Wimbledon
Piala FA (1): 1988




La Liga Spanyol >> Halaman Khusus Sepakbola Spanyol
>> Berita Sepakbola Spanyol Lainnya
>> Semua Klub Primera Liga & Panduan 2013/14
>> Klasemen La Liga Spanyol
>> Jadwal & Hasil La Liga Spanyol
>> Daftar Transfer La Liga Spanyol
>> Rapor Pemain La Liga Spanyol

Terkait