thumbnail Halo,

Sistem pembinaan pemain muda Barcelona itu disebut-sebut sebagai yang terbaik di dunia, setidaknya untuk dekade ini.


OLEH    ADHE MAKAYASA     Ikuti Adhe Makayasa di twitter

Dengan kesuksesan Barcelona melebarkan jaraknya dengan juara Primera Liga musim lalu, Real Madrid, serta gemilangnya Lionel Messi berkat lesakan 91 golnya hingga penghujung Desember, kiranya ini adalah momen yang tepat untuk membahas asal-muasal talenta dunia yang dimiliki Blaugrana: Akademi La Masia.



Did You Know?
Barcelona telah menginvestasikan 244 juta euro-nya untuk membangun skuat seperti sekarang ini (non-La Masia), sedangkan rival berat mereka macam Real Madrid telah menghamburkan 501 juta euro untuk menyatukan pemain-pemain bintang agar bisa bersaing di level yang sama.

Barcelona mungkin tidak akan sesukses ini jika bukan karena perencanaan jangka panjang di bawah ratusan pelatih, guru, mentor, juru masak, dokter, psikolog dan, terlepas dari itu semua, bibit-bibit muda dengan hati-hati dipilih di La Masia.

Dikisahkan, pembentukan La Masia itu sendiri berasal dari konsep presiden Lluis Nunez yang mengacu saran Johan Cruyff pada 1979, yang akhirnya sukses menghasilkan pemain-pemain legendaris seperti Pep Guardiola, Carles Puyol, Xavi Hernandez dan tentu saja Lionel Messi--nama terakhir diboyong saat ia berusia 13 tahun.

Memasuki penghujung 2012 yang akan berganti ke tahun 2013, akademi Barcelona mungkin telah menahbiskan diri sebagai panutan bagi banyak klub, setidaknya untuk meniru pola pendidikan yang mereka terapkan.

Tidak seperti badan terdidik lain seperti FBI yang terkenal ketat, La Masia bisa dibilang terbuka mengenai pengembangan bibitnya, hal itu tidak menjadi masalah karena tidak ada rahasia selain sistem seleksi yang terperinci, pengorbanan, fokus pada keberhasilan akademis di siang hari, dan bermain bola mengikuti tradisi filosofi pass and move setiap malamnya.

Direktur La Masia saat ini Guillermo Amor, yang juga lulusan serta mantan bintang Barcelona, pernah menjelaskan seperti ini: “Saya tidak merasa ini adalah rahasia. Hal ini lebih mengenai kepercayaan akan apa yang Anda lakukan dalam pekerjaan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun, dan juga bertaruh pada anak-anak muda di akademi, karena pembuktian hasil akhir ada di sana [skuat inti Barca],” ujarnya seperti dilansir ESPN.

Lebih jauh, Amor menambahkan: “Banyak pemain-pemain di tim utama asalnya dari sini, dari rumah kami. Kami melihat bahwa anak-anak di dalam akademi ini memiliki begitu banyak kualitas dan potensi untuk suatu hari nanti mencapai tim utama.”

LULUSAN LA MASIA
- Valdes - Pique - Puyol
- Xavi
Fabregas - Busquets
- Pedro Iniesta - Jordi Alba
- Montoya - Bartra - Muniesa
- Jonathan - Thiago - Cuenca
- Lionel Messi

Dari 25 nama di inti tim Barcelona untuk saat ini, setidaknya ada 16 pemain yang sukses mencapai level sepakbola profesional, yang tentunya sebagian besar dari mereka telah menyelesaikan penggemblengan penting di La Masia.

Tentu, pemain-pemain seperti Cesc Fabregas, Gerard Pique ataupun Jordi Alba harus membuktikan diri mereka terlebih dahulu di klub lain sebelum dirasa layak kembali ke Camp Nou. Namun, konsep yang diperoleh di akademi La Masia pastinya membantu mereka untuk jadi sosok idaman seperti sekarang.

Selain itu, pada ajang pemilihan Ballon d’Or 2010 lalu, kesuksesan besar diraih oleh lulusan La Masia, dengan tiga pemain andalan tim inti Barcelona, yakni Lionel Messi, Andres Iniesta, dan Xavi Hernandez menjadi tiga pesepakbola top di planet bumi. “Bagi kami, itu adalah momen yang sangat spesial,” ujar Amor mengenai kesuksesan tersebut.

“Fakta bahwa seseorang yang lulus dari sistem kami, mencapai tim utama, meraih begitu banyak dan memenangi gelar individu terbesar di dunia sepakbola, tentu tidak ada duanya. Namun, ketika memiliki tiga perwakilan? Luar biasa. Mereka semua pantas meraihnya. Messi itu jenius. Dialah yang terbaik dan pantas meraihnya, tapi Xavi dan juga Iniesta bisa memahami itu.

“Hal itu [penghargaan Ballon d’Or 2010] juga membantu kami, karena anak-anak muda terutama di akademi kami bisa melihat kesuksesan yang telah diraih tim utama, yang tentu diraih berkat kerja keras.”

 

Filosofi

“Para pemain yang telah lulus dari La Masia memiliki sesuatu yang berbeda dari kebanyakan, hal itu adalah sebuah nilai yang dimiliki setelah mereka menjalani kompetisi dengan seragam Barcelona sejak kecil,” kata mantan pelatih Barca Pep Guardiola.

Untuk diketahui, di akademi tersebut, youngsters dari berbagai usia diajarkan bawha teknik adalah prasyarat penting. Prinsip Total Football sejak dini mulai ditanamkan kepada para bibit muda, bersamaan dengan tradisi sentuhan satu-dua ala tiki-taka.

Meski Total Football berasal dari Belanda dan membutuhkan pergerakan tiap pemain, juga pergantian posisi yang cepat, tiki-taka lebih melekat dengan Barca karena gaya attacking yang bertujuan untuk mencetak gol melalui umpan pendek serta movement, di mana Xavi dan Iniesta menjadi dirijen handal, dan Messi sebagai penyelesai ulung.

 

Era Rijkaard, Guardiola, Hingga Vilanova


Dimulai dari sentuhan Frank Rijkaard yang kental akan aroma Total Football-nya, pria Belanda itu pun memberanikan diri untuk mempromosikan Messi pada 16 Oktober 2004. Di usia calon bintang Argentina yang masih 17 tahun dan 114 hari kala itu, Rijkaard tidak takut untuk mulai mengenalkan gaya permainan menyerang karena skuatnya terbilang lengkap, mulai dari pemain yang jago menggiring, mengumpan, mengeksekusi bola-bola mati hingga bertahan.

Dan baru saat era Pep Guardiola, mantan gelandang yang juga jebolan La Masia itu mulai mengedit serta mempercanggih gaya yang ada, yang tentunya mengandalkan SDM dari lulusan akademi. Terlihat jelas, skuat Barca di bawah era Pep lebih atraktif dan lebih berbahaya di depan gawang, karena anak asuhnya juga sudah saling mengenal sejak lama, bahkan sejak bocah.

Selain itu, Guardiola juga merupakan orang penting dalam mempromosikan pemain akademi ke tim utama, dengan memberi mereka kepercayaan seiring berjalannya waktu. Adapun, kepercayaan yang ia tanam kepada Pedro ataupun Sergio Busquets terbukti berharga bagi perkembangan mereka, dan yang paling penting, peningkatan kualitas pun terjadi di mana Barcelona memenangi 14 dari 19 gelar yang bisa diraih di bawah kepemimpinannya.

Kini, pekerjaan untuk terus melanjutkan filosofi itu diambil alih oleh Tito Vilanova sebagaimana caretaker Jordi Roura, yang bakal melanjutkan pekerjaan duo pendahulunya. Bermula dengan memainkan Martin Montoya untuk menggantikan Dani Alves pada El Clasico lalu, hal itu semakin mempertegas bahwa rantai La Masia belum akan terputus untuk beberapa tahun ke depan.

Di sisi lain, bek tengah seperti Marc Bartra juga tengah menanti di daftar tunggu. Selain Bartra, ada winger Gerard Deulofeu, Rafael Alcantara, Cristian Tello hingga striker powerful Jean-Marie Dongou yang siap melanjutkan filosofi La Masia.

Kini, para youngsters itu tengah memperdalam ilmunya di Barcelona B--meski ada juga yang keluar masuk tim utama. Lebih jauh, dapat dipastikan, cepat atau lambat mereka akan mendapat kesempatan untuk tampil bareng Messi. Just wait and see...

 

 

 

 

Ikuti perkembangan terkini sepakbola Spanyol di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita La Liga Spanyol lengkap dengan jadwal, hasil, klasemen semua kompetisi di Spanyol.

Terkait