thumbnail Halo,

Dengan mendatangkan Alex Song, Barcelona mendapatkan gelandang yang secara taktik dan teknik tidak terlalu baik.

Oleh
Carlo Garganese

Kalau Anda anggota fans club Alexandre Song, segera tutup artikel ini karena pada 700 kata berikutnya tulisan ini bukan bacaan yang menyenangkan. Kalau Anda pendukung Arsenal, bertahan lah karena artikel ini setidaknya dapat menggembirakan setelah tujuh hari terakhir yang merisaukan.

Paragraf di atas seperti sebuah paradoks karena dalam beberapa tahun terakhir, Song menjadi salah satu pujaan fans Emirates. Terbukti dia finis kedua di belakang Robin van Persie sebagai pemain terbaik Arsenal musim 2011/12 plihan para fans.

Laman resmi Arsenal tak ketinggalan memberi ucapan kepada Song, "Selama bertahun-tahun, Alex menjadi jangkar penting bagi lini tengah Arsenal dengan memberikan bantuan pertahanan pada tim yang bernaluri menyerang."

Analisis itu bernuansa positif karena ditujukan kepada anggota klub sendiri, tapi pendapat orang berbeda-beda. Fakta yang menyakitkan adalah sesungguhnya Alex Song tidak mampu menjadi jangkar lini tengah dan tak mampu memberikan bantuan pertahanan. Dalam empat musim terakhir, Arsenal kebobolan 170 gol. Dalam setiap musim itu, kecuali musim 2009/10 ketika Tottenham Hotspur kebobolan jumlah yang sama, Arsenal kebobolan lebih banyak daripada tim empat besar.

Alasan utama bukan lah pada lima pemain bertahan yang dipasang dalam taktik naif Arsene Wenger, meski mungkin ini salah satu alasan kuncinya, tapi juga karena Song tidak bisa melindungi lini pertahanan.

Dalam sepakbola modern ketika tidak banyak stoper murni yang tersedia, cara menggalang pertahanan terbaik adalah dengan mengendalikan lini tengah. Ini kenapa banyak tim dengan lini belakang yang rapuh masih bisa menuai sukses. Contohnya, Belanda yang lolos ke Piala Dunia 2010 dengan Mark van Bommel dan Nigel de Jong tampil melindungi lini pertahanan mereka yang biasa-biasa saja, terdiri dari kuartet Gregory van der Wiel, Johnny Heitinga, Joris Mathijsen, dan Giovanni van Bronckhorst.

Kedisiplinan Song dipertanyakan untuk seorang jangkar. Ketika rekan setimnya menguasai bola, dia tidak bisa menahan diri untuk bergabung menyerang. Dengan demikian, posnya ditinggalkan dan tim menjadi rentan serangan balik. Ketika lawan menguasai bola, kesadaran ruang Song, pengambilan posisi, dan kemampuan membaca permainan sungguh buruk.
Kemampuan ini tidak bisa diajarkan, tergantung pada pemain sendiri apakah memilikinya atau tidak. Kecepatan dan akselarasi Song yang jelek juga membuatnya sulit memulihkan situasi saat keadaan berbalik.

Terlalu banyak contoh pertandingan yang bisa diangkat ketika Arsenal menderita akibat celah yang ditinggalkan Song. Paling mudah adalah pada kekalahan 4-0 dari AC Milan di Liga Champions, Februari lalu.

Fans memuji kemampuan Song memberikan 14 assist musim lalu sebagai bukti kualitas yang dimiliki, tapi tugasnya di Arsenal adalah mencegah terjadinya gol, bukan menciptakannya. Rogerio Ceni mencetak lebih dari 100 gol untuk Sao Paulo, tapi itu tak membuatnya jadi kiper hebat.

Keputusan Barcelona merekrut Song sungguh aneh. Salah satu aspek dalam filosofi Barcelona yang paling disorot adalah taktik menekan mereka. Bukan hanya Song lambat dan sulit diandalkan, dia sering dianggap terlalu malas. Kalau ingin meraih sukses di Camp Nou, hal itu tidak bisa ditolerir.

Pemain 24 tahun ini tidak memainkan bola dengan cepat dan bertentangan dengan tiki-taka Blaugrana. Meski jelas Song pengumpan yang lebih baik dibandingkan Javier Mascherano, diragukan apakah dia seperti halnya pemain Argentina itu kesulitan mengimbangi permainan cepat Xavi, Andres Iniesta, Sergio Busquets, Lionel Messi, dan kawan-kawan.

Song tampak bertentangan dengan tiki-taka Blaugrana. Dia akan kesulitan mengimbangi permainan cepat rekan-rekannya.

Mascherano harus dipindah ke lini pertahanan sebagai pengganti kapten Carles Puyol yang cedera dan sepertinya dia lebih mantap di posisi itu. Tetap terbuka kemungkinan Song dimainkan sebagai bek, tapi ini tidak bisa direkomendasikan untuk pertandingan penting menghadapi Real Madrid, Bayern Munich, atau Manchester City, misalnya. Dilihat dari pengalamannya bermain di lini belakang, Song bermain kikuk dan tidak nyaman.

Song akan mengawali karier di Barcelona sebagai anggota skuat dengan peluang bermain yang terbatas. Harga 19 juta tampaknya terlalu besar dibelanjakan untuk seorang pemain cadangan dan Tito Vilanova, yang secara pribadi meminta sendiri perekrutan sang pemain, terancam diserang kritik.

Pep Guardiola memang pernah melakukan transfer terburuk, paling terkenal ketika merekrut Dmytro Chygrynskiy dengan transfer senilai 25 juta, tapi sulit dibayangkan kalau Guardiola pernah sangsi dalam mempertimbangkan perekrutan pemain overrated dan tidak cocok seperti Song. Bukan hanya sekali ini terjadi dalam transfer antara Arsenal dan Barcelona, tapi lagi-lagi klub Inggris itu lah yang paling menerima keuntungan dalam transfer ini.


Twitter Ikuti Carlo Garganese di twitter.


Ikuti perkembangan terkini sepakbola Spanyol di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita La Liga Spanyol lengkap dengan jadwal, hasil, klasemen semua kompetisi di Spanyol.

Terkait