Apakah Italia Butuh Oriundi - Franco Vazquez & Eder Citadin?

Pelatih timnas Italia, Antonio Conte, menyertakan sepasang Oriundi baru jelang duel terkini. Apakah Gli Azzurri sungguh membutuhkannya?

GOALOLEH   AHMAD REZA HIKMATYAR     Ikuti @rezahikmatyar di twitter

Sabtu (21/3), Antonio Conte kembali melakukan gebrakan di masa awal kepelatihannya saat merilis skuat terbaru timnas Italia guna laga akhir Maret. Dalam jeda internasional esok, Gli Azzurri bakal menghadapi duel kualfikasi Euro 2016 kontra Bulgaria (28/3) dan uji coba melawan Inggris (31/3).

Gebrakan yang dilakukan Conte kali ini sejatinya sudah lazim dilakukan pelatih-pelatih Italia terdahulu, namun selalu saja memicu kontroversi. Ya, dalam rilis terbaru skuatnya yang berjumlah 26 pemain, mantan nakhoda Juventus itu menyertakan dua oriundi dalam diri Franco Vazquez dan Eder Citadin Martins.

Vazquez yang merupakan gelandang andalan Palermo adalah pemain yang lahir dan besar di Argentina. Namun dirinya memiliki dua paspor, yang salah satunya adalah paspor Italia. Hal itu terjadi karena sang ibu memang warga asli Negeri Pizza. Sementara Eder adalah striker Sampdoria asal Brasil, yang memperoleh paspor Italia berkat kakek dan neneknya yang berkebangsaan Italia.

Pemanggilan tersebut kemudian menuai pro dan kontra. Di satu sisi keputusan ini disebut layak karena kebutuhan taktikal sang pelatih, tapi di sisi lain para Italiano asli merasa tercoreng kemurnian negaranya melalui deretan oriundi di tim nasional sepakbolanya. Lebih tegas, keputusan ini secara gamblang memaparkan kemunduran pembinaan sepakbola usia muda di Italia.

Pertanyaan mengapung dalam bentuk yang lebih spesifik, apakah timnas Italia memang benar-benar membutuhkan kehadiran oriundi baru pada momen ini?


                                             Oriundi di Italia sudah seperti tradisi

Istilah oriundi digunakan untuk menyebut imigran -- dalam konteks ini pesepakbola asing -- yang memiliki garis keturunan atau telah menetap lama di Italia. Julukan ini lazim digunakan di Italia dan Spanyol pada pesepakbola yang umumnya keturunan Amerika Latin. Secara harafiah oriundo atau oriundi dalam bentuk plural, adalah singkatan yang berasal dari bahasa latin, oriri, yang artinya "untuk dilahirkan".

Untuk mendapatkan paspor Italia dan akhirnya disebut oriundo, seorang pemain harus membuktikan bahwa orang tua atau nenek moyang mereka merupakan orang Italia, yang beremigrasi atau sudah menetap dalam jangka waktu tertentu, di negara yang beribukotakan Roma tersebut.

Sejak berdiri pada 1904, otoritas tertinggi sepakbola, FIFA, memperbolehkan seorang pesepakbola membela tim nasionalnya baik secara de jure maupun de facto. Itulah sebabnya seorang pemain bisa membela lebih dari satu negara dalam kariernya. Contoh paling dikenal adalah kasus Ference Puskas, yang sempat membela timnas Spanyol dan Hungaria.

Namun mulai 1964, FIFA mengubah aturan dengan lebih tegas bahwa seorang pesepakbola hanya boleh membela satu negara saja dalam kariernya, tentunya dalam pertandingan resmi yang diakui FIFA. Karenanya, istilah oriundi semakin nyaring di telinga dengan keputusan si pesepakbola yang memiliki dua atau lebih paspor, untuk memilih satu-satunya negara yang akan dibelanya hingga akhir karier kelak.

Di timnas Italia sendiri oriundi sudah muncul sejak 95 tahun lalu. Oriundi pertama adalah seorang Swiss bernama Ermanno Aebi, yang melakukan debut untuk La Nazionale pada 1920. Hingga kini tercatat sudah ada 43 oriundi yang sukses mengukir caps. Argentina jadi negara penyumbang terbanyak (22 pemain), diikuti Brasil (sembilan pemain), Uruguay (delapan pemain), dan Swiss, Paraguay, Skotlandia serta Afrika Selatan (masing-masing satu pemain).

Pemain kelahiran Argentina yang besar di Meksiko, Mauro German Camoranesi, mungkin bisa disebut sebagai oriundi tersukses. Bukan hanya tercatat sebagai oriundi dengan caps terbanyak sejumlah 55 kali, legenda Juve itu juga sukses mempersembahkan gelar Piala Dunia 2006. Namun kehadiran oriundi juga tak selalu berefek positif bagi Italia. Banyak juga di antara mereka yang dicap gagal. Pada era masa kini kita bisa menyebut nama-nama macam Ezequiel Schelotto, Cristian Ledesma, Carvalho Amauri, hingga Pablo Osvaldo.

Pemahaman yang selama ini salah dan harus diluruskan adalah penyebutan bagi mereka para pesepakbola Anglo-Italia. Pemain-pemain macam Matteo Ferrari, Angelo Ogbonna, hingga Mario Balotelli tidak disebut sebagai oriundi, melainkan Nuovi Italiani, yang artinya "orang Italia baru". Mereka memang tidak memiliki orang tua atau nenek moyang asli Italia, tapi lahir dan tumbuh besar di Negeri Spaghetti.

Berdasar hamparan fakta di atas, maka dapat kita simpulkan jika pemanggilan Vazquez dan Eder merupakan sesuatu yang legal, lazim, dan bahkan sudah jadi tradisi di timnas Italia.



"Pemain yang membela timnas Italia harus terdiri atas pemain yang memang dilahirkan di sini. Mereka yang tidak lahir di Italia, tapi punya garis keturunan jauh seharusnya tidak dipanggil," kecam pelatih FC Internazionale, Roberto Mancini, menanggapi keputusan Conte.

Tak ingin tersulut emosi yang seakan jadi ciri khasnya, Conte membalas dengan komentar bijak. "Saya menghormati semua opini yang ada. Saya yang bertanggung jawab atas pemanggilan semua pemain ini, mengevaluasi dan memutuskan akan memainkan mereka atau tidak," paparnya.

Tidak bisa dibohongi, Conte kini memang terjebak dalam situasi rumit. Dalam hati kecilnya jelas, ia pasti lebih suka memanggil pemain asli Italia atau penggawa Gli Azzurrini. Tapi kondisinya memang tak mendukung, karena stok pemain berkualitas Italia harus diakui terbatas. Pelatih berusia 45 tahun ini juga tengah mendapati sorotan tajam, manakala Italia harus bersusah payah menang atas deretan tim kecil, macam Azerbaijan, Malta dan Albania.

Dalam skema wajib 3-5-2 miliknya, Conte butuh sosok krusial sebagai penghubung lini tengah dan lini depan. Selain Vazquez dan Eder -- dalam momen ini -- tak ada lagi pemain natural Italia lainnya yang bisa memainkan peran itu. Pada formasi tersebut, posisi tiga gelandang tengah haruslah memiliki tipe yang berbeda.

Pertama adalah pengatur tempo, dari sembilan gelandang yang dipanggil, Conte sudah mendapatkannya dalam diri Marco Verratti, Claudio Marchisio, hingga debutan Mirko Valdifiori. Kedua, sosok gelandang box to box, jiwa itu ada pada sosok Marco Parolo, Andrea Bertolacci, bahkan Roberto Soriano. Dan yang ketiga adalah sang penghubung antar lini, peran yang dimaksud inilah masalah terbesarnya

Dahulu di Juve Conte memiliki Paul Pogba dan Arturo Vidal, tapi di Italia ia tak diberi kemewahan tersebut. Antonio Candreva jadi sosok yang paling sering mengisi kekosongan ini. Namun harus diakui, pemain Lazio itu dua kali lipat lebih bagus jika ditempatkan pada posisi naturalnya sebagai gelandang sayap kanan. Emanuel Giaccherini dan Alberto Aquilani jadi pilhan selanjutnya. Tapi tersisihnya kedua pemain dari skuat utama masing-masing klub, membuat Conte urung memanggilnya. Stefano Sturaro, Lorenzo Criestig, dan Federico Bernardeschi, mereka masih amat hijau, dibutuhkan di level junior, dan pada level ini Conte butuh sosok yang sudah matang.

Dengan torehan tujuh gol, sembilan assist, dan menghasilkan rerata 1,7 peluang per partainya di Serie A, harus diakui jika Vazquez adalah pilihan terbaik sementara. Posisi naturalnya memang trequartista, tapi jiwa itu juga bisa muncul dengan masuk sebagai gelandang tengah di formasi 3-5-2. Ia bahkan bisa ditempatkan sebagai striker pelayan jika memang dibutuhkan.

Sementara Eder hadir sebagai buah rasa frustrasi Conte terhadap deretan striker Italia yang kering gol musim ini. Pemanggilan debutnya bahkan menyingkirkan sosok-sosok penyerang mapan, macam Mattia Destro, Sebastian Giovinco, Mario Balotelli, hingga Fabio Quagliarella. Ia bahkan menyurutkan hasrat striker Italia tersebur di Eropa musim ini, Luca Toni, untuk melakukan come-back.

Eder memang baru menyarangkan sembilan gol di semua ajang musim ini, tapi mobilitas dan fleksibilitasnya yang luar biasa jadi kebutuhan utama Conte. Pemain Sampdoria ini bisa berperan sebagai striker kedua, bahkan salah satu trequartista jika sang pelatih mengubah skema menjadi 3-4-2-1. Figur seperti ini mulai jarang hadir di sepakbola Italia selepas generasi Francesco Totti dan Alessandro Del Piero.

Di saat era sepakbola modern menuntut striker untuk lebih terlibat dalam proses permainan, Italia malah makin banyak menghasilkan penyerang bertipe poacher. Karenanya, di saat Antonio Cassano menua dan Giuseppe Rossi tak kunjung pulih dari cedera, praktis tinggal Alessio Cerci, Manolo Gabbiadini, dan tentunya Eder yang bisa masuk dalam kategori striker modern.


                                                    Conte doyan late bloomers?

Selain duo oriundi baru yang dipanggil, Conte juga memberikan pemanggilan pertama bagi gelandang sentral Empoli, Mirko Valdifiori. Pemain satu ini juga nyaris disebut sebagai oriundi, karena memiliki darah Rusia dari ibunya. Tapi kali ini bukan lagi hal itu yang jadi sorotan.

Ketiga debutan yang dipanggil memiliki usai di atas 25 tahun, dengan Vazquez 26 tahun, Eder 28 tahun, dan Valdifiori sendiri juga 28 tahun. Fakta itu pun menuai kecaman, terutama dari legenda timnas Italia di Piala Dunia 1982, Franco Causio. "Saya tak yakin terhadap skuat terkini Italia. Saya lebih memilih melihat sejumlah pemain U-21, ketimbang Valdifiori atau sepasang oriundi itu," kritiknya.

Langkah ini memang membuat Domenico Berardi cs jadi kehilangan jam terbang internasional di level senior. Namun apa mau dikata, grafik perkembangan para pemain junior di Italia tak bisa dibilang bagus. Di level U-21, mereka tak memiliki pemain muda sensasional layaknya Florian Thauvin di Prancis, Emre Can di Jerman, hingga Harry Kane di Inggris. Sosok penggawa muda terbaik Gli Azzurrini mungkin ada dalam diri Daniele Rugani yang masih berkarier di Empoli, meski sudah jadi milik Juventus.

Watak Conte amat keras, ia tak ingin memberi tempat bagi mereka yang bisa menganggap kehangatan di bangku cadangan adalah pengalaman. Ia butuh pemain yang memang masuk dalam taktiknya dan benar-benar bisa diandalkan. Sosok itulah yang tak ditemukannya di level U-21.

"Seperti yang saya katakan sebelumnya, Italia dan saya selalu menghadirkan kontroversi. Saya hanya akan memanggil mereka yang benar-benar dibutuhkan dan bisa berbuat sesuatu di tim ini," jelas Conte.

Di sisi lain, anggapan bahwa Conte adalah penyuka late bloomers langsung menyeruak. Tapi seiring berjalannya waktu, pelatih kelahiran Lecce ini seakan sudah belajar banyak dari sejarah dan tradisi Gli Azzurri yang identik dengan late bloomers.

Anda tentu tahu soal kepahlawanan Dino Zoff, saat mengantar Italia juara dunia 1982. Kiper legendaris Juve ini baru melakoni debut internasionalnya di usia 26 tahun. Top skor Piala Dunia 1990, Salvatore 'Toto' Schillaci, mengukir caps pertamanya di usia 25 tahun. Juara dunia 2006, Fabio Grosso dan Luca Toni menjalani debut di usia 26 tahun, hingga yang terbaru, Graziano Pelle di usia 29 tahun. Masih banyak contoh lainnya.

Kapten Italia, Gianlugi Buffon, memiliki filosofi sendiri soal fenomena late bloomers di timnya. "Entah ini sebuah keuntungan atau kerugian, tapi rata-rata pemain di Italia akan mencapai puncaknya di usia yang juga mendekati akhir era emasnya," papar Superman.

Selain fenomena tersebut, Conte jelas haram mengalihkan pandangannya dari Valdifiori, karena sang gelandang sudah melepaskan rerata 78,6 operan per laga. Jumlah itu merupakan rataan tertinggi di Serie A musim ini. Kehadirannya jelas diperlukan sebagai pengganti pas buat absennya Andrea Pirlo.

Kini pembuktian ada di depan mata, dalam duel hadapi Bulgaria dan Inggris. Mampukah duo oriundi, Vazquez dan Eder, serta sang debutan Valdifiori mematri tempatnya dalam status reguler? Kita nantikan saja kiprah mereka.



Serie A Italia>> Halaman Khusus Sepakbola Italia
>> Berita Sepakbola Italia Lainnya
>> Semua Klub Serie A & Panduan 2014/15
>> Klasemen Serie A Italia
>> Jadwal & Hasil Serie A Italia
>> Daftar Transfer Serie A Italia
>> Rapor Pemain Serie A Italia