thumbnail Halo,

Bakat muda nan potensial di kompetisi termahsyur Italia belum habis, kini Goal Indonesia kembali menghadirkan lima bintang muda Serie A bagian kedua!


GOALOLEH   AHMAD REZA HIKMATYAR     Ikuti @rezahikmatyar di twitter

Lima calon bintang Liga Italia Serie A edisi pertama sudah kami hadirkan beberapa pekan lalu. Nama-nama yang muncul mungkin masih terdengar asing. Mereka adalah Jorginho Frello, Domenico Berardi, Alessandro Florenzi, Mattia Perin, dan Juan Iturbe.

Nama pertama langsung terbukti potensinya beberapa hari saja setelah tulisan terbit. Ya, pada bursa musim dingin lalu Jorginho resmi pindah ke salah satu klub top Serie A, Napoli. Perlahan namun pasti, ia kini jadi favorit Rafael Benitez di lini tengah. Gol perdananya pun lahir Kamis (13/2) lalu, tatkala Partenopei menghempaskan AS Roma 3-0 di ajang Piala Italia.

Menilik fakta tersebut, bakal makin seru sepertinya jika kita kembali mengulik berlian-berlian muda kompetisi termahsyur Italia yang belum tersorot.

Sekali lagi, bukan nama-nama mapan macam Mario Balotelli hingga Paul Pogba. Saatnya kita menggali lebih dalam potensi para giovani giacatori yang mungkin masih transparan. Lima pemain berusia di bawah 23 tahun, berprospek cerah, dan siap meledak kapanpun!

Siapa saja mereka? Mari kita simak lima bintang muda Serie A yang siap melejit musim ini (jilid 2), versi Goal Indonesia!

Victor Ibarbo, Cagliari, 23 Tahun


RINGKASAN STATISTIK
Jumlah bertanding 17
Starting XI 11
Umpan kunci 19
Shot 19
Gol 2
Assist 1
Generasi emas Kolombia pada periode ini menyertakan nama Victor Ibarbo. Ia bergabung dengan bakat hebat lainnya macam Luis Muriel, Fredy Guarin, Juan Zuniga, James Rodriguez, hingga Radamel Falcao.

Cagliari bisa dikatakan sangat beruntung memilikinya. Potensi sangar Ibarbo sudah terlihat sejak usianya begitu belia. Chelsea bahkan merekrutnya di usia 16 tahun! Ia mapan sebagai idola di tim junior. Sayang, padatnya bintang yang menghiasi skuat The Blues membuatnya tak kunjung promosi ke tim utama.

Keluar dari Chelsea pada 2009, Ibarbo tak sulit mencari klub lain. bakatnya yang terdengar santer hingga ke Italia, membuat Udinese tertarik merekrutnya. Namun apa daya, ribetnya birokrasi serta umurnya yang saat itu masih belia membuat transfer urung terjadi.

Tak patah arang, pemain berposisi striker ini kemudian balik ke Kolombia untuk mengasah kemampuannya di Atletico Nacional. Tiga musim saja, Cagliari kemudian memboyongnya ke Italia untuk memulai petualangan baru pada musim 2011/12. Di liga yang keras inilah kemampuan Ibarbo ditempa.

Ia sama sekali tak gagal. Pemain yang masih berusia 23 tahun itu malah jadi bintang utama Isolani sejak pertama kali menginjakkan kaki di Sant'Elia. Jumlah penampilannya selalu di atas 30 kali setiap musim. Gol yang ia hasilkan memang baru menyentuh angka 11, tapi kontribusinya di atas lapangan begitu vital.

Kecepatan, kekuatan fisik, tembakan keras, visi bermain, hingga kecerdasannya memberi assist sungguh memesona. Jangan heran jika dua atau tiga tahun lagi Ibarbo bakal jadi bagian penting salah satu klub top dunia!

Mattia De Sciglio, AC Milan, 21


RINGKASAN STATISTIK
Jumlah bertanding 10
Starting XI 9
Akurasi umpan (%) 82,3%
Umpan kunci 8
Intersep 10
Tekel 22
Nama Mattia De Sciglio sejatinya sudah mulai terdengar nyaring musim lalu. Namun musim ini diyakini bakal jadi ajang pembuktian sang fullback, sebagai pemain dengan bakat jempolan.

Menghabiskan seluruh masa juniornya di AC Milan, membawanya menuai bayaran setimpal. Keagungan namanya di level primavera membawa pria berpostur 183 centimeter itu masuk dalam skuat inti klub, untuk musim 2012/13. De Sciglio kemudian memulai debut profesionalnya pada 18 September 2011, kala Milan menang 2-0 atas Viktoria Plzen di ajang Liga Champions.

Tenggelam setelahnya, De Sciglio kembali muncul dan makin matang semusim kemudian. Perjudian Massimiliano Allegri yang menjadikannya bek kanan utama untuk menutup cedera Ignazio Abate berujung manis.

Tampil brilian, ia jadi elemen penting I Rossoneri menyegel peringkat tiga klasemen di akhir musim untuk lolos ke Liga Champions. Musim berakhir, "Maldini Kecil" kembali membuat kejutan. Namanya masuk dalam skuat Timnas Italia arahan Cesare Prandelli di Piala Konferderasi 2013. Tak hanya sekedar duduk di bench, ia bermain di tiga partai tanpa pernah mengecewakan.

Begitu aktif sepanjang 2013, De Sciglio yang masih 21 tahun kehabisan bensin. Cedera mulai sering menderanya begitu musim ini dimulai. Meski intensitasnya menurun, De Sciglio tetap memesona. Dari sepuluh laga yang "mampu" ia lakoni, delapan umpan kunci, sepuluh intersep, dan 22 tekel sukses jadi bukti potensi besarnya, meski dalam keadaan sulit.

Saphir Taider, FC Internazionale, 21 Tahun


RINGKASAN STATISTIK
Jumlah bertanding 20
Starting XI 12
Akurasi umpan (%) 88,5%
Jumlah umpan/sukses 581/514
Umpan kunci 18
Assist 1
Setelah sukses dengan mendatangkan Mateo Kovacic musim lalu, nampaknya FC Internazinale juga akan memetik daun emas di masa depan dengan kehadiran Saphir Sliti Taider.

Musim lalu di usianya yang masih 20 tahun, ia mampu jadi bintang Bologna yang sukses finish di sepuluh besar. Bersama Alberto Gilardino, Alessandro Diamanti, dan Panagiotis Kone, bersama-sama mereka mengubah Rossoblu jadi kerikil tajam bagi klub besar Serie A.

Operan yahud, visi bermain yang luas, serta naluri bertarungnya bisa dibilang luar biasa untuk pemain belia. Tak heran jika banyak klub besar berusaha menggaetnya di bursa musim panas lalu.

Sedikit bingung untuk menentukan pilihan, Taider akhirnya memilih Inter. Kebesaran nama, sejarah, juga kesempatan untuk terus berkembang sebagai pemain jadi alasan utama. Pilihan yang tepat, karena faktanya gelandang asal Aljazair itu selalui jadi pilihan utama Walter Mazzarri di lini tengah.

Ledakan Taider memang belum terjadi. Namun percayalah, Interisti tak perlu merasa kehilangan sosok Esteban Cambiasso jika sang wakil kapten pergi akhir musim nanti. Taider siap jadi idola baru publik Giuseppe Meazza!

Francesco Bardi, Livorno, 21 Tahun


RINGKASAN STATISTIK
Jumlah bertanding 23
Starting XI 23
Penyelamatan 68
 Kemasukan  41
Rerata kemasukan per laga 1,78
Clearances 15
Liga Italia Serie A dikenal dengan sekumpulan tim yang mengandalkan pertahanan grendel. Tak heran jika Negeri Pizza tak pernah kehilangan sosok hebat di lini pertahanan, salah satunya di posisi kiper.

Ya, dari era Dino Zoff, Walter Zenga, sampai Gianluigi Buffon, tak pernah kering bakat potensial para penjaga gawang Serie A hingga kini. Setelah membahas Mattia Perin di edisi sebelumnya, kini jadi saat yang tepat untuk mengulas Francesco Bardi!

Ketika semua mata tertuju pada Perin sebagai penerus Gigi Buffon, publik seakan melupakan Bardi. Patut diketahui, kiper Livorno ini selalu memenangi persaingan sebagai kiper utama Timnas Italia level junior melawan Perin!

Entah itu Ciro Ferrara atau Devis Mangia. Kiper 21 tahun itu selalu jadi pilihan utama Gli Azzurini. Mulai dari laga uji coba, kualifikasi turnamen, hingga turnamen besar dilangsungkan, Bardi bakal jadi orang yang berdiri di bawah mistar sejak kick off dilakukan. Fakta itu terbukti pada pagelaran Euro U-21 tahun lalu.

Musim ini, kiper milik FC Internazionale itu juga tak mengecewakan bersama Livorno. Meski kebobolan 41 gol dari 23 laga yang sudah dilakoni, lawan-lawan Gli Amaranto selalu dibuat frustasi terlebih dahulu oleh kegemilangan Bardi. Jumlah 65 penyelamatan sepanjang 23 giornata, membuatnya masuk dalam tiga besar kiper dengan rating terbaik.

Ya, bukan suatu kejutan atau kebetulan jika Bardi bakal jadi kiper utama La Beneamata ketika era Samir Handanovic sudah habis.

Keita Balde Diao, Lazio, 18 Tahun


RINGKASAN STATISTIK
Jumlah bertanding 12
Starting XI 4
Dribble sukses 14
Umpan kunci  7
Gol 3
Assist 1
Keita Balde Diao, bocah 18 tahun kelahiran Catalan, Spanyol, keturunan Senegal. Tak banyak yang tahu dan menyangka jika Keita bakal jadi buah bibir Serie A sejak 2014 dimulai.

Potensi Keita jelas tak bisa diragukan jika kita menilik latar belakangnya sebagai mantan anggota La Masia. Kariernya di akademi yang menghasilkan Xavi Hernandes, Andres Iniesta, hingga Lionel Messi itu tak berjalan mulus.

Ia dihukum pihak klub karena melakukan suatu kecerobohan kala melakoni tur di Qatar, saat berusia 15 tahun. Keita lantas "dibuang" ke klub lokal UE Cornella. Di sana baktanya terasah dan makin mencuat. Dalam semusim secara luar biasa ia mampu mencetak 47 gol di liga junior.

Real Madrid hingga Manchester United dikabarkan langsung ngebet untuk merekrutnya. Namun Lazio lah yang beruntung. Mereka berhasil memboyong Keita dengan mahar €300 ribu pada 2011. Cukup mahal untuk pemain yang kala itu masih berusia 16 tahun.

Tak salah, Biancocelste bak mendapat berlian yang tinggal diasah sekali gosokan saja. Selepas melakoni debut Serie A melawan Chievo Verona di giornata 3 lalu, perlahan namun pasti sosok Keita jadi idola para Laziale. 

Mulai tampil reguler dalam sepuluh laga terakhir, gaya bermainnya yang mengingatkan kita pada Jay-jay Okocha hingga El hadji Diouf, membuat potensinya makin diperhitungkan di masa depan!


Serie A Italia >> Halaman Khusus Sepakbola Italia
>> Berita Sepakbola Italia Lainnya
>> Semua Klub Serie A & Panduan 2013/14
>> Klasemen Serie A Italia
>> Jadwal & Hasil Serie A Italia
>> Daftar Transfer Serie A Italia
>> Rapor Pemain Serie A Italia


Terkait