thumbnail Halo,

Bad boy Italia dan Inter yang paling dikenal karena friksinya bersama Zinedine Zidane berulang tahun tepat hari ini.


GOALOLEH   DEFANIE ARIANTI
Sosok penuh kontroversi yang dicinta sekaligus dibenci, Marco Materazzi adalah salah satu pemain paling berpengaruh di FC Internazionale maupun Italia. Hari ini (19/8), pria yang memutuskan pensiun dari sepakbola pada 2011 lalu menginjak usia 40 tahun. Buon compleano, Materazzi!

Terlahir di Lecce pada 19 Agustus 1973, Materazzi dikenal sebagai pemain yang sangat agresif. Gaya permainannya ini berujung pada koleksi lebih dari 60 kartu kuning dan 25 kartu merah sepanjang karirnya.

Namun, di saat yang sama, dia juga termasuk bek paling subur di Serie A Italia. Terbukti, di musim 2000-01 lalu, dia memecahkan rekor Serie A sebagai pemain bertahan yang mencetak gol terbanyak, yaitu 12 gol dari 32 laga di seluruh kompetisi.

Memiliki ayah seorang pesepakbola profesional, Giuseppe Materazzi, kecintaan 'Matrix' terhadap olahraga ini. Dia mengawali karirnya dengan bergabung di tim muda Messina Peloro pada 1990 sebelum akhirnya ditarik ke klub Serie C2 Marsala (1993-94) dan klub Serie C1 Trapani (1994-95). Materazzi ditarik klub Serie B Perugia untuk pertama kalinya pada 1995, namun menghabiskan musim 1996-97 dengan klub Serie C Carpi sebagai pemain pinjaman.

Dia sempat hijrah ke Inggris dan bermain untuk Everton pada musim 1998-99, di mana dirinya tercatat diusir empat kali dalam 27 pertandingan. Sempat kembali ke Perugia, Materazzi akhirnya menghabiskan sisa karirnya bersama FC Internazionale dan meraih sukses besar di sana.

MARCO MATERAZZI

Nama: Marco Materazzi

Tempat, Tanggal Lahir: Lecce, 19 Agustus 1973.

Klub:
Marsala (1993-1994)
         Trapani (1994-1995)
         Perugia (1995-1998)
         Everton (1998-1999)
         Perugia (1999-2001)
         Internazionale (2001-2011)
Koleksi Gelar

Serie A Italia: 2006, 2007, 2008, 2009, 2010
Coppa Italia: 2005, 2006, 2010, 2011
Supercoppa Italiana:  2005, 2006, 2008, 2010
Liga Champions: 2010
Piala Dunia: 2006
Bek Serie A Terbaik: 2007

Tapi, berbicara soal Materazzi, tentu saja membicarakan insiden paling kontroversial sepanjang sejarah Piala Dunia. Itu ketika dirinya terlibat pertengkaran dengan legenda Prancis, Zinedine Zidane, yang menanduknya di laga final Piala Dunia 2006, yang berakhir dengan kemenangan Gli Azzurri.

Konfrontasi antara kedua pemain itu terjadi di menit 110. Materazzi terlihat memprovokasi Zizou sambil menarik jersey striker keturunan Aljazair tersebut. Zidane kabarnya menanggapi hinaan Materazzi dengan mengatakan, "Kalau kamu benar-benar menginginkan kaus saya, kamu bisa mendapatkannya nanti."

Saat itulah Materazzi melontarkan kata-kata yang menyulut kemarahan Zidane. Legenda Real Madrid itu mengklaim, Materazzi telah menghina saudara perempuan dan ibunya dengan kata-kata yang terlalu kasar untuk diungkapkan.

BBC Radio Five Live kala itu sempat meminta bantuan ahli pembaca gerak bibir Jessica Rees untuk menerjemahkan kata-kata Materazzi kepada Zidane. Rees mengatakan, Materazzi menyebut ibu Zidane sebagai "teroris" dan "pelacur".

Materazzi membantah telah menyinggung ibunda Zidane, namun dia mengakui melontarkan hinaan terkait saudara perempuan pemain Prancis. "Saya tidak membawa-bawa ibu Zidane, bagi saya seorang ibu adalah [sosok yang] suci," bantahnya.

"Saya menarik kausnya, dia mengatakan kepada saya 'kalau kamu benar-benar ingiin kaus saya, saya akan memberikannya untuk kamu nanti', saya menjawab bahwa saya lebih memilih [mendapat] saudara perempuannya."

"Itu bukan hal yang baik untuk dikatakan, saya menyadari hal itu. Tapi, banyak pemain lain yang mengatakan hal lebih buruk. Saya bahkan tidak tahu dia punya saudara perempuan sebelum kejadian itu."

Materazzi memang tidak pernah berpura-pura bahwa dirinya 'orang suci'. Mudah saja membenci Materazzi setelah insiden dengan Zidane. Tapi, setidaknya satu orang benar-benar menyukai pria berpostur 193cm itu.

Siapa bisa melupakan perpisahan emosional Jose Mourinho dengan Materazzi ketika pelatih Portugal meninggalkan Inter usai memberikan treble winners kepada La Beneamata untuk menangani Real Madrid, 2010 lalu?

Mourinho, yang dikenal arogan, terlihat menangis ketika memberikan pelukan perpisahan untuk Materazzi. Kepada Futaa.com 2012 lalu, Materazzi membocorkan kata-kata yang dia ucapkan kepada The Special One. "Ketika dia [Mourinho] mengatakan kepada saya dia akan pergi, saya berkata: 'Sialan, Anda meninggalkan saya dengan [Rafael] Benitez. Saya tahu jika dia pergi, kami tidak akan pernah sama lagi."


Gabunglah bersama Goal Indonesia di media sosial:
Facebook goal.indonesia
Facebook goal.indonesia
Google Plus +goalcomindonesia
Google Plus +goalcomindonesia
Twitter @GOAL_ID
Twitter @GOAL_ID

Terkait