thumbnail Halo,

Analis Serie A Italia Cesare Polenghi memberikan penjelasan mengapa bermain di Liga Champion bisa sangat menguntungkan bagi tim di Italia.


ANALISIS   CESARE POLENGHI     Ikuti @cesarepolenghi di twitter

Menyusul kekalahan 2-1 dari Juventus di Giuseppe Meazza minggu lalu, FC Internazionale mungkin sudah mulai berhitung kerugian yang bisa mereka dapatkan di musim depan.

Ya, dengan potensi kegagalan ambil bagian di Liga Champions musim depan, karena sejauh ini masih tertinggal sepuluh angka dari Milan, yang menduduki peringkat ketiga klasemen sementara Serie A Italia, Inter tahu konsekuensi yang akan mereka hadapi di musim depan sangat serius.

Kondisi keuangan Inter bisa dikatakan dalam kondisi 'merah terbakar'. Padahal penerapan regulasi Financial Fair Play sudah ada di depan mata.

Inter tercatat sejauh ini memiliki utang mencapai 165 juta euro, yang merupakan jumlah gabungan dari periode 2011 dan 2012. Jumlah tersebut kebanyakan berasal dari beban gaji pemain.

Menurut laporan keuangan yang dirlis beberapa waktu lalu, Inter memiliki tanggungan 165 juta euro hanya untuk gaji, yang sebagian besar diberikan kepada pemain. Jika dibandingkan dengan laporan keuangan Juventus, Inter harusnya iri karena rival mereka itu membayar gaji lebih sedikit, sekitar 137 juta euro, namun juga menjanjikan tambahan dana dari kesuksesan di Liga Champions.

Dalam aturan yang baru, gaji pemain harusnya tidak membebani klub. Nilainya juga tak boleh lebih dari 50 persen dari beban keseluruhan klub tap periodenya. Padahal, di Inter, pendapatan mereka dihabiskan untuk membayar gaji, yang nilainya mencapai 80 persen dai jumlah pendapatan mereka.

Karena itulah mengapa berlaga di Liga Champions bisa meminimalkan risiko kesulitan dana operasional. Juventus misalnya. Bila di musim ini bisa menembus hingga babak semi-final, mereka akan mendapat tambahan dana segar mencapai 60 juta euro. Luar biasa, bukan?

Sedikit menengok ke belakang, sepakbola Italia sempat memasuki zaman kegelapan. Pendapatan banyak klub menurun drastis, demikian juga stadion yang hanya separuh terisi dan pendapatan dari hak siar televisi juga tak menggiurkan.

Sampai saat ini pun momen itu masih bisa dirasakan. Contoh nyata adalah nilai kesepakatan jersey antara klub Italia dan Spanyol atau Inggris.

Klub seperti Barcelona dan Real Madrid mendapatkan setidaknya 60 juta euro per musim hanya dari sponsor jersey mereka, sementara Inter dan Juventus tak mendapatkan lebih dari 30 juta euro.

Namun, dengan pengelolaan finansial yang baik, tim Italia ini bisa bertahan. Bahkan Juventus, yang sempat mencatat rapor merah dalam laporan keuangan mereka, bisa menjadi klub Italia pertama yang mencatat profit.

Lazio juga memiliki tren yang bagus dalam laporan keuangan mereka, dan terlihat sehat. Mereka bahkan berani berencana membangun stadion baru. Sementara Napoli sudah lama memiliki laporan keuangan yang bagus. Udinese, Catania, Chievo dan Cagliari juga memiliki kondisi keuangan yang bisa diterima.

Minggu lalu, pemilik Napoli Aurelio De Laurentiis mulai menekan administrator liga untuk membuat perubahan besar di sepakbola Italia. Salah satu caranya adalah dengan meniru gaya pembinaan kompetisi dan pemain muda di Spanyol, yaitu dengan memainkan tim muda Serie A di Lega Pro, atau kompetisi divisi tiga di Italia.

Hal itu bisa memberikan kesempatan kepada pemain muda untuk bisa berkembang lebih cepat dengan bermain di kompetisi kompetitif di usia muda. Prinsip yang digagas De Laurentiis itu juga lebih menguntungkan ketimbang harus mendatangkan pemain baru dengan harga mahal, dan juga dengan tuntutan gaji yang juga luar biasa.

Jika mengusung semangat Renaissance, orang-orang seperti De Luarentiis, pemilik Udinese Giampaolo Pozzo dan Andrea Agnelli dari Juventus memang dibutuhkan Italia. Ketiga entrepreneur itu sudah sukses menjalankan model bisnis yang bagus untuk mendapatkan hasil positif, bukan hanya dalam laporan keuangan, tapi juga performa di lapangan.

Ikuti perkembangan terkini sepakbola Italia di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Serie A Italia lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Italia.

Tendangan Bebas

Bagaimana hasil laga leg pertama perempat-final antara Paris St Germain dan Barcelona?

Terkait