thumbnail Halo,

Antonio Conte dan seluruh suporter Juventus mengungkapkan ketidaknyamanan mereka atas segala bentuk perlakuan yang diterima klub sepanjang musim ini.


OLEH CESARE POLENGHI | PENYUSUN ANUGERAH PAMUJI     Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

"Mudah saja untuk berkemas dan hengkang [ke negara lain]," begitu bilang Antonio Conte saat menghadiri konfrensi pers setelah Juventus berhasil mengalahkan Bologna. "Ketika bus kami masuk ke dalam stadion, terlihat orang-orang sedang menggandeng anak mereka, dan mirisnya pada saat yang sama mereka mencemooh kami. Hal sama terjadi di Florence dan Naples: mereka meludahi, melempari kami kayu dan batu. Apa yang terjadi di sini?"

Kubu Juventus dan para suporter mereka seketika secara nyata mulai merasa dikepung. Di forum Covo Bianconerri, ada satu pernyataan fans yang mendukung Conte: "Jika Anda hijrah, tolong bawa semua yang ada di klub ini bersamamu, mari bermigrasi ke Ligue 1 [Prancis]!"

Tak diragukan lagi, Juventus meraih kesuksesan besar di Italia dalam dua musim terakhir, dan sekarang mereka sedang dalam trek menuju tahta scudetto secara beruntun. Mereka juga satu-satunya duta Italia yang berada di delapan tim terbaik Liga Champions. Catatan-catatan ini sontak membuat Juve sepertinya sedang dicemburui dan kini cenderung didiskriminasi oleh pihak-pihak lain, setidaknya demikian menurut pandangan para loyalis Juve.

Jika dirunut, sepertinya ada banyak daftar ketidakadilan yang diterima Juve. Dan berikut ini adalah lis terkait hal-hal yang para Juventini keluhkan selama ini:

Antonio Conte telah menerima sanksi selama empat bulan lantaran diduga gagal mencegah skandal pengaturan skor ketika dia masih menahkodai Siena. Dia menghadapi kenyataan ini karena salah satu saksi, Filippo Carrobbio, menyeretnya, kendati lebih dari 20 saksi telah membantah sejumlah fakta yang dikemukakan pemain Siena tersebut.

Juventus terlibat dalam beberapa kontroversi di laga-laga Serie A musim ini, dan, seperti biasanya, mereka terkadang diuntungkan, dan pada sejumlah kesempatan lain dirugikan oleh kesalahan wasit. Yang menganggu suporter Juventus adalah para wasit yang diduga "membantu" Juventus kontra Parma, Catania, dan Inter yang kemudian masing-masing dikenai sanksi enam, tiga, dan empat pekan. Pada sisi lain, wasit-wasit yang bersalah karena kesalahan besar seperti yang terlihat dalam laga Milan-Juventus, Juventus-Sampdoria, Juventus-Genoa dan baru-baru ini Napoli-Juventus sama sekali tak dihukum, tapi langsung ditugaskan kembali pada pekan berikutnya. Juventus pun termasuk klub yang paling sering dihukum karena kelakuan suporter. Dimulai dari 26 Februari 2013, total nominal yang harus dikeluarkan Juve mencapai 233 ribu euro. Klub-klub lain telah meraskaan hukuman yang terbilang lebih longar, tanpa memperhatikan prilaku ekstrim dari suporter mereka. Ambil contoh, Lazio, meskipun dikecam di Eropa karena mereka sangat dikenal suporter anti-Yahudi, hanya dikenai denda sebesar 32,5 ribu euro.

Di beberapa kesempatan lainnya pada musim ini rival ultras Juve tak segan-segan "memperingati" tragedi Heysel pada 1985, peristiwa yang menewaskan banyak suporter Juve.Pemandangan paling umum adalah bentuk spanduk dan kaos bertuliskan "-39", jumlah fans Juventus yang meregang nyawa dalam insiden berdarah itu. Namun tepat pada Sabtu lalu, suporter Bologna melancarkan bentuk hinaan berupa banner raksasa di teras stadion mereka yang bertuliskan: "[...] Juventino, kalian milik kuburan." Rekasi media di Italia terhadap tindakan itu sepertinya terlalu menganggap lumrah, dan parahnya tak ada klub sejauh ini secara terbuka mengutuk prilaku suporter mereka atas sikap semacam ini.

Media sering membuat stigma terhadap para pemain Juventus dalam rangka menciptakan kontroversi yang sebetulnya tidak perlu. Sebagai contoh, sebuah kutipan dari Claudio Marchisio ("Saya merasakan sesuatu yang spesial ketika saya bermain menghadapi Napoli,") yang seketika disalahartikan oleh media yang ujung-ujungnya malah membentuk opini yang menjurus sebuah kampanye melawan gelandang 27 tahun itu. Hal ini kemudian berkembang luas sampai terciptalah produksi aplikasi yang dapat diunduh bebas yang diciptakan oleh suporter Napoli, di mana setiap orang yang menggunakan aplikasi itu bisa memukul wajah Marchisio secara digital.

Juventus juga tidak mendapat bantuan dari federasi menyoal jadwal. Cesare Prandelli memanggil lima pemain Juventus dan memainkan Andrea Pirlo dari menit pertama pada 7 Februari, 2013, menghadapi Belanda, sesaat sebelum Juventus bentrok dengan Fiorentina dan kunjungan krusial mereka ke markas Glasgow. Di minggu berikutnya, kendati si Nyonya Tua baru memainkan laga tandang pada tengah pekan di Liga Champions, tetap saja laga Serie A berikutnya mengagendakan mereka duel dengan Roma pada hari Sabtu-nya.



Sehingga wajar bila seluruh loyalis Juve sampai-sampai bersedih dan berharap tim kesayangannya pindah liga sekalian. Hal ini memang terdengar hiperbola, akan tetapi apa lagi yang harus dibayar dan dikorbankan oleh Juve untuk Liga Italia?

Menurut sebuah survey terbaru, 28 % suporter Italia adalah pengikut setia Juventus. Selama musim 2006/07, ketika Bianconerri terdemosi ke Serie B, jumlah rata-rata penonton di Serie A terpangkas yang di tahun sebelumnya mencapai 22,476 lantas merosot menjadi 19,711. Semusim berikutnya, setelah Juventus kembali ke kasta teratas, rata-rata jumlah penonton meningkatmenjadi 23,887.

Tidak mungkin memang Conte dan para pemainnya mengepak koper untuk berkancah di Ligue 1 Prancis, namun tidak perlu dipertanyakan jika sepakbola Italia akan semakin rusak oleh adanya isu-isu sentimen Juventus. Mereka adalah klub paling populer di negara ini, salah satu tim yang mendapatkan hasil terbaik di tanah sendiri dan di Eropa, serta yang memimpin reformasi keuangan di sepakbola Italia.

Beberapa tuntutan suporter mungkin dibesar-besarkan, dan fans Juventus sendiri tampaknya tidak sepenuhnya keliru atas harapan mereka. Namun perlu digarisbawahi, ketika rivalitas berubah menjadi kebencian dan kekerasan, bakal dengan mudah melihat sebuah liga menghadapi masalah besar dan mendapati kompetisi itu perlahan-lahan melorot dan menjauh dari empat besar liga sepakbola Eropa.

Conte sendiri, dengan gairah dan semangat besarnya di sepakbola, mungkin mau tidak mau harus menghadapi situasi yang boleh dikatakan telah menyakiti hatinya, namun kata-kata sederhana yang terlontar dari mulut dia seharusnya membuat seluruh suporter sepakbola Italia berpikir: "kami tidak berperang, ini adalah sebuah olahraga."

Terkait