thumbnail Halo,

Pemain dan klub harus bersatu jika ingin mengembalikan reputasi Serie A Italia sebagai liga terbaik dunia.


CATATAN   CESARE POLENGHI     PENYUSUN   AGUNG HARSYA   
Persaingan antara Fiorentina dan Juventus dimulai setidaknya musim 1981/82. Ketika itu Juventus berhasil merebut gelar juara secara kontroversial. Persaingan mulai berkembang menjadi kebencian pada musim panas 1990 ketika Si Nyonya Tua berhasil merebut putra terkasih Florence, Roberto Baggio.

Sejak itu, semua pertandingan yang melibatkan kedua klub ini berjalan menegangkan. Selama bertahun-tahun suporter Fiorentina melakukan teror dengan selera humor (seperti ketika ribuan fans muncul mengenakan wig di stadion untuk mengejek rambut transplantasi Antonio Conte), kemudian menyinggung kematian 39 pendukung (kebanyakan fans Juventus) di Brussel pada 1985 yang terkenal dengan nama "Tragedi Heysel".

Kamis pekan lalu, dua hari sebelum pertandingan, Conte menghangatkan suhu persaingan dengan mengatakan tidak merasa kedua tim memiliki persaingan tertentu. Para pendukung Fiorentina malah menganggap ucapan itu sebagai penghinaan.

Keadaan memburuk ketika muncul klip yang ditayangkan di akun resmi Juventus di YouTube. Di klip itu, narator mengatakan "Fiorentina memulai musim dengan baik (artinya meraih hasil yang sangat bagus) dan sekarang berada di dalam api penyucian (setelah meraih hasil yang naik turun) dan kemungkinan bisa berada dalam neraka ketika bertandang ke Juventus Stadium".

“All hope abandon, ye who enter in [di Juventus Stadium],” pungkas komentar itu.

Kalimat ini memelintir kutipan terkenal dari karya penulis abadi Fiorentina Dante Alighieri, Divine Comedy, yang ditulis pada abad ke-14.

Wakil presiden Viola, Andrea Della Valle, tidak bisa menerima lelucon itu dan menyatakan kepada pers kalau narasi itu membuktikan betapa rendah gaya Juventus selama beberapa tahun terakhir.

Diimbuhi bumbu-bumbu perseteruan, 90 menit pertandingan berlangsung tanpa kontoversi. Di salah satu tribun, suporter Fiorentina melampiaskan perasaan balas dendam mereka dengan mengejek korban 1985 melalui slogan-slogan.

Begitu pertandingan berakhir, sportivitas dapat dipertanyakan. Kiper Fiorentina Emiliano Viviano mungkin tidak senang melihat Borja Valero berjalan ke arah fans dengan menyampirkan seragam Juventus di bahunya. Gelandang asal Spanyol itu baru saja bertukar kaus dengan Andrea Pirlo. Tanpa ba-bi-bu, Viviano merebut seragam hitam dan putih dari bahu rekan setimnya dan membuangnya ke tanah.

Belakangan Viviano meminta maaf secara terbuka dengan mengatakan hanya bermaksud "menyelamatkan Valero [dari hinaan suporter sendiri setelah bertukar kaus dengan seorang pemain Juventus]."

Ketegangan episode ini mempertegas suasana histeria di Serie A dalam beberapa tahun terakhir. Sedihnya, pertandingan ini pun tidak lepas dari tekanan.

Minggu, Mario Balotelli, yang mengemas gol ketiga dalam dua pertandingan di Cagliari, melakukan perayaan dengan menempelkan jari di depan hidungnya. Dia bermaksud meminta agar fans tuan rumah "bungkam".

Suporter Internazionale di Milan, kira-kira beberapa ratus kilometer dari pertandingan AC Milan, "menyambut" kembalinya Balotelli ke Serie A dengan menyanyikan lagu bernada kebencian, "Tidak ada yang namanya negro Italia", pada pertandingan melawan Chievo.

Suporter Juventus pun menemukan cara untuk melakukan hinaan diskriminatif saat menghadapi pesaing di papan atas, Napoli.

Seakan belum cukup dengan tingkah laku wakil presiden, pemain, dan suporter, kini giliran para pelatih. Di Genoa, pelatih Sampdoria Delio Rossi dituduh menghina pemain AS Roma, Nicolas Burdisso, dengan mengacungkan jari tengahnya. Akibat tak dapat menahan emosi, pelatih 52 tahun itu dikirim lebih cepat ke kamar ganti.

Harus diakui, media Italia akhirnya memerhatikan kejadian-kejadian menyedihkan ini. Mungkin karena laporan media, federasi Italia akhirnya menjatuhkan sejumlah sanksi.

Tapi tentu tidak cukup mengatasi perilaku tidak sportif yang terlihat di banyak stadion. Hal yang hilang adalah perbincangan serius tentang fakta tak menyenangkan ini karena sekarang terlihat peristiwa ini diterima secara pasif.

Kalau sepakbola Italia ingin kembali menjadi liga terbaik dunia, seperti pada 1990-an, para pemain dan klub tak lagi boleh menanam kepalanya di pasir. Perilaku anti-sportif harus dikenakan kebijakan tanpa toleransi dan klub serta para pemain harus bersatu menyelamatkan liga yang terancam kehilangan kredibilitasnya.

Ikuti perkembangan terkini sepakbola Italia di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Serie A Italia lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Italia.

Terkait