thumbnail Halo,

Kekalahan dari Sampdoria sekali lagi memperlihatkan permasalahan Conte atas ketidakmampuan striker mencetak gol di saat dibutuhkan.


CATATAN   CESARE POLENGHI     PENYUSUN   DONNY AFRONI    
Di saat banyak orang memperkirakan Juventus bakal mendominasi Serie A Italia musim 2012/13, Sampdoria mengingatkan kita tentang indahnya sepakbola yang tak bisa diprediksi, dan pantas mendapatkan kemenangan, mengalahkan juara bertahan sekaligus pemuncak klasemen tersebut dengan skor 2-1.

Itu merupakan hasil di mana sepakbola Italia mendapatkan keuntungan, karena membuka kembali persaingan gelar juara, dan juga mengingatkan Juventus bahwa tidak ada tim yang tak bisa dikalahkan. Tentu pertandingan itu dikarakteri oleh sejumlah ketidakberuntungan tim besutan Antonio Conet: beberapa penalti tak diberikan kepada Alessandro Matri, blunder Gianluigi Buffon, dan cederanya Claudio Marchisio membuat Bianconeri gagal mendapatkan hasil, setidaknya imbang.

Tapi kenyataan memang seperti itu. Juventus bermain dengan 11 pemain melawan sepuluh orang hampir sepanjang laga setelah Gaetano Berardi diganjar kartu merah, dan bermain di kandang, serta unggul satu gol. Conte dan para pemain sudah tentu mendapat keuntungan lebih dibandingkan peruntungan: pertandingan yang seharusnya bisa mereka menangi.

Pasca libur musim dingin, Juventus menyenangkan suporter mereka dengan intensitas luar biasa di babak pertama: Andrea Pirlo mengendalikan umpan-umpan, Sebastian Giovinco sedang dalam kondisi spirit tinggi, dan kontribusi pemain seperti Paolo De Ceglie dan Alessandro Matri di setiap bola yang mereka kuasai, serta menekan tim tamu bertahan di areal sendiri selama 45 menit. Hasil konkretnya hanya sebuah gol dari tendangan penalti.

Di babak kedua, saat Giovinco mulai kelelahan, dan gagal memaksimalkan umpan-umpan, sinarnya mulai meredup. Masuknya Mirko Vucinic yang terlambat tak cukup untuk mengembalikan permainan ke jalur yang benar bagi tuan rumah. Juventus tercebur ke dalam hutan belantara pertahanan Sampdoria, dan sedikit peluang yang diciptakan. Lagi, gagal menghasilkan gol.



Permasalahan utama Conte saat ini sudah diketahui, dan itu terjadi lagi di pertandingan tersebut: keseimbangan antara kuantitas dan kualitas cukup buruk, mengkreasi serangan yang sangat banyak, tapi terlalu sering gagal mengubahnya menjadi gol.

Mungkin itu bisa diperdepabatkan karena ini merupakan keinginan, terlepas dari paradigma kerjanya, atau sepanjang musim Juventus ditakdirkan menjalani pertandingan seperti Minggu. Dengan sejumlah pemain ofensif seperti Giovinco dan Vucinic berpartisipasi membangun permainan dengan menciptakan ruang, sudah tentu mereka sering mendapatkan situasi di mana penyelesaian akhir mereka tidak terlalu tajam, karena mereka semua hanya berlari sepanjang laga.

Apa yang Juventus butuhkan adalah bukan hanya para pemain yang bisa melakukan pekerjaan serupa, tapi juga mentransformasi peluang menjadi gol secara reguler. Nama yang muncul di benak ini seperti Kun Aguero atau Luis Suarez. Tapi para pemain seperti ini tidak bisa dijangkau oleh finasial klub Italia. Lebih jauh. Selain masalah finansial, mendatangkan striker superstar dengan gaji tinggi sangat berisiko di dalam tubuh tim yang telah memperlihatkan performa bagus sepanjang 1,5 tahun.

Cukup jelas Conte kemungkinan harus bekerja dengan materi yang dia miliki, menjaga pemikiran sudah cukup untuk meraih gelar Serie A untuk kedua kalinya, dan kemungkinan masuk ke delapan besar Liga Champions.

Di saat bersamaan, melihat masa depan Juventus yang perlu membawa pemain berkualitas, artinya para pemain yang bisa memberikan sesuatu di pertandingan seperti melawan Sampdoria. Sampai saat itu, di saat Conte menyadari dia bisa mengandalkan Andrea Pirlo, pemain seperto Giovinco dan Vucinic harus meningkatkan performa, dan memberikan lebih atas apa yang paling dibutuhkan tim: itu adalah gol-gol.

Ikuti perkembangan terkini sepakbola Italia di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Serie A Italia lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Italia.

Terkait