thumbnail Halo,

Managing Editor GOAL.com Asia Cesare Polenghi menyampaikan pandangannya mengenai beragam kontroversi yang mencuat di Serie A akhir pekan kemarin.

GOAL.com Indonesia   CATATAN
CESARE POLENGHI
ALIH BAHASA
DEDE SUGITA

Satu alasan yang sangat bagus untuk memperkenalkan teknologi dalam sepakbola tentunya adalah pertandingan akan menjadi sedikit lebih adil. Keputusan penalti dan off-side yang keliru dapat dikoreksi, kekerasan dan simulasi di lapangan akan lebih mudah terpantau dan semakin tipis kemungkinan hasil akhir dipengaruhi oleh kesalahan wasit.

Argumen ini, seperti yang terjadi belakangan ini, diperkuat oleh kenyataan bahwa terlalu banyak uang yang dipertaruhkan dalam sepakbola modern dan kesalahan manusia menjadi terlalu mahal dampaknya. Siapa yang tak sependapat akan hal tersebut setelah melihat apa yang terjadi di Serie A akhir pekan kemarin?

Catania menunaikan misi luar biasa sulit dengan menjebol gawang Juventus, tapi sang hakim garis, setelah lebih dari semenit momen keraguan dan diskusi, secara keliru menganulirnya. Itu blunder paling mencengangkan di hari Minggu, di mana sebuah gol dan klaim penalti Lazio juga tak diberikan; kartu merah yang terlalu mudah dilayangkan bagi pemain Torino; penalti lunak buat Udinese, yang juga mencetak sebuah gol dengan terbantu Di Natale berada di posisi off-side; dan terdapat pula sebuah pelanggaran pada Pellisier yang mestinya berujung pada tendangan titik putih buat Chievo di Napoli. Jangan lupakan juga, Milan menang pada Sabtu lewat sebuah gol yang tak biasa.

Semua ini merupakan kesempatan yang terlalu besar untuk dilewatkan oleh jurnalisme Italia yang dikenal tak bermutu, yang menyebut kemenangan Juventus “Beraroma Skandal” dan “Diracuni” di halaman depan Corriere dello Sport dan Gazzetta dello Sport. Fakta bahwa gol Catania yang dianulir dengan keliru tersebut adalah satu-satunya tembakan akurat klub Sisilia itu selama 90 menit laga, berbanding sembilan milik Juventus, ditepikan.

Kebanyakan jurnalis Italia dan para pemimpin jaringan media sayangnya lebih tertarik menjual sepakbola kepada massa yang frustrasi ketimbang membicarakan sepakbola dengan sebenarnya kepada pecinta permainan ini. Jadi, praktik menyedihkan seringkali terlihat, termasuk tentu saja pada Senin ini, yaitu memecah sebuah laga bagus menjadi beberapa episode tunggal.

Lupakan fakta bahwa Pogba, yang baru berusia 19 tahun, kembali tampil menawan, atau kiper Catania, Mariano Andujar, menyuguhkan sejumlah aksi penyelamatan paling spektakuler sejauh ini di musim 2012/13. Yang terpenting adalah menjual surat kabar, dan cara mudah untuk mewujudkan target ini di Italia tampaknya adalah dengan memicu kultur kecurigaan yang sama sekali tak berguna untuk memajukan sepakbola yang sudah terluka selama lebih dari satu dekade.

Kebenaran sederhana adalah para wasit memang dapat membuat kesalahan, dan itu terjadi di sepanjang musim, namun kesalahan itu cenderung menjadi seimbang nantinya. Juventus tentunya terbantu oleh hakim garis yang pandangannya kurang cermat, tapi di kampanye musim lalu mereka kerap tak mendapatkan penalti yang sebenarnya kentara. Di sisi lain, pada 2011/12, Milan justru tertolong dengan sejumlah penalti lunak, namun mereka juga dirugikan dalam beberapa kesempatan; di Lazio, di Florence, dan tentu saja ketika Muntari mencetak gol kontra Juventus yang dilihat oleh seluruh dunia, kecuali Tn. Tagliavento, sang wasit yang kurang jeli.

Namun, pada sejam berikut di pertandingan yang sama, sebuah gol bersih Alessandro Matri dibatalkan secara keliru dan Milan beruntung terhindar dari dua kartu merah. Seperti yang bisa dilihat, semua berlaku dua arah, dan di akhir musim, beberapa pemain Milan mengakui Juventus memang pantas menjadi juara.

Sepakbola adalah permainan dengan skor kecil, satu detail seringkali dapat mengubah hasil laga. Tapi itu jarang sekali mengubah hasil akhir musim, setidaknya tidak dalam turnamen round-robin  yang memainkan 38 laga. Ini adalah fakta yang diketahui dengan baik tapi cenderung dilupakan karena kurangnya kultur keolahragaan, hal yang sangat disayangkan, yang menyirami persepakbolaan Italia hingga ke akarnya. Praktik laksana bunuh diri ini sejauh ini belum melahirkan pemenang, justru sejumlah pecundang. Sangat disayangkan, khususnya ketika semua orang bisa melihat bahwa beberapa sepakbola terbaik di planet ini masih dimainkan di Serie A.

Apa yang terjadi di laga Chelsea-Manchester United (kartu yang keliru diberikan, dan sebuah gol yang dicetak dari posisi off-side) mungkin jauh lebih buruk dari apa yang terlihat di lapangan di Italia weekend kemarin. Meski begitu, para pemain, manajer, dan pers menangani situasi itu dengan tenang.

Orang-orang Inggris paham bagaimana menjaga produk mereka, dan kultur keolahragaan membuat mereka menerima fakta bahwa hal-hal tersebut, betapa pun disesali, mungkin terjadi. Dan -dalam suatu cara yang ganjil- hal tersebut adalah bagian dari ketidakadilan yang menjadikan sepakbola sebuah metafora kehidupan. Bukankah itu yang membuat kita amat mencintai permainan ini.

Dari satu segi, penulis sedikit kecewa karena teknologi akan mengurangi kejadian acak seperti ini dan akan mengurangi keadaan tak terduga yang mungkin ditimbulkan kesalahan manusia pada sepakbola. Tapi tentunya akan ada alasan-alasan yang patut dirayakan begitu teknologi mengurangi jumlah keputusan yang tak adil.

Salah satunya adalah para penulis dan editor Italia yang telah berjaya dengan mengisi surat kabar, internet, acara TV dengan omong-kosong berkedok jurnalisme, nantinya harus mulai benar-benar peduli mengenai permainan sepakbola, atau bahkan mungkin lebih baik lagi, mencari pekerjaan baru yang lebih sesuai.

 

Ikuti perkembangan terkini sepakbola Italia di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Serie A Italia lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Italia.

Terkait