thumbnail Halo,

Managing Director GOAL.com Asia Cesare Polenghi membeberkan bagaimana rekor cedera pemain sangat berpengaruh dalam perebutan Scudetto dalam tiga tahun terakhir.


GOAL.com Indonesia   ANALISIS
CESARE POLENGHI
ALIH BAHASA
DEWI AGRENIAWATI


Dalam sebuah talkshow radio mengenai sepakbola pekan lalu, jurnalis Italia Carlo Genta dan agen FIFA Ernesto Bronzetti menganggap penolakan presiden Silvio Berusconi melepas Alexandre Pato demi mendapatkan Carlos Tevez adalah kunci kegagalan AC Milan musim lalu.

Seperti yang pernah dibahas sebelumnya, tawaran tinggi Paris Saint-Germain untuk Pato sebetulnya bisa menjadi modal I Rossoneri memboyong striker Argentina dari Manchester City. Tidak hanya itu, Milan juga disinyalir akan mendapat dana segar €10 juta dari penjualan Pato. Sayang, kesepakatan dengan PSG akhirnya menemui jalan buntu setelah melewati negosiasi yang cukup alot.

Buntunya saga transfer yang melibatkan Pato dan Tevez berujung manis untuk City. Tevez sukses membantu The Citizens menyabet gelar Liga Primer Inggris setelah berdamai dengan manajer Roberto Mancini dan sekarang, dia kembali masuk daftar pemain kelas dunia. Sebaliknya Milan justru direpotkan dengan serangkaian cedera yang dialami attacante berpaspor Brasil tersebut.

Ternyata, kegagalan skuat besutan Massimiliano Allegri di lantai bursa bukan satu-satunya faktor gagalnya Milan mempertahankan gelar tertinggi di Serie A. Melihat cedera yang dialami Pato, justru menjadi inspirasi untuk untuk meriset rangkaian cedera lebih jauh. Pelatih atletik Juventus Roberto Sassi, pernah membahas problem cedera dalam tulisannya di Gazzetta dello Sport.

Dari data yang dibeberkan Sassi, problem klub Serie A mengerucut pada satu masalah: cedera. Ternyata, cedera memiliki peran paling krusial dibandingkan apa pun dalam persaingan gelar di beberapa musim terakhir. Jika dikalkulasi secara total jumlah pertandingan yang dilewati akibat cedera di musim 2011/12, Milan berada di posisi tertinggi yakni mencapai 307 pertandingan. Sebaliknya, Juventus--sang juara di musim yang sama--para pemainnya hanya absen di 44 laga.  

Padahal dari data sebelumnya, punggawa Bianconeri absen di 210 dan 216 laga di musim 2009/10 dan 2010/11 dan ketika itu mereka tampil mengecewakan karena hanya finis di urutan ketujuh.

Bagaimana dengan FC Internazionale? I Nerazzurri terakhir kali mereguk manisnya gelar di musim 2009/2010, ketika itu para pemain mereka absen di 108 pertandingan. Angka ini meningkat lebih dari 60 persen pada musim berikutnya, menjadi 182 dan 179. Tidak heran jika La Beneamata harus puas menutup musim sebagai runner-up lalu makin merosot ke posisi enam di musim lalu.

Di musim lalu, Juventus memang diuntungkan karena tak ambil bagian di kompetisi Eropa. Tapi menjelang akhir musim, mereka hanya menjalani delapan laga lebih sedikit ketimbang Milan. Melihat statistik tersebut, tidak bisa juga membenarkan perbedaan kondisi fisik dan angka cedera pemain dipengaruhi padatnya jadwal pertandingan.

Ada faktor lain yang memicu perbedaan kondisi fisik dan tingkat cedera. Faktanya, program kebugaran kedua tim amat jauh berbeda. Masih diungkapkan Sassi, Juventus melakukan latihan aerobik dengan lari selama 60-75 menit. Sebagai perawatan otot, mereka menggunakan mesin isoinertial dan pelatihan eksentrik.

Rutinitas seperti ini mencontoh metode Barcelona, yang diciptakan oleh Julius Tous. Selain itu, masalah kebugaran juga berkaitan dengan diet dan aspek mental si pemain itu sendiri.

Berbeda dengan Milan, yang melakukan program kebugaran di ruang rahasia yang lebih dikenal dengan nama Milan Lab. Kabanya, program ini didasarkan pada penggunaan mesin gym standar yang dikombinasikan dengan analisis data yang teliti. Metode ini disebut-sebut menjadi kunci utama menjaga kebugaran di generasi sebelumnya [seperti Franco Baresi, Paolo Maldini dan Alessandro Costacurta]. Tapi, tidak sedikit juga yang ragu apakah sistem ini secara umum efektif dan pada akhirnya Milan Lab mendapat banyak kritik belakangan ini.

Faktor lain yang mungkin berkontribusi terhadap jumlah pemain cedera di Serie A adalah tingginya tingkat stres, baik secara fisik maupun mental. Para pemain di Italia terus mendapat sorotan media dan tampil di bawah tekanan luar biasa seperti itu jelas tidak membantu pemain menghindari cedera.

Pato bisa menjadi contoh nyata. Selain besarnya harapan yang diapungkan Milanisti, kehidupan pribadinya juga sering menjadi sasaran empuk media, termasuk hubungan dengan putri pemilik klub, Barbara Berlusconi. Karena seringnya masuk ruang perawatan, Pato bahkan mendapat label "sakit kronis".

Tidak mudah memang membuktikan seberapa besar stres bisa mempengaruhi buruknya kondis fisik Pato, tapi kita semua tahu dia mengalami 15 cedera sejak Januari 2012. Lima diantaranya terjadi di musim lalu karena dia bermain di rumput San Siro, yang kabarnya terburuk di Italia.

Buruknya kondisi rumput tidak membuat duo klub Milan tinggal diam. Rossoneri dan Inter berencana mengubah kandang mereka di musim ini dengan menggabungkan rumput sintetis dan asli yang diharapkan bisa mengurangi risiko cedera pemain.

Baru saja kompetisi dimulai, 14 pemain Inter sudah masuk ruang pesakitan, sementara 13 absensi ada di daftar Milan.

Dari seluruh klub Serie A, Genoa satu-satunya yang masih terhindar dari cedera. Jika mereka mampu mempertahankan kondisi ini, bukan tidak mungkin akan menjalani musim yang mengesankan. 

 

Ikuti perkembangan terkini sepakbola Italia di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Serie A Italia lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Italia.



Terkait