thumbnail Halo,

Managing Editor Goal.com Asia, Cesare Polenghi, menjelaskan kenapa lesunya belanja Serie A Italia bukan hal negatif dan Juventus lebih unggul dari tim-tim lain.

GOAL.com Indonesia   CATATAN
CESARE POLENGHI
ALIH BAHASA
AGUNG HARSYA

Semua orang tahu siapa klub yang paling banyak berbelanja selama bursa transfer musim panas, yaitu Paris Saint-Germain. Fakta yang tidak banyak diketahui adalah semua belanja mahal mereka berasal dari liga yang sama, Serie A Italia. Saat menghadapi Lille, Minggu (2/9) lalu, enam pemain dari susunan tim inti diambil dari Italia dalam dua tahun terakhir. Minus Thiago Silva, mereka adalah Javier Pastore dan Salvatore Sirigu (dibeli dari Palermo), Thiago Motta (Internazionale), Zlatan Ibrahimovic (AC Milan), dan Marco Verratti (Pescara).

Nama terakhir paling menarik. Verratti merupakan pendukung Juventus sejak kecil dan dianggap sebagai "Pirlo baru". Kepindahan pemain 19 tahun itu ke Bianconeri tampaknya kian nyata setelah pembicaraan berbulan-bulan, tetapi semua berubah ketika PSG mengetuk pintu Pescara dengan menenteng uang tunai €12 juta.

Selain Verratti, suporter Juventus berharap tim mereka diperkuat penyerang "top". Nama-nama yang beredar mencakup Edin Dzeko, Robin van Persie, dan Fernando Llorente. Pada akhirnya, secara menyedihkan Juve berupaya merekrut Dimitar Berbatov dan kemudian sukses meminjam pemain gagal di Liga Primer Inggris yang hendak mencari permulaan baru, Nicklas Bendtner.

Menarik disorot adalah Berbatov dan Bendtner merupakan pemain dengan karakter yang sama sekali berbeda, meski keduanya sama-sama berakhir dengan masuk daftar incaran Juventus karena dua hal, tersedia dan tidak mahal. Begitu bursa transfer berakhir, pelatih sementara Juventus Massimo Carrera berkata, "Kami tak sanggup membeli pemain yang diinginkan. Mereka terlalu mahal."

Selain Bendtner, Paul Pogba, dan Lucio, yang didatangkan cuma-cuma, bursa transfer Juventus ditutup tanpa kemegahan. Pembelian utama mereka meliputi Mauricio Isla dan Kwadwo Asamoah dari Udinese, serta mengangkut balik Sebastian Giovinco dari Parma. Total belanja adalah €34,2 juta, sedikit di atas biaya €32 juta yang dikeluarkan Chelsea hanya untuk merekrut seorang pemain dari Internacional, Oscar.

Kalau Juventus harus mengetatkan ikat pinggang, situasi dua tim besar Italia lain jauh lebih merana. AC Milan menangguk lebih dari €63 juta hasil penjualan pemain dan pembelian termahal mereka adalah Giampaolo Pazzini, berbiaya €7 juta ke Inter plus Antonio Cassano. Belanja paling signifikan mereka yang lain adalah Nigel de Jong, yang masuk daftar jual Manchester City dan pindah hanya dengan biaya €3,5 juta.

Selain mendapatkan dana penjualan Thiago Silva dan Ibrahimovic ke PSG, Milan memotong anggaran gaji lumayan besar dengan membuang setengah lusin pemain veteran mereka: Pippo Inzaghi, Clarence Seedorf, Alessandro Nesta, Gianluca Zambrotta, Gennaro Gattuso, dan Mark van Bommel.

Revolusi Inter lebih lunak, yaitu dengan melepas para pemain Brasil, seperti Lucio, Maicon, dan Julio Cesar. Semuanya dilepas tanpa banyak drama dan kedatangan yang bisa dicatat adalah Samir Handanovic (dari Udinese dengan transfer €11 juta), Alvaro Pereira, dan Rodrigo Palacio (dari FC Porto dan Genoa yang total menghabiskan €10 juta).

Berkat "Big Summer Sale" di Milan, untuk kali pertama dalam sejarah sepakbola modern tiga klub besar Italia mengakhiri bursa transfer dengan neraca positif. Surat kabar Gazzetta dello Sport menghitung profit bersih hampir dari €20 juta, sedangkan empat musim lalu Juventus, Milan, dan Inter menghabiskan €200 juta dari kas mereka.

Kesimpulan dasarnya, Serie A menjadi lebih miskin dibandingkan dengan tetangga Eropa mereka, namun ada kebenaran lain yang terbit di balik pegunungan Alpen.

Total pengeluaran bursa transfer Eropa musim panas ini menurun 22 persen. Klub-klub Italia "hanya" menghabiskan €398 juta, atau €122 juta lebih rendah daripada tahun lalu. Meski kucuran dana mengalir dari Rusia dan Teluk, Liga Primer mengerem nafsu belanja dari €726 juta menjadi €554 juta, atau turun sebanyak €172 juta.

Situasi lebih ekstrim terjadi di Spanyol, tempat terjadi transfer besar Luka Modric ke Real Madrid dan Alex Song ke Barcelona. Klub-klub La Liga menghabiskan €395 juta tahun lalu dan kini hanya €139 juta.

Dengan krisis ekonomi masih terasa di Eropa, penurunan anggaran belanja yang terjadi di Italia tidak bisa dianggap sebagai faktor negatif. Kita sudah lihat klub sebesar Glasgow Rangers kelimpungan tahun ini. Turunnya nilai belanja justru menjadi sinyal positif kalau klub-klub Italia akhirnya menunjukkan pengetatan ekonomi.

Situasi ini mudah-mudahan akan membawa manfaat lain, seperti peningkatan strategi pemasaran (yang harus dimulai dengan pembangunan stadion yang dimiliki sendiri oleh klub) dan investasi sepakbola usia dini.

Dengan stadion sendiri yang sudah terbangun dan empat pemain binaan sendiri (Claudio Marchisio, Sebastian Giovinco, Paolo De Ceglie, dan Luca Marrone), Juventus berada selangkah di depan klub-klub lain.

Ikuti perkembangan terkini sepakbola Italia di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Serie A Italia lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Italia.

Terkait