thumbnail Halo,

Bursa transfer musim panas menjadi bencana bagi Serie A, tapi ternyata masih ada beberapa alasan bagi fanatik Calcio untuk tetap bangga dengan kompetisi di Negeri Pizza.

Di tengah sinyal kebangkitan Serie A Italia atas performa Napoli dan AC Milan di Liga Champions musim lalu, harapan kembalinya kejayaan seperti di era 1980 dan 1990-an sepertinya akan sia-sia dengan kepergiaan dua bintangnya, Thiago Silva dan Zlatan Ibrahimovic yang segera beralih kostum Paris Saint-Germain.

Sepasang pungawa Milan itu hanya dua dari sejumlah bintang lainnya yang meninggalkan Italia dalam beberapa tahun terakhir -- mengikuti jejak Samuel Eto'o, Javier Pastore, Ezequiel Lavezzi dan Alexis Sanchez. Kecuali Juventus, Serie A untuk pertama kalinya mendapat label sebagai tempat penjualan pemain -- karena klub-klub papan atas secara finansial tak mampu bersaing dalam pasar transfer dengan Real Madrid, Manchester City, Chelsea dan PSG.

Tapi buat para fanatik Lega Calcio, jangan dulu gigit jari dengan kepergiaan para bintang tersebut. GOAL.com mengungkapkan beberapa alasan mengapa tifosi Serie A masih bisa bersuka-cita…

JUVENTUS MASIH BISA BERKIBAR


Milan dan FC Internazionale mungkin ada di posisi lemah dalam beberapa tahun terakhir dan Udinese dipaksa melepas setiap bintang -- kecuali striker veteran Antonio Di Natale -- tapi Serie A masih punya tim berkualitas di tubuh Juventus.

I Bianconeri
sukses merebut Scudetto pertama sejak terlibat skandal Calciopoli enam tahun lalu. Lebih dari itu, gelar Serie A ini akan diyakini bakal menjadi awal kebangkitan Si Nyonya Tua di Liga Champions musim 2012/13. Bisa dibilang, hanya Barcelona yang boleh mengklaim memiliki barisan tengah lebih baik dari mereka, karena I Bianconeri mulai menebar ancaman dengan mendatangkan duo Udinese Kwadwo Asamoah dan Mauricio Isla. Satu lagi tambahan pemain depan kelas dunia, I Bianconeri berpeluang setidaknya mencapai semi-final kompetisi antarklub terelite Benua Biru.

 PSG: TIM PRANCIS RASA SERIE A


Juventus bukan satu-satunya tim 'Serie A' yang diyakini akan bersinar di Eropa musim depan. Itu karena PSG saat ini merupakan 'tim Prancis rasa pasta dan pizza'. Dinahkodai duo legenda Milan Carlo Ancelotti dan Leonardo yang berperan sebagai pelatih dan direktur olahraga, klub Paris itu memboyong tujuh pemain dari Italia dalam kurun waktu 12 bulan terakhir. Bukan tidak mungkin starting XI Les Parisiens nantinya diisi bekas pemain Serie A: Sirigu, Balzaretti, Thiago Silva, Maxwell, Thiago Motta, Sissoko, Verratti, Pastore, Menez, Lavezzi dan Ibrahimovic.

TIM NASIONAL ITALIA MASIH MEMBANGGAKAN


Alasan paling tepat untuk tetap mengikuti perkembangan Campionato [kompetisi] adalah timnas mereka. Finis sebagai runner-up Euro 2012 setelah mempecundangi Inggris dan Jerman, Gli Azzurri membuktikan mereka hanya kalah dari Spanyol di level internasional. Dengan perpaduan pemain berpengalaman dan bintang muda seperti Mario Balotelli,  tampil lebih baik di Piala Dunia dua tahun mendatang tentu bukan sekadar mimpi belaka. Siapa yang mau melihat liga dipenuhi bintang asing, tapi pemain lokal justru terbelakang?

 PRESIDEN YANG 'GILA'


Di negara lain, para presiden biasanya memilih berperan di balik layar untuk 'mengemudikan' klub. Tapi, presiden Serie A punya passion tersendiri, mereka dikenal eksentrik dan vokal. Lihat saja bagaimana Maurizio Zamparini memecat pelatih ke-13, Aurelio De Laurentiis yang menumpang skuter orang lain, Silvio Berlusconi menikmati pesta Bunga Bunga atau Andrea Agnelli dan Massimo Moratti yang saling tuding terkait kasus Calciopoli, drama sepakbola Italia tak ubahnya telenovela di Amerika Latin.

 ITALIA PUNYA PRESENTER TERCANTIK


Salah satu alasan rating siaran pertandingan Serie A masih tinggi adalah hadirnya presenter televisi paling cantik sedunia. Ilarioa D'Amico contohnya, yang membuat angka menonton tidak pernah turun, seperti halnya pembaca berita, penari wanita dan tamu wanita lainnya.

Dan, bagi ladies yang menonton pertandingan di layar kaca, jangan berkecil hati karena wajah bintang lapangan hijau di Italia tak kalah ganteng dibanding pesepakbola liga lain… meski dia bukan figur penting di klub seperti Marco Borriello!


 ITALIA JAGO MEMBUNGKAM KRITIK


Urusan membungkam kritik, Italia jagonya. Di Piala Dunia 1982 dan Piala Dunia 2006, Gli Azzurri tak masuk kandidat juara akibat skandal di kompetisi domestik, tapi mereka pulang dengan status juara dunia. Hal yang sama terjadi di Euro 2000 dan 2012, di mana La Nazionale sama sekali tak diunggulkan, namun secara mengejutkan melaju hingga ke partai puncak meski akhirnya harus puas sebagai runner-up.

Di leveL klub, Serie A sering mendapat cibiran media luar setelah mencuatnya kasus pengaturan skor, tapi Milan justru menjadi juara Liga Champions pada 2007. Tiga tahun kemudian, saat Campionato mendapat label 'rumah pensiun', Inter berhasil menyabet treble winners di bawah asuhan Jose Mourinho.

 SERIE A MASIH PUNYA IDENTITAS SENDIRI


Kompetisi Serie A memang sering bermasalah -- stadion yang kosong hingga setengah dari kapasitas bangku penonton, tindakan anarkis ultras, kekurangan dana, inkonsistensi finansial dan media lokal yang sering 'membuat masalah' meski sebenarnya tak ada problem di klub.

Tapi, Campionato tidak 'menjual' identitas mereka. Tidak seperti Liga Primer Inggris, di Italia masih ada identitas lokal -- klub yang dihuni pemain Italia, pelatih dan presiden. Tidak juga seperti La Liga Spanyol, pemain bintang dan perputaran uang tidak dimonopoli oleh hanya dua klub -- sementara 18 tim lainnya hanya memakan sisa-sisa dua klub penguasa dan berharap mereka mendapat belas kasihan.

Uang bisa membeli pemain Serie A, tapi tidak akan mampu mengambil identitasnya. Ciao!


Ikuti perkembangan terkini sepakbola Italia di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Serie A Italia lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Italia.



Twitter Ikuti Dewi Agreniawati di twitter.

Terkait