thumbnail Halo,

Ambyarnya pertahanan Liverpool dalam kekalahan 5-0 dari Man City membuat ambisi FSG patut dipertanyakan sekalipun berhasil pertahankan Coutinho.


OLEH    YUDHA DANUJATMIKA     Ikuti di twitter

Tak terasa, sudah tujuh tahun berlalu sejak Fenway Sports Group mengakuisisi status kepemilikan Liverpool . Kurun waktu tersebut sama dengan total tahun yang dibutuhkan RB Leipzig untuk melompat dari kasta terendah sepakbola Jerman ke kasta puncak, Bundesliga. Durasi itu pula yang dibutuhkan oleh Jurgen Klopp untuk menjegal dominasi Bayern Munich dan memenangkan lima trofi domestik bersama Borussia Dortmund. Ada masa dan kesuksesan dari tempo yang tidak singkat. Sekarang, mari kita tanyakan pada FSG, apa yang mereka raih selama nyaris sewindu?

Satu Piala Liga.

Musim ini, FSG dan Liverpool masih belum menunjukkan tanda-tanda bakal menambah pundi-pundi gelarnya. Aktivitas transfer laskar Anfield masih belepotan, mereka gagal memboyong Virgil van Dijk dan tak ada satu pun alternatif bek tengah untuk menambal rapuhnya pertahanan mereka. The Reds memang berhasil mempertahankan Philippe Coutinho dan memboyong Naby Keita (musim depan), tetapi hal itu tidak lebih dari sekadar konsolasi jangka pendek jika disandingkan dengan kelemahan utama mereka.

City Liverpool Mane red

SIMAK JUGA - Man City Pukul Telak Liverpool

Sabtu (9/9) malam WIB, kelemahan Liverpool itu diekspos oleh Manchester City dan skor telak 5-0 layaknya batu besar yang dilempar langsung ke wajah Klopp. Kartu merah Sadio Mane memang sangat berpengaruh, tetapi empat gol pasca-Mane menggarisbawahi masalah kronis laskar Anfield yang tak kunjung pulih. Performa catastrophic itu, disandingkan dengan kemenangan 4-0 atas Arsenal dua minggu ke belakang, bisa dibilang hanya menjadi pucuk gunung es dari ambisi tanggung ala Liverpool yang sudah tampak sejak tujuh tahun lalu.

Mimpi, Komoditas Paling Menjual di Anfield

Ketika datang ke Liga Primer Inggris untuk pertama kalinya dan mengambil alih Liverpool, FSG melayangkan idealisme yang membuat air liur para fans menetes. Betapa tidak, perusahaan investasi asal Amerika Serikat itu mengemas ambisinya dalam rencana yang masuk akal sekaligus fantastis. Tidak ada yang lebih menggiurkan dibandingkan tawaran untuk sukses, apalagi untuk fans tim yang sedang terpuruk.

Kurang lebih begini rencananya: FSG ingin menjadikan Anfield sebagai destinasi utama para pemain muda terbaik dunia, tempat di mana tunas-tunas bintang mendapat kesempatan bermain dan menjadi pemain top dunia . Sebagai hasil akhirnya, Liverpool diharapkan mampu menelurkan beberapa gelar bergengsi. FSG pun berhasil “membeli” kepercayaan Kopites dengan mimpi dan harapan untuk sukses.

On This Day Kenny Dalglish Liverpool

Andy Carroll Luis Suarez Liverpool Rancangan masa depan itu disusul dengan langkah yang berani di bursa transfer musim panas 2011. Sang pemilik rela menggelontorkan banyak uang dan memboyong dua striker yang sedang naik daun, Luis Suarez dan Andy Carroll. Berbuah maniskah pendekatan tersebut? Yang pasti, ada secercah harapan yang timbul ketika memenangkan trofi pertamanya dalam enam tahun terakhir, yakni Piala Liga 2012.

The Reds melalui periode fluktuatif setelah kemenangan tersebut. Mereka finis di peringkat delapan, tujuh, lalu Brendan Rodgers (atau Suarez?) sukses mendorong Liverpool finis runner-up di musim 2013/14. Fluktuasi di periode awal dapat dimaklumi dan dimaafkan karena laskar Anfield akhirnya kembali ke empat besar, lagi berlaga di Liga Champions.

SIMAK JUGA - Klopp Tak Tergesa Orbitkan Woodburn

Harapan yang timbul ternyata cuma secercah dan tidak bertambah terang. Tak sampai beberapa bulan, ia langsung redup, bahkan padam.

Ambisi Serbatanggung Liverpool

Setelah membawa Liverpool kembali ke Liga Champions, Rodgers yang kehilangan Suarez tak mampu mendatangkan pengganti sepadan. Alexis Sanchez jadi sasaran utama, tapi pendekatan lamban komite transfer berujung kegagalan – winger Cile itu malah pindah ke klub rival, Arsenal.

Di sini, kelemahan komiter transfer dalam belanja mulai terlihat. Mereka tak mampu meyakinkan pemain top dunia, hanya mampu merayu pemain muda yang mentah atau pemain berpengalaman yang mulai hilang sentuhan magisnya. Sebagai ganti Sanchez, FSG justru mendatangkan Lazar Markovic, Emre Can, dan Mario Balotelli.

Hasilnya? Bencana. Liverpool gagal lolos dari fase grup dan finis di luar empat besar Liga Primer Inggris.

Mario Balotelli, Liverpool

Tak hanya itu, di musim kelam itu, makin terungkap pula bahwa mimpi yang ditawarkan oleh FSG di awal kedatangannya cuma manis di mulut. FSG berambisi menjadikan Anfield sebagai tempat pemain muda meraih sukses, tapi eksekusinya dilakukan dengan setengah hati. Ketika berhasil memboyong beberapa pemain muda, mereka tidak mendukungnya dengan pengasahan potensi yang optimal.

Staf kepelatihan gagal menyulap pemain berpotensi jadi pemain kelas dunia. Philippe Coutinho hanyalah satu-satunya pemain muda yang berhasil di era FSG. Sebastian Coates yang disebut calon kapten Uruguay, gagal memenuhi potensinya dan kini bermain untuk Sporting CP. Tiago Illori yang diprediksi jadi penerus Ricardo Carvalho, hanya bermain sebentar di Liga Primer. Masih ada nama lain yang semenjana, seperti Luis Alberto, Andre Wisdom, dan lain sebagainya.

Ambisi yang tak diimbangi dengan pilihan dan langkah tepat tentu hanya berakhir pada mimpi di siang bolong. Jangankan terwujud, mimpi yang telah lama dikoar-koarkan oleh sang investor bahkan belum kelihatan bentuknya. Komite transfer The Reds tampaknya selalu jatuh pada lubang yang sama. Sedihnya, sementara Liverpool berkutat pada masalah klasik, para klub rival sudah mulai membangun dinastinya.

Sebastian Coates

Ironisnya, klub-klub selain Liverpool justru lebih dulu mewujudkan apa yang dijual sebagai komoditi oleh FSG. Manchester City, misalnya, justru telah membuktikan diri sebagai klub yang memiliki daya tarik terhadap pemain muda berkualitas. Leroy Sane, John Stones, Ederson, Gabriel Jesus, Bernardo Silva, dan Benjamin Mendy adalah pengejawantahan daya tarik yang sebagian besar menjadi tanggung jawab Pep Guardiola.

Mencapai Titik Jenuh?

Pola yang sama tampaknya akan terulang musim ini. Seperti musim-musim sebelumnya, Liverpool punya masalah pada satu aspek, namun tidak memberikan solusi akurat. Sudah jelas lini belakang yang jadi perkara. The Reds tidak cukup tangguh di belakang hanya dengan kehadiran Dejan Lovren, Joel Matip, Ragnar Klavan, dan Joe Gomez. Tak satu pun dari mereka memiliki apa yang dibutuhkan untuk bersaing di papan atas Liga Primer Inggris – dan tidak mengherankan ketika mereka di- bully oleh Sergio Aguero dkk.

SIMAK JUGA - Bagaimana Nasib Coutinho Selanjutnya?

GFXID - Liverpool, Joel Matip

Kegagalan transfer Van Dijk tidak hanya akan mengganggu satu aspek permainan Liverpool, tapi bisa menjadi ganjalan untuk performa mereka sepanjang musim. Belum lagi, The Reds harus bersaing di Liga Champions dengan sumber daya bertahan yang sangat terbatas. Jika tak ada manuver canggih untuk merampungkan perkara ini, segala asa yang diusung Klopp dan FSG hanya akan jadi bualan belaka. Fans tentu mulai jenuh dengan janji dan ambisi yang selalu dijual, sementara realisasi nyaris nol besar.

Kekalahan 5-0 dari Man City hanyalah puncak gunung es. Di bawah permukaan air, masih ada segudang problema yang patut diperhatikan. Batal pindahnya Van Dijk tentu merupakan dampak dari buruknya kinerja komite transfer plus Public Relation yang tidak berpikir matang-matang tentang pernyataan resminya. Minimnya alternatif dari Van Dijk turut jadi perhatian karena ini adalah tugas tim pencari bakat The Reds . Kemudian, minim antisipasi terhadap kedalaman skuat di sektor kanan, Nathaniel Clyne cedera sehingga Trent Alexander-Arnold yang masih muda harus menanggung beban tanggung jawab yang besar – dan berdampak terhadap performanya di Etihad Stadium.

Coutinho & Klopp

Kopites mungkin akan mencapai titik jenuh seandainya Liverpool gagal lolos dari fase grup Liga Champions. Masa-masa kelam setelah ditinggal Suarez pada musim 2013/14 bisa saja terulang walau skenarionya berbeda. Adapun ambisi tanggung ala Liverpool masih jelas terlihat di tubuh klub. Mereka masih berani menjual mimpi yang tinggi, tetapi tidak mengoptimalkan usaha untuk mewujudkan mimpi tersebut. Langkah yang diambil terlampau lamban dibandingkan para klub top Eropa lain.

Meskipun begitu, fans Liverpool masih boleh berharap musim ini. Philippe Coutinho pada akhirnya bertahan di Anfield dan diharapkan bisa memberi dampak positif dalam hal kreativitas. Gelandang Brasil itu memang tidak seberpengaruh Suarez, tetapi kualitasnya sebagai playmaker layak diacungi jempol. Selain itu, peningkatan performa Simon Mignolet perlu disanjung. Prosesnya memang lama, tapi jika semua itu bisa diproyeksikan pada deretan bek Liverpool saat ini, niscaya empat besar (ya, trofi juara tampaknya masih jauh) bisa diraih musim ini.

Mau nonton pertandingan tim kesayangan kalian? Pastikan kalian memiliki kuota data VideoMAX SuperSoccer TV -- saluran streaming sepakbola paling lengkap! Nikmati keseruan aksi para bintang sepakbola dunia dengan cara mengaktifkannya melalui aplikasi MyTelkomsel atau menu akses *363*465#

Telkomsel - Footer Banner

 

Terkait