thumbnail Halo,

Inggris dipastikan telah kehilangan panutan terbaiknya, dan pensiunnya Gerrard adalah yang terbaik bagi Liverpool, dirinya sendiri dan mungkin untuk Inggris.


GOALOLEH    FARABI FIRDAUSY     Ikuti di twitter

Steven Gerrard memastikan diri untuk menyudahi kariernya di kancah internasional bersama tim nasional Inggris, Senin (21/7). Pengabdiannya dengan kepada The Three Lions mencatatkan 114 caps, 21 gol dan 22 assists.

Keputusan yang tentu tak mudah untuk Gerrard, namun bisa jadi tak begitu sulit. Ya, selama 14 tahun membela Negeri Ratu Elizabeth di berbagai ajang Gerrard memang tak memberikan gelar prestisius bak Bobby Moore ataupun Bobby Charlton. Tapi keputusannya itu tetap mengundang respek dari berbagai pihak dan menciptakan kehilangan tersendiri di mata dunia.

“Anda tak butuh memenangkan trofi jika Anda adalah Steven Gerrard,” ucap David Beckham suatu ketika yang menggambarkan betapa pria asli Merseyside itu begitu dihormati.

Namun Inggris tetaplah Inggris, ekpektasi dari media dan publik terlalu besar untuk Anda pikul jika Anda sudah berkostum timnas, terlebih jika Anda adalah sosok senior dengan ban kapten di lengan. Itulah mengapa keputusan Gerrard untuk menanggalkan jubah Three Lions sekaligus jabatan kapten mungkin akan mudah dan membuatnya lega.

Dan Liverpool, klub di mana Gerrard dilahirkan dan membuatnya jadi seperti sekarang mungkin akan menikmati puncak kematangan di penghujung kariernya. Idola publik Anfield itu pun mengakui bahwa Liverpool yang kembali bertaji sejak ditangani Brendan Rodgers dan tampil lagi di Liga Champions musim depan jadi alasan mengapa keputusan besar itu diambil.

“Ini adalah keputusan tersulit yang pernah saya buat dalam karier saya. Saya yakin bisa terus bermain di level tertinggi bersama Liverpool. Saya yakin ini adalah keputusan yang tepat. Dan kembalinya Liga Champions ke Anfield adalah faktor besar lain yang mempengaruhi keputusan ini,” katanya.

Gerrard sadar apa yang ia hasilkan bersama Inggris di Piala Dunia 2014 tak akan dikenang baik sebagaimana tim asuhan Roy Hodgson itu kembali gagal total. Dan kenangan pahit serta kecaman publik ketika ia tak sukses kala berkostum Inggris hanya akan menambah kantung matanya yang tebal makin kentara.

Tekanan suporter Inggris yang juga tentu datang dari berbagai pendukung rival Liverpool seperti Chelsea, Manchester United, Everton dan sebagainya hanya akan membuat tanggung jawabnya sebagai pesepakbola panutan akan semakin berat jika ia terus kekeuh mempertahankan diri untuk timnas Inggris, setidaknya hingga EURO 2016.

Liga Champions yang kembali di depan mata dan asa menjadi juara Liga Primer Inggris untuk pertama kali bersama Liverpool tentu jadi prioritas terbaik untuknya. Karena percaya atau tidak, mungkin hanya suporter Liverpool yang akan terus mencintainya dan tak memberi kritik pedas kepada pemilik nomor delapan itu jika pun dia gagal.

Bahkan saat ia ‘melepas' gelar liga ke-19 Liverpool dengan terpeleset saat menjamu Chelsea musim lalu, cukup rasa kecewa yang tumbuh dari para suporter, tanpa umpatan berlebih. Lain hal sewaktu dirinya bermain buruk saat melawan Uruguay dengan kostum Inggris di Brasil lalu. Di mana seisi daratan Inggris mengumpatnya karena blunder yang melahirkan gol kedua Luis Suarez saat Inggris bertemu Uruguay.
 
Atau yang ia lakukan di EURO 2004 kepada Thierry Henry sehingga Prancis menyamakan kedudukan di menit akhir lewat Zinedine Zidane. Itu adalah bukti bahwa pemain yang menjabat kapten Inggris sebanyak 38 kali ini tak pernah begitu manis untuk Inggris.

Tapi Gerrard adalah burung dalam sangkar, dan sangkar itu adalah Liverpool. Dua, tiga atau bahkan empat tahun ke depan dirinya tak perlu lagi berpikir untuk memperebutkan tempat di lini tengah Inggris untuk bersaing dengan nama-nama segar seperti Ross Barkley, Jack Wilshire, James Milner atau bahkan rekan setimnya Jordan Henderson. Ia cukup fokus untuk meraih gelar bersama Liverpool, membangun karakter klub yang lebih kuat bersama Brendan Rodgers dan tentu menuntaskan dahaga gelar mayor seperti Liga Primer atau Liga Champions.

“Gerrard masih bagian penting dari Liverpool, dan saya pikir dia masih akan memiliki peran tersebut untuk dua atau tiga tahun ke depan, jadi bagi manajer Brendan Rodgers, keputusan pensiun tersebut merupakan keputusan yang luar biasa,” dukung Jamie Carragher yang tentu tahu persis bagaimana rekan seperjuangannya di Melwood itu.

Keputusan mundur bagi Gerrard hanya akan membuat segala kegagalannya bersama Inggris dilupakan, dan menjadi angin segar untuk Liverpool. Sosoknya yang menjadi penutan para generasi muda Inggris yang mulai bermunculan mungkin akan sulit tergantikan, mungkin dalam tahunan atau lebih cepat.

Gerrard tak sendirian menjadi nama besar Inggris yang gagal karena pensiun tanpa mempersembahkan gelar. Ia bergabung dengan Paul Gascoigne, Matt le Tissier, John Terry atau bahkan David Beckham. Namun, Gerrard boleh dibilang jadi sosok langka yang mundur dengan segala respek setelah pengabdiannya selama ini.

Jika Inggris adalah negara di mana Gerrard berpijak, maka Liverpool adalah hidup dari Gerrard itu sendiri. Dan janji untuk menggenggam trofi yang pantas ia persembahkan ke hidupnya sendiri itu, jadi fokus yang paling pantas tersisa di ujung kariernya.
 
Liverpool dan para loyalisnya akan merasa beruntung karena sang kapten tak akan membagi fokusnya dengan hal lain kecuali klub. Dan Inggris sendiri, barangkali juga bisa lebih segar karena sejatinya Gerrard tak sukses bersama di sana.

Persaingan lini tengah Inggris lebih terbuka sepeninggal Gerrard. Sejumlah nama bisa masuk mengisi tempat Gerrard di turnamen internasional akbar selanjutnya, dan manajer Inggris tak perlu lagi merasa ‘tak sopan’ menaruh Gerrard di bangku cadangan.

Dengan segala hormat, Gerrard memang mundur dengan terhormat meski tanpa mempersembahkan hal yang berarti. Namun sosok sepertinya memang akan sukar kembali ditemukan di dalam balutan seragam Inggris, dan dapat dipastikan Inggris telah kehilangan sosok panutan paling dikenang di era sepakbola modern.
 



 

Terkait