thumbnail Halo,

Posisi empat besar gagal disegel, Piala FA melayang, seyogyanya mungkin sudah saatnya Arsene Wenger mengepak koper...


GOALOLEH   ANUGERAH PAMUJI     Ikuti Anugerah Pamuji di twitter

Gol bunuh diri dari Mikel Arteta di menit ke-62 akhir pekan lalu menyempurnakan pesta kemenangan 3-0 Everton di Merseyside. Arsenal pun pulang dari Goodison Park dengan lesu dan kepala tertunduk.

Parahnya, sang lawan yang duduk di posisi kelima kini cuma tertinggal satu poin dari klub Gudang Peluru. Artinya, jangankan menjadi juara Liga Primer Inggris musim ini, kiranya bertarung di posisi empat besar saja The Gunners berada dalam posisi rawan tersalip oleh The Toffes.

Segelintir suara guncangan agar sang juru taktik Arsene Wenger sudah saatnya hengkang dari Emirates pun boleh jadi kembali mengudara. Sulit rasanya mengihindari pertanyaan ini: apakah The Proffesor masih menjadi orang yang tepat untuk menahkodai Arsenal di musim-musim berikutnya?

Kita mengulang periode awal musim, di mana kala itu anak-anak Wenger begitu apik menampilkan performa kebangkitan dengan hasil-hasil yang menjanjikan. Salah satu kisah terbaik di awal musim adalah Wenger yang mengesampingkan kebiasaannya dalam satu dekade terakhir ketika mendatangkan Mesut Ozil dengan nilai transfer yang memecahkan rekor pembelian klub. Arsenal pun menunjukkan tanda-tanda dominasi dalam beberapa pekan di paruh pertama musim.

Namun, cerita itu bukanlah penawar, karena bagaimana pun yang dihadapi tim adalah hari ini dan esok.

Ada yang miris, menurut catatan Opta, persis setengah gol kebobolan Arsenal di musim ini datang dari rival terdekat mereka di EPL atau tim-tim kandidat juara lainnya.


"20 - setengah dari 40 gol kemasukan Arsenal di Liga Primer musim ini berasal dari laga melawan Chelsea, Everton, Liverpool dan Manchester City. Terpukul."

Mengilas balik Desember tahun lalu, Arsenal menghadapi Everton dengan kondisi unggul tujuh poin dari kejaran musuh terdekat di pucuk tabel EPL. Mereka ditahan imbang berkat gol telat dari Gerard Deulofeu, dan sejak hasil itu mereka tak pernah lagi kembali ke performa maksimal seperti di masa awal musim.

Kembali menyinggung situasi di klasemen, hanya satu poin jarak yang memisahkan Arsenal dari Everton, tapi anak-anak Roberto Martinez menabung satu laga yang belum dimainkan. Hal ini jelas jadi ancaman nyata perihal kemungkinan klub London Utara pasrah bertukar posisi.

Hal ini pula menjadi bukti konkret bahwa keliru bila meragukan kapabilitas The Toffes sebagai tim yang layak bersaing di lintas menuju pentas Liga Champions.

Yang tertinggal sekarang hanyalah anggapan jika Arsenal seperti terlalu patuh kala berhadapan dengan laga-laga masif. Kemudian timbullah pertanyaan lainnya, apakah Arsenal memang masih mengantungi motivasi yang sama selayaknya mereka di era 'invicible' sepuluh tahun yang lalu? Publik sepakbola tak pernah menyangsikan jika kubu Emirates memiliki materi pemain bertalenta!

Cukup menyedihkan, para pemain tampak bermain minim keyakinan dan rendah ancaman. Pemandangan di Goodison kemarin memantapkan pandangan bahwa kekuatan motivasi Wenger perlahan-lahan mulai memudar.

Tak ada kharisma seperti yang diperlihatkan mereka di paruh pertama musim hingga mampu mendominasi singgasana. Sekarang secara dramatis mereka terjun bebas. Di putaran kedua edisi 2013/14 mereka tampil dengan spirit apa adanya.

Para penggawa memang tak bisa sepenuhnya disalahkan, karena bagaimana pun, ada otak yang menggerakkan mereka di belakangnya, dialah sang pelatih keramat, Wenger. Apa yang dicapai Arsenal musim ini, bahkan dalam penantian gelar juara selama beberapa musim, ada banyak hal yang patut disoroti dari sejumlah kebijakan yang diambil oleh pria Prancis itu.

Bisa karena strategi bermain yang sudah usang? Boleh jadi lantaran jajaran direksi yang tak memiliki kesinambungan pemikiran dengan sang pelatih? Atau gara-gara metode pelatihan yang justru menjadi boomerang bagi anak-anak didiknya.

Untuk aspek yang terakhir, memang ada benarnya. Seorang pelatih kebugaran sepakbola yang menjadi asisten timnas Wales, Raymond Verheijen, belum lama ini mengecam gaya latihan kebugaran ala Wenger yang dianggapnya tidak kompeten. Lebih lanjut, Verheijen berpendapat, pilar-pilar Arsenal diperlakukan bak marinir. Hal inilah yang dinilainya akar dari krisis cedera yang selalu menghantui Arsenal.

Theo Walcott | "pelanggan" setia ruang perawatan Arsenal

Menurut PhysioRoom, tercatat ada sembilan penggawa The Gunners menghuni ruang perawatan akibat cedera, angka tertinggi di antara seluruh kontestan EPL. Bagi pria Belanda itu, fakta ini bukanlah sebuah kebetulan, karena badai cedera ini sudah berlangung dalam beberapa musim dan ada inkompetensi dari metode latihan yang diaplikasikan Wenger.

"Dalam olahraga yang mengandung kontak kadang-kadang ada cedera yang tak diduga, namun sebagian besar cedera adalah hasil dari kemampuan tubuh yang terbatas. Jelas ada sesuatu yang salah. Jika Anda melihat ganjaran dengan angka yang tinggi, ada sesautu yang tidak beres dalam sepuluh tahun. Jelas ini adalah inkompetensi, harusnya ada perbaikan, sehingga Anda menyadari hal itu," cetus Verheijen.

Parahnya, Verheijen menambahkan, masalah kebugaran Arsenal ini sumbernya dari cara latihan Arsenal secara umum, terutama saat melakoni pramusim. Para pemain disetir bak marinir. Kritik sama pernah ditujukan Verheijen untuk Manchester United-nya David Moyes, yang tak ubahnya Arsenal. Verheijen menyebut eks pelatih Everton bak "dinosaurus" dalam mengomandoi anak asuhnya.




"Selama bertahun-tahun saya sudah bicara dengan para pemain Arsenal dalam beberapa periode pramusim, mereka berlatih seperti marinir, bukan seperti pemain yang berlaga di EPL"


- Raymond Verheijen


Verheijen menganalisis, muatan latihan yang berlebihan sudah pasti mengakumulasi kelelahan. Ketika para pemain dilanda masalah satu ini, sistem saraf mereka akan menjadi lamban yang ujungnya memengaruhi koordinasi kontrol tubuh saat dipaksakan melakukan kegiatan yang menuntut eksplosivitas tinggi.

Inilah yang membuat pemain seperti Theo Walcott, Aaron Ramsey dan Jack Wilshere, yang notabene rentan cedera, kerap dirundung problem kebugaran yang tak kunjung usai setiap musimnya.

Namun Wenger seperti enggan disalahkan. Dia sempat berdalih, hantu cedera diakibatkan karena beberapa pemainnya ada yang mengonsumsi suplemen yang bisa meningkatkan performa demi mengimbangi gaya hidup. Menurut Wenger, langkah ini tidak bijaksana, sebab obat tertentu akan mempengaruhi hati yang berakibat menurunnya daya tahan tubuh.

Kondisi ini pun "didukung" dengan pendekatan Wenger dalam mengolah starting XI tim. Dalam beberapa musim, Wenger terpaku dengan pola bermain "Arsenal Way"-nya. Sementara, tim-tim lain terus bereksperimen dengan model nan inovatif sehingga The Proffesor pun terbilang ketinggalan jaman.

Liverpool misalnya, mereka beberapa kali menjajal pola dengan memainkan tiga bek. Hal ini semata demi menciptakan keseimbangan skuat.  
 
Saat Arsenal tertinggal 2-0 dari Everton di babak pertama, banyak fans yang mengharapkan perubahan taktik dan pergantian pemain. Tapi, Wenger bergeming.

Sudah saatnya Wenger memang mengubah idealisme kebijakannya jika dia memang mengusung semangat yang sama seperti sepuluh tahun yang lalu.
 
Salah satu cara yang paling mungkin dilakukan adalah dengan mendatangkan orang-orang yang pernah terlibat dalam era invicible Arsenal. Untungnya, rencana ini siap digalakkan manajemen. Klub dilaporkan bersiap menunjuk Pascal Cygan, mantan bek Arsenal yang diproyeksi menduduki posisi Konsultan Strategi Klub. Pria Prancis berusia 39 tahun ini diyakini bisa membawa vitalitas baru ke skuat Arsenal.

Sementara barisan kelompok suporter macam Arsenal Supoorter's Trust, Black Scarf Movement dan Arsenal Need Another Leader, sudah mengajukan proposal agar klub sepatutnya menarik para pahlawan invicible yang dianggap mengerti betul Arsenal secara akar dan menyadari permainan sepakbola modern.

Di antara orang-orang yang dimaksud, tiga figur sudah didiskusikan, yakni Partick Vieira, Dennis Bergkamp, dan Cygan. Mungkin dua nama pertama bakal sulit didatangkan mengingat adanya kompensasi yang harus dibayarkan karena masing-masing memiliki peran di Manchester City dan Ajax. Cygan jadi orang yang paling mungkin. Kendati dia jarang mendapatkan porsi di tim selama melakoni karier di Arsenal, Wenger selalu terkesan dengan intelejensi sang mantan defender dalam memandang pertandingan.

Bagaimana dengan masa depan Wenger? Ini yang sulit dijawab. Katakanlah sosok-sosok heroisme ini bergabung, tak menjamin Wenger bakal tetap duduk di bench Arsenal untuk musim-musim seterusnya.

Kontrak Wenger bakal tamat pada akhir musim ini. Mencuat keraguan, apakah dia bakal tetap mengemudikan tim di musim 2014/15? Selalu ada harapan, karena keputusan sepenuhnya ada di tangan mantan peatih AS Monaco itu, lanjut atau berhenti. Namun melihat catatan Arsenal dalam beberapa pekan terakhir ini, direksi Arsenal tentu akan mempertimbangkan rencana darurat mereka.

Wenger adalah pelatih cerdas, yang cepat atau lambat bakal melihat para pemainnya tak lagi nurut dengan instruksinya. Wajah baru mungkin diperlukan untuk mendapatkan potensi terbaik dari skuat saat ini.


Klasemen EPL 2013/14 dengan lima pertandingan tersisa
  P M S K GM GK Poin
Liverpool 33 23 5 5 90 40 74
Chelsea 33 22 6 5 65 24 72
Manchester City
31 22 4 5 84 29 70
Arsenal 33 19 7 7 56 40 64
Everton 32 18 9 5 52 31 63


Lima pertandingan tersisa, terpaut 10 poin dari puncak tabel yang dikuasai Liverpool, sadar diri saja Arsenal-nya Wenger sulit juara musim ini. Lagi dan lagi, peluang terbaik Arsenal memang mengakhiri liga di posisi empat besar, seraya berharap Piala FA jadi secercah pelipur lara.

Namun jika semua ini tidak terpenuhi, mungkin sudah saatnya Wenger mengepak koper.


Liga Primer Inggris >> Halaman Khusus Sepakbola Inggris
>> Berita Sepakbola Inggris Lainnya
>> Semua Klub EPL & Panduan 2013/14
>> Klasemen Liga Primer Inggris
>> Jadwal & Hasil Liga Primer Inggris
>> Daftar Transfer Liga Primer Inggris
>> Rapor Pemain Liga Primer Inggris


Terkait