thumbnail Halo,

Luis Suarez selalu memiliki peran yang berbeda setiap musim sejak kedatangannya ke Anfield pada awal 2011.


GOALOLEH MUHAMMAD RUFFY


Bagaimana anda menempatkan Luis Suarez dalam formasi 4-3-3? Bagaimana tim anda mengelilingi seorang pemain yang tidak memiliki posisi tetap? Atau yang hanya bisa menampilkan performa terbaik saat mengandalkan kemampuannya sendiri?

Suarez memang pemain terbaik Liverpool musim lalu, bahkan menjadi top skorer di Liga Primer Inggris sampai kemudian ia diskorsing akibat menggigit Branislav Ivanovic saat kompetisi masih menyisakan beberapa pekan. Akan tetapi ia terus membuat The Reds terus mengalami evolusi taktik sejak kedatangannya dua setengah tahun lalu.

Meskipun demikian, Suarez akan tetapi menjadi bagian dari tim utama Liverpool serta orang yang akan memakai nomor keramat 7 dalam tim Brendan Rodgers musim depan. Akan tetapi dalam peran apa?

DEBUT




Sejak kedatangannya pada Januari 2011 lalu, Suarez memang awalnya diprediksi akan menjadi second-striker, sebagai tandem Fernando Torres di depan. Akan tetapi ternyata hal itu tak terjadi karena Torres minta dijual dan akhirnya pindah ke Chelsea dengan nilai sebesar 50 juta poundsterling, hanya beberapa jam setelah Suarez dibeli dari Ajax Amsterdam dengan nilai kurang dari setengah dari harga Torres.

Pada akhirnya, Suarez pun diduetkan dengan Andy Carroll yang didatangkan terburu-buru seharga 35 juta poundsterling. Sayang duet tersebut tak maksimal dimainkan manajer kala itu, Kenny Dalglish, akibat cederanya Carroll serta tak bisa tampilnya Suarez di kompetisi Eropa.

Selama paruh kedua musim 2010/2011 tersebut, Suarez lebih banyak dimainkan berduet dengan Carroll dan Dirk Kuyt, bahkan terkadang sebagai striker tunggal dengan Kuyt atau Maxi Rodriguez menopangnya lewat sayap. Namun sebagian besar ia dimainkan di antara para pemain belakang lawan, sebagai penyerang tengah.

Ia mengakhiri musim tersebut dengan mencetak empat gol dari 13 pertandingan Liga Primer bersama The Reds. Gol pembukanya hanya dicetaknya 15 menit pada laga debutnya sebagai pemain pengganti saat melawan Stoke City.


ERA KENNY DALGLISH



Di musim penuhnya sebagai pemain Liverpool, banyak yang berharap dari performa Suarez. Apalagi sebelumnya pada laga-laga pramusim ia telah menunjukkan kemampuan hebat dalam melewati pemain, mencetak gol, serta menciptakan peluang-peluang untuk rekan-rekannya.

Suarez pun menjadi striker pilihan pertama Dalglish. Ia pun memainkan perannya dengan baik sebagai penyerang tengah sambil sesekali turun ke bawah untuk mengalirkan bola. Apalagi saat itu Dalglish sedang kesulitan mencari formula di lini tengah dimana para pemain seperti Lucas Leiva, Charlie Adam, dan Jay Spearing, sering kesulitan mengontrol lini tengah Liverpool.

Saat itu para pemain baru seperti Stewart Downing dan Jordan Henderson belum bisa nyetel dengan cepat di lini penyerangan Liverpool. Akibatnya, Suarez harus bekerja keras baik sebagai kreator serangan maupun pencetak gol. Carroll memang sering bermain namun selalu gagal mencetak gol. Hal itu membuat beban di pundak Suarez kian besar.

Saat kedua pemain itu bermain bersama, Suarez berperan sebagai striker yang mengandalkan agresivitas dan kecepatan. Sementara Carroll mendukungnya lewat posisi yang lebih ke dalam di antara para bek. Akan tetapi duet tersebut tak selalu berjalan dengan baik.

Secara keseluruhan, performa Suarez memang positif untuk Liverpool. Akan tetapi perbandingan tembakannya ke gawang dengan golnya buruk. Ia hanya sanggup mencetak 11 gol sepanjang musim dari 108 tendangan, artinya ia hanya memiliki sanggup memanfaatkan peluangnya sebesar 10 persen.

Akibat harus bekerja keras sepanjang musim, Suarez gagal mengeluarkan kemampuan terbaiknya hingga akhir musim. Ia tidak mendapatkan dukungan yang memadai dari lini tengah, lebih sering membawa bola sendiri, dan terlihat sering terlalu memaksakan menciptakan peluang.


ERA BRENDAN RODGERS


Musim berikutnya, 2012/2013, Brendan Rodgers datang dari Swansea City dan membuang carroll ke West Ham. Sebagai gantinya, ia mendatangkan penyerang AS Roma Fabio Borini. Akan tetapi cederanya penyerang Italia lagi-lagi memaksa Suarez kembali harus berjuang sendirian di depan.

Suarez pun lagi-lagi tak menunjukkan tanda-tanda meredup setelah ia sanggup beradaptasi dengan formasi Rodgers. Perbedaan Rodgers dengan Dalglish, Suarez diberi keleluasaan bergerak di lini depan dengan harapan pemain lain mampu menutup lubang yang ditinggalkan Suarez.

Di awal musim, ia bekerja sama dengan baik dengan pemain belia Raheem Sterling. Kemudian ia juga tampil bagus berpadu dengan Nuri Sahin, Jonko Shelvey, dan kemudian di pertengahan musim dengan Jose Enrique yang oleh Rodgers sengaja didorong ke depan.

Di era Rodgers, Suarez benar-benar jadi tumpuan. Ia bisa dijumpai di sisi manapun di lini depan Liverpool, menciptakan kebingungan di lini pertahanan lawan, namun juga bisa turun ke tengah untuk memulai serangan dari sana. Akibatnya, sulit bagi para pemain lawan untuk menghentikan dan melacaknya.

Hingga akhir Desember, Suarez sudah mencetak 13 gol, lebih dua gol dari yang dicetaknya sepanjang musim sebelumnya. Liverpool pun harus berterima kasih kepadanya karena berkat gol-gol pemain asal Uruguay itu The Reds masih berada di enam besar. Konsistensinya membuat minimnya kualitas di timnya tertutup dan membuat para pemain lain yang masih di bawah performa terbaiknya tak terlihat.

Bisa dibilang, Suarez bisa memainkan sekaligus peran no.9 dan no.10 di timnya dengan sangat bagus. Sayangnya, ia tak didukung oleh lini tengah yang pintar mencetak gol saat ia menciptakan kepanikan di lini pertahanan lawan.


AKHIR 2012/2013


Memasuki bulan Januari, Daniel Sturridge datang. Suarez pun mendapatkan bantuan di lini depan yang berarti peran Suarez di lini depan sedikit berubah. Rodgers mengubah formasi menjadi 4-4-2 dan menjadikan penyerang berusia 25 tahun itu seorang second-striker.

Suarez dan Sturridge menjadi paduan yang baik para permulaan. Akan tetapi keberadaan keduanya di depan membuat lini tengah The Reds melemah. Skuat Rodgers menjadi kesulitan melawan tim-tim yang memiliki pergerakan bagus atau kekuatan di lini tengah. Penyerangan Liverpool memang bagus, namun tidak di lini-lini lainnya.

Kemudian datang pemain lain yang membuat dampak pada posisi Suarez, yaitu playmaker asal Brasil Philippe Coutinho. Pemain nomor 10 itu langsung membuat efek yang bagus untuk tim. Ia sanggup mencetak gol dan menciptakan peluang untuk Suarez dan Sturridge. Formasi lini depan Liverpool pun mulai terbentuk dengan Coutinho sebagai pusat permainan dan Suarez di sisi kiri.

Suarez pun sering menjadi penentu kemenangan sejak kedatangan Coutinho, Ia sering memamerkan dribelnya dari sisi kiri, melakukan akselerasi, dan mencetak gol ke sudut gawang. Untuk beberapa saat, itu seolah bakal menjadi formula pakem untuk Liverpool sebelum kemudian Sturridge mengalami cedera dan memaksa Suarez kembali ke posisinya sebagai penyerang tengah.

Taktik terakhir Rodgers ini sedikit merugikan Suarez karena ia sering diminta turun ke bawah. Bahkan ia beberapa kali lebih sering terlihat sebagai gelandang kiri. Hal ini dikarenakan Rodgers meminta anak-anak asuhnya bermain lebih bertahan ketimbang saat awal musim.

Hal ini membuat Suarez terlalu jauh dari gawang dan akibatnya ia sering gagal memberikan ancaman di kotak penalti lawan. Meskipun demikian beberapa partai terakhir berduet dengan Sturridge ia sanggup mencetak gol, salah satunya gol penyama kedudukan melawan Chelsea yang menjadi laga terakhirnya musim 2012/2013. Hal itu dikarenakan ia terkena larangan bertanding hingga musim berakhir.

APA PERAN SUAREZ MUSIM DEPAN?


Musim panas ini banyak yang mengait-ngaitkannya dengan sejumlah klub seperti Real Madrid dan Arsenal. Meskipun demikian Goal meyakini mantan bomber Ajax itu akan tetapi bertahan di Merseyside. Hal tersebut dibuktikan dengan keikutsertaannya dalam tur Liverpool ke Asia dan Australia pada pramusim.

Dengan sejumlah pemain baru seperti Luis Alberto, Simon Mignolet, dan Iago Aspas, Rodgers akan memiliki lebih banyak opsi untuk membantu Suarez menciptakan lebih banyak gol musim depan. Tentunya, ia juga akan ditopang dengan para pilar musim lalu seperti Sturridge, Coutinho, Borini, dan jangan lupa sang kapten Steven Gerrard yang baru saja menandatangani kontrak baru.

Dengan melimpahnya stok di lini depan, Rodgers sudah pasti akan menempatkan Suarez di posisi terbaiknya, yakni sebagai penyerang free-role yang menopang Sturridge maupun Borini, bekerja sama dengan Aspas dan Alberto, namun juga sanggup menyelesaikan umpan-umpan matang dari Coutinho maupun para pemain tengah seperti Gerrard dan Jordan Henderson.

Musim panas ini, kontrak Suarez masih menyisakan tiga tahun lagi di Anfield. Jika Rodgers mampu membawa timnya menembus Liga Champions musim depan, siapa tahu hati Suarez berubah dan ia justru kian betah di Liverpool?


Web Resmi Liverpool FC Berbahasa Indonesia
Untuk informasi lebih lanjut mengenai tiket Liverpool FC melawan Indonesia XI, dan juga berita-berita terkini The Reds dalam bahasa Indonesia, kunjungi laman resminya di http://indonesia.liverpoolfc.com

Terkait