thumbnail Halo,

Minimnya pemain kelas dunia membuat Liverpool sulit berprestasi


GOALOLEH   HENRY AA

Prestasi Liverpool di musim lalu termasuk mengecewakan. Mereka hanya finis di peringkat ketujuh di Liga Primer Inggris dan tidak meraih satu gelar pun. Sejak meraih gelar liga di musim 1989/90 (masih disebut Divisi Utama), The Reds belum pernah lagi mendapatkan gelar liga. Untuk soal gelar, mereka memang berhasil meraih beberapa piala seperti Liga Champions di tahun 2005, Piala UEFA di tahun 2001 atau terakhir Piala Liga di tahun 2012 kemarin.

Namun gelar liga sepertinya jadi yang paling diimpikan para Kopites karena mereka sudah tidak juara dalam rentang waktu sangat lama. Di musim 2013/14 nanti, harapan para pendukung tentunya sangat tinggi. Untuk gelar liga mungkin terasa kurang realistis, tapi setidaknya finis di empat besar atau lolos ke Liga Champions sudah merupakan langkah maju. Para fans tentunya akan senang dan klub bisa lebih mudah mendatangkan pemain-pemain kelas dunia.

Untuk bisa bersaing di papan atas, apalagi di liga yang sangat ketat seperti Liga Primer, tiap klub harus mempunyai sejumlah pemain kelas dunia. Sayangnya, Liverpool hanya punya sedikit pemain yang bisa dibilang berkelas dunia seperti Steven Gerrard dan Luis Suarez. Nama terakhir bahkan kencang diisukan akan segera hengkang karena ingin bermain di Real Madrid atau di klub langganan peserta Liga Champions. Liverpool memang punya banyak pemain muda berbakat seperti Jordan Henderson, Raheem Sterling, Daniel Sturridge dan Philippe Coutinho, tapi keberadaan pemain senior yang sudah matang jelas tak kalah penting.

Arsenal yang dibesut Arsene Wenger sudah dikenal kerap memunculkan pemain muda berbakat tapi selalu gagal meraih gelar sejak 2005. Tapi belakangan ini Wenger mulai mengubah kebijakan dengan mendatangkan satu atau dua pemain senior. Di musim 2012/13 lalu, Arsenal mendatangkan dua pemain senior kelas dunia yaitui Santi Cazorla dan Nacho Monreal yang langsung memberikan kontribusi positif bagi tim. Di bursa transfer musim panas ini, Arsenal dikabarkan sedang mengincar penyerang Real Madrid, Gonzalo Higuain dan bahkan belakangan memantau Wayne Rooney dan Suarez.

Sementara itu, Liverpool sejauh ini belum mendatangkan pemain kelas dunia dan harus bersiap-siap kehilangan pemain kelas dunia dalam diri Suarez. Di musim lalu, pemain asal Uruguay itu mencetak 30 gol di semua kompetisi, tentu bukan hal yang mudah untuk mencari penggantinya. Ditambah lagi pensiunnya Jamie Carragher membuat tim besutan Brendan Rodgers ini kehilangan figur senior  di lini belakang.

Bisa dibilang, Liverpool pernah mempunyai sejumlah pemain kelas dunia dan kalau ada yang pergi atau pensiun, maka posisinya digantikan pemain berkelas dunia lainnya sehingga mereka tetap bisa meraih banyak prestasi. Mereka pernah mempunyai gelandang serang kelas dunia Kevin Keegan dan kemudian digantikan Kenny Dalglish, striker kelas dunia Ian Rush yang kemudian digantikan John Aldridge, lalu Robbie Fowler dan kemudian Michael Owen.

Namun mata rantai tersebut banyak yang terputus, seiring dengan kegagalan Liverpool meraih gelar liga sejak 1990. Banyak pemain kunci The Reds yang posisinya belum tergantikan dengan baik sampai saat ini, setidaknya ada lima pemain yang masuk dalam kategori tersebut. Jumlahnya memang bisa lebih banyak, tapi lima pemain ini setidaknya menggambarkan kehilangan yang sangat besar bagi Liverpool.

John Arne Riise (2001-2008)


Pemain Norwegia ini sekarang masih aktif bermain di Liga Primer bersama Fulham. Performa John Arne Riise memang termasuk biasa-biasa saja selama memperkuat Fulham maupun klubnya sebelumnya, AS Roma. .
Posisi:

Klub asal:

Penampilan di liga/Gol:
Penampilan: keseluruhan/Gol

Gelar tim:




 
Klub berikutnya:
 
Bek kiri/sayap kiri
Monaco, Juni 2001
234/31
331/40

Juara Piala FA (1): 2006; Liga Champions (1): 2005; Piala Liga (1): 2003; Piala Super UEFA (2): 2001, 2005
AS Roma dan Fulham

Namun selama tujuh tahun memperkuat Liverpool, Riise termasuk pemain yang istimewa dan bahkan masih belum tergantikan. Ia memang pernah beberapa kali membuat kesalahan, tapi itu tidak sebanding dengan kontribusinya yang sangat besar selama di Anfield.

Seperti halnya Jamie Carragher, pemain kelahiran 24 September 1980 ini mungkin bukan pemain dengan tehnik terbaik, tapi ia selalu tampil ngotot dan bermain sepenuh hati tiap kali diturunkan. Hal itulah yang membuat para Kopites selalu memberikan sambutan hangat tiap kali ia bermain di Anfield bersama Fulham. Riise sempat diplot sebagai gelandang sayap kiri tapi posisi terbaiknya adalah sebagai bek sayap kiri.

Ia berperan besar dalam membawa Liverpool menjuarai Liga Champions 2005 dan Piala FA 2006. Riise bukan hanya lugas dan tanpa kompromi dalam bertahan, ia juga rajin membantu serangan berkat kecepatan yang dimilikinya serta tendangan kaki kirinya yang keras dan kerap menjebol gawang lawan.

Faktanya, sejak kepergian Riise pada 2008 ke Roma, posisi bek kiri kerap bergant-ganti pemain. Fabio Aurelio sebenarnya pantas menjadi penerusnya, tapi masalah cedera membuatnya hanya mampu bermain beberapa laga dalam satu musim.

Nama-nama lain seperti Andreas Dossena, Emiliano Insua and Paul Konchesky juga tak mampu meneruskan tugas tersebut. Jose Enrique memang menjadi pilihan utama di musim lalu, tapi permainannya dinilai masih belum konsisten dan tidak mempunyai kecepatan seperti Riise. Namun Enrique punya kelebihan dalam hal visi permainan yang lebih bagus. Kalau tidak diganggu masalah cedera dan bisa lebih meningkatkan performanya, Enrique bisa menjadi pengganti sosok Riise.

Sami Hyypia (1999-2009)

Tak pelak lagi, Sami Hyypia adalah salah satu pemain bertahan terbaik yang pernah mengenakan kostum Liverpool di era Liga Primer. Pemain asal Finlandia ini didatangkan dari Willem II pada 1999 dan hengkang sepuluh tahun kemudian ke Bayer Leverkusen. Hyypia sempat ditawarkan menjadi salah satu staf kepelatihan Rafael Benitez tapi menolaknya karena masih ingin terus bermain. Kepergian Hyypia yang waktu itu berusia 35 tahun mendapat hormat yang sangat besar dari para fans yang kemudian baru tersadar kalau ia sudah meninggalkan lubang besar di jantung pertahanan The Reds.

Posisi:

Klub asal:

Penampilan/Gol:
Penampilan: keseluruhan/Gol

Gelar tim:









Klub berikutnya:
 
Bek Tengah

Willem II, Mei 1999

318/22
460/35

Juara Piala FA (2): 2001, 2006; Liga Champions (1): 2005; Piala UEFA (1): 2001; Piala Liga (2): 2001, 2003; Piala Super UEFA (2): 2001, 2005

Bayer Leverkusen

Duet Hyypia dengan Carragher di sentral pertahanan termasuk duet terbaik yang dimiliki Liverpool. Hyypia tangguh dalam bola-bola atas dan kerap membuat gol lewat sundulannya yang terukur. Ia menjadi kapten tim, bergantian dengan Robbie Fowler, saat Liverpool meraih treble di musim 2000/01.

Saat ditangani Benitez yang mengutamakan kekuatan di lini belakang, Hyypia berperan besar di dalamnya. Di musim 2005/06, Liverpool mencetak rekor dengan tidak kebobolan dalam 11 laga berurutan di Liga Primer, dan dalam 11 laga tersebut Hyypia turun selama 90 menit penuh.

Di musim 2008/09 yang merupakan musim terakhirnya, Liverpool finis di peringkat kedua Liga Primer dengan hanya mengalami dua kekalahan. Hyypia total bermain dalam 318 laga dan mencetak 22 gol di liga. Setelah kepergiannya, di musim 2009/10 performa Liverpool menurun drastis terutama di lini pertahanan. Mereka mengalami dua kekalahan dalam tiga laga awal yang ditandai rapuhnya pertahanan mereka.

Masalah itu terjadi sepanjang musim seiring dengan cedera yang dialami Daniel Agger, performa Martin Skrtel yang kurang konsisten dan Carragher seperti kehilangan partner terbaiknya.

Sampai saat ini The Reds belum menemukan duet lini belakang yang tangguh dan konsisten seperti duet Hyypia-Carragher. Sebagian besar fans Liverpool kemungkinan akan setuju kalau dalam 464 laga selama memperkuat Liverpool di semua kompetisi, jumlah laga Hyypia bermain buruk kurang dari sepuluh jari.



Steve McManaman (1990-1999)

Steve McManaman termasuk pemain terbaik yang pernah dimiliki Liverpool, tapi sayangnya bermain di era yang kurang tepat. Selama dekade 1990-an, Liverpool sedang miskin prestasi.



Posisi:


Penampilan/Gol:
Penampilan: keseluruhan/Gol

Gelar Tim:



Klub berikutnya:
 



Gelandang sayap/gelandang serang

274/47
364/66

Piala FA (1): 1992; Piala Liga (1): 1995


Real Madrid dan Manchester City
                                        
Hanya dua gelar yang pernah dirasakan McManaman saat memperkuat The Reds yaitu Piala FA (1992) dan Piala Liga (1995). Namun yang paling menyakitkan bagi para fans adalah kepergian gelandang asal Inggris itu ke Real Madrid pada 1999 dengan status bebas transfer.

McManaman adalah pemain idola The Kop. Cepat dalam menggiring bola, kemampuan dribelnya luar biasa dan mampu melewati hadangan lawan dengan tehnik tinggi. Ditambah dengan kecepatan yang mengagumkan dan kerap mencetak gol lewat aksi solonya, para fans selalu terhibur dan tak pernah menyaksikan hal seperti itu setelah masa-masa emas John Barnes.

Berbeda dengan Barnes, McManaman bisa ditempatkan sebagai gelandang sayap, gelandang serang maupun playmaker. Pemain kelahiran 11 Februari 1972 itu secara kontroversial hengkang ke Madrid dan menjadi top Inggris pertama yang meninggalkan klubnya dengan status bebas transfer setelah mulai berlakunya Aturan Bosman.

Para fans tentunya marah dan menyesali kepergian McManaman, karena ia merupakan produk asli akademi Liverpool dan membuat klub mereka memainkan sepakbola menyerang yang atraktif sejak era Barnes, Rush dan Peter Beardsley. Pemain yang akrab disapa Macca ini membuat lini depan Liverpool sangat tajam dan disegani terutama berkat kerjasamanya dengan Robbie Fowler, Stan Collymore dan kemudian Michael Owen.

Sayangnya, kelemahan di sektor belakang membuat mereka selalu gagal menuai prestasi dan piala.  Masalah prestasi memang menjadi alasan utama Macca untuk pergi dan mendarat di Santiago Bernabeu. Selama empat musim memperkuat Madrid, Macca berhasil meraih dua gelar La Liga Spanyol dan dua gelar Liga Champions. Ia menjadi pemain Inggris pertama yang memenangkan Liga Champions bersama klub non-Inggris.

Hasil itu seperti membuktikan betapa kehilangan besar Liverpool pada pemain sekelas Macca. Sampai kedatangan Suarez di Januari 2011, tidak ada lagi pemain Liverpool yang mampu menyamai kemampuan McManaman dalam melewati dan mengelabui lawan serta punya tehnik serta trik luar biasa untuk lolos dari hadangan lawan. Kehilangan itu bisa terasa lebih panjang lagi kalau Suarez benar-benar hengkang.

John Barnes (1987-1997)

Masa jaya Liverpool di akhir 1980-an tak lepas dari peran besar seorang John Barnes. Gaya permainan Barnes sangat mengesankan, menghibur dan punya kualitas tehnik luar biasa.


Posisi:

Klub asal:


Penampilan/Gol:
Penampilan: keseluruhan/Gol
Gelar tim:
  




Klub berikutnya:


Gelandang sayap

Watford, Agustus 1987

314/84
403/106

Liga Primer (2): 1988,1990; Piala FA (2): 1989, 1992; Piala Liga (1): 1995

Newcastle United, Charlton Athletic dan Celtic
Pemain Liverpool lainnya yang mempunyai kemiripan dengannya baik secara kualitas maupun gaya bermain adalah McManaman. Bedanya, Barnes yang lahir di Jamaika adalah pemain sayap sejati. Menempati posisi gelandang sayap kiri, ia memperkuat Liverpool selama sepuluh tahun (1987-1997) dan merebut dua gelar liga, dua Piala FA dan satu Piala Liga.

Masalah cedera di awal 1990-an sempat membuat performanya menurun dan berdampak pada penurunan prestasi klub. Di masa keemasannya, Barnes bersama Rush dan Beardsley dikenal sebagai tiga serangkai berkat produktivitas dan kerjasama mereka yang atraktif. Para fans seperti tersihir tiap kali Barnes merangsek dari sisi kiri, mengelabui dan melewati lawan lalu mengirim umpan terukur ke sentral pertahanan lawan atau masuk ke tengah dan membuat gol dengan kaki kirinya.

Gaya permainan Barnes memang mengundang lawan untuk melakukan pelanggaran, tindakan yang membuat dirinya kerap mengalami cedera. Situasi itu membuat performanya mulai menurun dan jarang menjadi pilihan utama. Pelatih Liverpool di masa itu Graeme Souness beberapa kali menempatkan Barnes sebagai gelandang serang dan bahkan gelandang bertahan. Permainannya mulai membaik kembali setelah Roy Evans menjadi pelatih di tahun 1994.

Bersama pemain muda seperti McManaman, Fowler dan Jamie Redknapp, Barnes menjadi panutan utama dan membuat Liverpool kembali memainkan sepakbola menyerang yang atraktif. Setelah memutuskan hijrah ke Newcastle pada 1997, Barnes total bermain dalam 314 laga dan mencetak 84 gol di liga. Saat laman resmi Liverpool membuat survei bertajuk ‘100 Pemain Yang Mengguncang The Kop’ di tahun 2006, nama Barnes berada di urutan kelima di bawah Fowler, Rush, Gerrard dan Dalglish.

Kehebatannya bukan hanya diakui Liverpool tapi juga lawan-lawannya maupun pelaku sepakbola Inggris lainnya, termasuk dari dua legenda Manchester United, George Best. Pemain legendaris Inggris, Tom Finney, bahkan mengatakan,” Pemain seperti Barnes hanya ada sekali seumur hidup”. McManaman sempat digadang-gadang sebagai penerus Barnes, tapi ia justru hengkang dua tahun setelah Barnes pergi. Sampai sekarang belum ada pemain sayap seeksplosif Barnes dengan kualitas prima dan produktif dalam mencetak gol.

Xabi Alonso (2004-2009)

Liverpool pernah punya pengumpan bola terbaik dalam diri Xabi Alonso, dan setelah kepergiannya belum ada lagi yang mampu melebihi atau bahkan menyamai kemampuannya. Salah satu pemain terpenting dan mungkin terbaik yang pernah didatangkan Benitez adalah Alonso. 


Posisi:

Klub asal:

Penampilan/Gol:
Penampilan: keseluruhan/Gol
Gelar tim:
   




Klub berikutnya:







Gelandang
 
Real Sociedad, Juli 2004

143/15
210/19
Liga Champions (1) 2005; Piala Super UEFA (1): 2005; Piala FA (1): 2006

Real Madrid






Pemain kelahiran 25 November 1981 itu didatangkan dari Real Sociedad pada musim panas 2004. Selama lima musim, Alonso mempertontonkan kehebatannya, dengan umpan-umpan terukur dan kolaborasi apik bersama Gerrard yang membuat para fans mengaguminya. Tak pelak lagi, Alonso merupakan maestro lini tengah.

Yang paling diingat dari Alonso mungkin adalah golnya ke gawang AC Milan di final Liga Champions 2005. Tendangan penaltinya sempat ditepis Dida tapi ia berhasil melakukan rebound dan terciptalah gol penyama kedudukan yang membuat Liverpool bangkit dan akhirnya memenangkan laga. Atau mungkin saat pemain asal Spanyol itu mencetak gol jarak jauh dari daerah pertahanan timnya ke gawang Newcastle United di awal-awal musim 2006/07.  Tapi pengaruhnya terasa jelas saat pergi ke Madrid di musim 2009/10.

Di musim terakhirnya, Liverpool finis di peringkat kedua Liga Primer dan melaju sampai perempat-final Liga Champions setelah di babak 16 Besar mengalahkan Madrid dengan agregat gol 5-0.  Ironisnya, di akhir musim justru Madrid yang lagi-lagi membuat fans Liverpool patah hati, sesuatu yang bisa saja terulang di tahun ini kalau mereka benar-benar mengontrak Suarez. Setelah memboyong McManaman di tahun 1999, klub La Liga itu mengangkut Alonso ke Bernabeu.

Alonso ditengarai memutuskan untuk hengkang karena Benitez berencana mendatangkan Gareth Barry yang diyakini akan menggeser posisinya dan kemudian menerima pinangan Los Blancos. Benitez mendatangkan Alberto Aquilani dari Roma untuk menggantikan posisi Alonso. Namun sejak awal para fans sudah pesimis karena Aquilani datang dalam kondisi cedera serius. Terbukti, gelandang asal Italia itu kesulitan beradaptasi dengan atmosfer sepakbola Inggris.

Ia pun baru bisa dimainkan pada pertengahan musim dan hanya sembilan kali bermain sebagai starter. Dampak hengkangnya Alonso juga sangat terasa terhadap kekuatan Liverpool terutama di liga domestik. Di musim 2009/10, mereka gugur di babak penyisihan grup Liga Champions dan sejak itu belum pernah lolos lagi ke kompetisi bergengsi antarklub Eropa itu serta ditandai tiga kali pergantian pelatih. Namun berbeda dengan pemain lainnya, ada kemungkinan Alonso akan kembali ke Anfield.

Ia pernah mengatakan kalau bermain untuk Liverpool adalah masa-masa terbaiknya dalam bermain sepakbola. Sikap sang pemain yang menolak tawaran kontrak baru dari manajemen Madrid, membuat kabar tersebut semakin mengemuka. Sulit untuk membayangkan hal itu akan terwujud. Tapi di jaman sekarang ini, hal-hal aneh bisa saja terjadi di sepakbola. Kalau Alonso benar-benar kembali, maka tak diragukan lagi ia akan disambut bak pahlawan.

Web Resmi Liverpool FC Berbahasa Indonesia
Untuk informasi lebih lanjut mengenai tiket Liverpool FC melawan Indonesia XI, dan juga berita-berita terkini The Reds dalam bahasa Indonesia, kunjungi laman resminya di http://indonesia.liverpoolfc.com

Terkait