FAN VIEW: Financial Fair Play, Sepakbola Ke Arah Sosialisme

Ketika investor menyalahi "norma" dan merusak pasar, sang regulator harus bertindak.

GOALOPINI   AMAL GANESHA W


“Tidak ada kebebasan sejati, semua bebas pasti terbatas”.

Landasan atas filosofi ini lah yang menyebabkan lahirnya konsep sosialisme. Di dalam dunia ekonomi makro, semua tentu kenal dengan kapitalisme versus sosialisme. Amerika Serikat terkenal dengan paham liberalis kapitalisme yang sangat kuat, sedangkan contoh negara-negara dengan paham ideologi sosialisme yang sangat menonjol diantaranya adalah Rusia. Mana paham yang terbaik? Jawaban atas pertanyaan ini pastilah abu-abu, semua memiliki opini dan landasannya masing-masing.

Di dalam sepakbola, khususnya di kawasan Eropa, saat ini pun telah tumbuh isu yang kurang lebih sama, kapitalisme vs sosialisme. Sepakbola Eropa akhir-akhir ini kedatangan tamu investor-investor yang berdondong-bondong datang untuk menyuntik dana yang relatif besar ke beberapa klub, dengan tujuan yang sulit diterka pula, entah mencari prestasi atau murni untuk urusan bisnis (profit). Mereka datang dengan ambisi yang sangat besar melalui jumlah uangnya yang tak terbatas. Manchester City, PSG, Anzhi Makhachkala, Chelsea, Malaga, dan yang sedang ramai diperbincangkan, AS Monaco, adalah contoh-contoh klub sepakbola yang mendapat injeksi dana yang sangat besar sekali dari para pemiliknya. Mereka inilah yang disebut sebagai “kapitalis sepakbola”. Selanjutnya, mereka bisa dibilang adalah para “ekstrimis-kapitalis sepakbola”. Ekstrimis di dalam hal ini merujuk kepada perilaku mereka yang berlebihan dalam melakukan spending.

Fenomena ekstrimis-kapitalis sepakbola diawali oleh kiprah kedatangan seorang Roman Abramovic ke Chelsea pada tahun 2004. Di bawah kekuasaannya, taipan asal Rusia ini sukses mentransformasi Chelsea yang sebelumnya adalah klub papan tengah di Liga Inggris, menjadi klub yang sangat diperhitungkan di Eropa, bahkan dunia. Trofi Liga Champions pertama bagi Chelsea akhirnya berhasil dicapai di bawah kendali sang taipan di tahun 2012, sebuah pencapaian yang telah lama dinanti. Uniknya, setelah keberhasilan Chelsea, para investor dengan dana yang sangat besar ikut-ikutan membeli klub-klub sepakbola di Eropa. Wajar, karena, kiblat industri sepakbola terbesar di dunia saat ini eksis di benua tersebut. Manchester City dan PSG saat ini menjadi milik para kapitalis sepakbola asal Timur-Tengah. Anzhi Makhachkala yang telah dikuasai oleh Suleyman Kerimov, konglomerat pasar sekuritas keuangan asal Rusia, memecahkan rekor pendapatan gaji pesepakbola tertinggi dunia, yakni Samuel Eto’o yang memperoleh €20,5 juta per tahun. Manchester City melakukan perombakkan yang sangat ekstrim di tahun 2008, dan dengan biaya atas transformasi yang esktrim pula. Syeikh Mansour mengeluarkan total initial cost untuk perombakkan tersebut kurang lebih mencapai £800 juta, biaya ini termasuk biaya akuisisi, pelunasan hutang sebelumnya, dan pembelian pemain baru. Sungguh fenomenal angka tersebut, dan ditengarai telah mempengaruhi komersialisasi sepakbola di masa mendatang.

Para sosialis sepakbola melihat fenomena tersebut tentu geram. Bagaimanakah masa depan sepakbola dengan fase industrialisasi dan komersialisasi yang terlalu ekstrim tersebut? Ada tiga hal yang menjadi isu utama yang dikhawatirkan dari fenomena para ekstrimis-kapitalis tersebut, yaitu inflasi sepakbola, gap (kesenjangan), dan kebangkrutan. Dengan besarnya angka-angka yang ekstrim dalam hal harga transfer dan gaji pemain, maka akan memunculkan inflasi harga di sepakbola. Harga pemain menjadi melonjak pesat, gaji pemain pun mengalami inflasi. Yang kemudian terjadi adalah munculnya gap yang sangat lebar antara si kaya dan si miskin. Bagi Swansea City, angka £800 juta mungkin mampu membiayai klub tersebut selama lima tahun lamanya. Semakin lebar gap antar klub-klub sepakbola di sebuah liga, menjadikan unsur competitiveness semakin menurun, sehingga sepakbola menjadi menurun daya tariknya. Michel Platini, dikutip Guardian, mengatakan “Saya khawatir dengan apa yang terjadi pada sepakbola saat ini (komersialisasi), kita harus kembali kepada permainan sepakbola yang sesungguhnya”.

Selanjutnya, di aspek keuangan klub, akan muncul potensi kebangkrutan, sebagai penebus atas biaya inflasi tersebut. Klub-klub dengan finansial menengah ke bawah akan berhadapan dengan resiko kebangkrutan yang meningkat. Sebagai contoh, jika inflasi gaji pemain sepakbola di Inggris terjadi (dan memang sudah terjadi), maka klub-klub yang lemah secara finansial akan sangat berat menanggung beban gaji, sedangkan kapital yang mereka miliki tidak sebanding dengan harga inflasi. Kemungkinan atas kebangkrutan sebuah klub sepakbola memang sudah ada sejak dahulu, namun dengan munculnya fenomena para ekstrimis-kapitalis tersebut, kemungkinan tersebut bertambah menjadi lebih besar.

Salary Cap adalah salah satu alat untuk meredam resiko atas inflasi di sepakbola. Namun sayangnya, peraturan ini belum dijalankan di liga-liga sepakbola bergengsi di Eropa. Salary Cap adalah adanya pembatasan besaran gaji pemain maksimum dengan skala tertentu. Rugby di Inggris, NBA, dan MLS di Amerika Serikat, adalah contoh-contoh ruang lingkup olahraga yang telah menggunakan aturan salary cap di kompetisinya. Dengan adanya peraturan tersebut, mungkin sepakbola akan menjadi lebih "sosialis" dan menarik. Tentu saja, lagi-lagi Platini benar, sepakbola harus kembali ke akar yang sesungguhnya, yaitu adu kompetisi di atas lapangan, bukan lebih ke arah adu kompetisi finansial.

Michel Platini, presiden UEFA saat ini, mungkin dapat dikatakan sebagai "penyelamat" atau "sosialis" atau bahkan "generalist" sepakbola Eropa. Dengan adanya fenomena kapitalisme di sepakbola, di tahun 2009 UEFA menelurkan sebuah peraturan baru yang dapat meredam kekhawatiran-kekhawatiran di atas: Financial Fair Play (FFP). Konsep utama dari FFP adalah bahwa sebuah klub harus mendapatkan neraca keuangan yang break-even (impas) atau dengan toleransi maksimum defisit tertentu. Jika, klub mengalami defisit neraca yang melebihi batas yang telah ditentukan (lihat tabel), maka klub tersebut akan dikenai sanksi yang sampai dengan saat ini belum ditentukan. Namun, dalam hemat saya, sanksi tersebut nantinya pasti akan sangat memberatkan klub yang bersangkutan. Musim yang diperhitungkan (monitoring periods) ke dalam FFP adalah sebanyak tiga musim sebelum dimana FFP tersebut diperhitungkan (lihat tabel). Jadi, jika dalam tiga musim monitoring periods nantinya sebuah klub memiliki akumulasi defisit yang melebihi batas, maka akan terkena sanksi. Satu hal yang menarik dari peraturan FFP ini adalah bahwa biaya-biaya untuk community development, youth development, dan pembangunan stadion/infrastruktur tidak dimasukkan ke dalam beban biaya perhitungan FFP.

FFP akan mulai diberlakukan sejak musim 2014/2015 dan seterusnya. Konsep ini pada kenyataannya telah disetujui oleh hampir semua klub yang dinaungi UEFA. Namun, walau belum diberlakukan, sudah mulai tercium pelbagai cara untuk mengakali peraturan ini, tentu saja, bagi para si kapitalis, kaum yang kalang kabut atas FFP. Manchester City pada 2011 merilis berita bahwa mereka telah mendapatkan sponsorship deal dengan Etihad Airways sebesar £400 juta, yang di dalam deal tersebut adalah berupa naming-rights stadion menjadi Etihad Stadium. Arsene Wenger dan Ian Ayre (Managing Director Liverpool) sontak langsung melakukan protes kepada UEFA, mempertanyakan deal tersebut. Etihad adalah perusahaan yang diduga memiliki relasi yang sangat kuat dengan Syeikh Mansyour, sehingga jika benar dugaan tersebut, berarti FFP telah diakali. Nilai deal Etihad Stadium mencapai £400 juta selama sepuluh tahun kontrak. Sebagai perbandingan, rekor terbesar sebelumnya untuk urusan naming-rights deal adalah Emirates Stadium dengan nilai £90 juta selama 15 tahun. Tidak mau kalah dengan saudaranya, Manchester United pun telah melakukan deal dengan Aon untuk naming-rights tempat latihan mereka (Aon Training Complex) sebesar £150 juta, terhitung sejak 1 Juli 2013. Sama seperti kasus Etihad Stadium, Aon Training Complex pun akan diselidiki keabsahannnya terkait dengan peraturan FFP. Yang, jelas, di belahan dunia barat itu pun berlaku hal yang sama, semuanya masih abu-abu, karena kasus Etihad Stadium di tahun 2011 itu pun sampai sekarang belum ada keputusan yang jelas dari UEFA menyangkut wajar atau tidaknya. Sama seperti kasus Bank Century di negeri tercinta, bukan? Semoga saya salah.


Sumber: www.financialfairplay.co.uk*Sumber: www.financialfairplay.co.uk

Real Madrid mendapat peringatan dari UEFA di tahun 2009 menyangkut pembelian Kaka senilai US$92 juta dan Cristiano Ronaldo seharga US$132 juta. Terus berlangsungnya perilaku spending yang berlebihan di sepakbola dinilai akan menyebabkan inflasi dan polarisasi di dalam pasar jual-beli pemain (prof Dr. Simon Chadwick). Cristiano Ronaldo sendiri diberitakan mengalami peningkatan gaji sebesar £55.000 di Real Madrid, yaitu menjadi £180.000 per minggu. Sebelumnya, di Inggris pajak yang dikenakan terhadap Ronaldo adalah mencapai 50 persen dari pendapatan, sedangkan di Spanyol pajak yang berlaku untuk pendatang yang bekerja hanya sebesar 25 persen (Blitz, R: The Financial Times, 2009), sehingga secara riil Ronaldo mengalami peningkatan pendapatan yang sangat signifikan. Yaya Toure diberitakan mendapat gaji £250.000 per minggu, Robin Van Persie mendapat £250.000 per minggu, dan Rooney £230.000 per minggu (Guardian). Semua fenomena itu terjadi karena adanya inflasi yang signifikan di sepakbola Inggris. Kedatangan Roman Abramovic dan Syeikh Mansour telah mengubah pasar komersialisasi sepakbola, dimana harga akan jasa-jasa melonjak pesat. Mungkin Manchester United sebenarnya tidak rela ketika di tahun 2010 memperbaharui kontrak Wayne Rooney menjadi £230.000 per minggu, namun karena pasar telah mengalami inflasi, mau tidak mau Manchester United harus mengikuti harga yang telah terjadi pada Manchester City dan Chelsea. MU tidak ingin pemain pentingnya pergi, karena itu sangat bersifat kritikal terhadap prestasi dan juga pendapatan tim, sehingga akhirnya Rooney mendapat pembaharuan kontrak.

Arsenal, Borussia Dortmund, dan Bayern Munich adalah contoh tim-tim sepakbola yang dijalankan dengan manajemen yang ideal, sebuah manajemen dengan asas financial fair play dan kemandirian yang sejati. Tidak ada yang salah dengan masuknya investor baru ke dalam pasar, bahkan merupakan sebuah keuntungan yang harus dilestarikan. Namun, ketika perilaku para investor menyalahi norma dan merusak pasar dengan kapitalnya yang tak terbatas, maka disinilah sang regulator harus bertindak, demi menyelamatkan pasar itu sendiri, yaitu industri sepakbola. Michel Platini menuturkan maksud baiknya terhadap FFP, dengan berkata “Saya tidak menginginkan Manchester City atau PSG gagal menjadi juara, saya justru ingin menyelamatkan mereka. Apapun yang saya lakukan di UEFA, adalah untuk kebaikan sepakbola sendiri”. Betul memang yang dikatakan Platini, demi kepentingan bersama, sepakbola memang seharusnya lebih sosialis.

*Penulis adalah pemerhati sepakbola, alumnus FEUI, dan pemilik akun Twitter @amalganesha

Gabunglah bersama Goal Indonesia di media sosial:
Facebook goal.indonesia
Facebook goal.indonesia
Google Plus +goalcomindonesia
Google Plus +goalcomindonesia
Twitter @GOAL_ID
Twitter @GOAL_ID