thumbnail Halo,

Bos Manchester United mengumumkan pensiun tengah pekan lalu dengan status sebagai orang paling sukses dalam sejarah sepakbola


ANALISIS CARLO GARGANESE   PENYUSUN DEWI AGRENIAWATI    
Tidak ada yang pasti dalam hidup, begitu kata kebanyakan orang. Tapi, jika boleh memilih satu kepastian di dunia ini, maka itu adalah Sir Alex Ferguson yang diakui sebagai manajer sepakbola terbaik sepanjang masa.

Ini bukan lagi soal Pele, Diego Maradona atau si manusia rekor Lionel Messi. Bukan juga cantiknya permainan Brasil di era 1970, AC Milan pada 1989 atau bagaimana Barcelona membuat orang berdecak kagum dengan prestasinya dua tahun lalu. Ini soal Fergie. Ya, Fergie yang tengah pekan lalu secara mengejutkan memutuskan pensiun dari dunia sepakbola hanya beberapa hari setelah Manchester United mengunci gelar ke-20 Liga Primer Inggris.

Di antara nama pelatih-pelatih berprestasi, tidak sedikit dari mereka yang diklaim sebagai yang terbaik lantaran kehebatannya membangun warisan dan memenangkan banyak trofi, atau mereka yang bekerja untuk klub atau negara, di luar negeri atau hanya di negeri sendiri. Tapi, jika dilihat secara teliti, tidak satu pun diantara para pelatih hebat ini yang memiliki rekor gelar, konsistensi, periode kepelatihan yang panjang (bahkan sangat panjang) dan warisan seperti yang dimiliki Sir Alex. Karier kepelatihannya melambangkan kehebatan yang mungkin kita tak akan pernah melihatnya lagi.

Pertama, soal rentetan trofi yang pernah diraih selama 39 tahun melatih [dimulai sejak 1974 bersama klub divisi tiga Skotlandia East Stirlingshire FC] ada 49 trofi yang berhasil dimenangkan Sir Alex, termasuk diantaranya 16 Liga Primer Inggris dan Skotlandia, dua Liga Champions, dua Piala Winners dan 14 piala-piala di ajang domestik. Fantastis!

Giovanni Trapattoni menyusul di urutan kedua dalam hal koleksi trofi. Pelatih berkebangsaan Italia ini menyabet 23 trofi di lima negara berbeda sejak memulai karier pada 1974. Di atas kertas - dalam beberapa hal - dia lebih mengesankan dibanding Sir Alex, tapi warisan serta era keemasannya bersama Juventus tidak bisa disamakan dengan Ferguson.

Prestasi manis treble winners pada 1999, pengaruh besar dalam sistem pemain muda yang mengorbitkan nama-nama berkelas seperti David Beckham, Paul Scholes dan Ryan Giggs, serta mind games yang sering dilakoninya bersama Arsene Wenger, Kevin Keegan dan Rafael Benitez, hairdryer treatment yang menjadi ciri khas si pelatih kawakan saat tidak puas dengan penampilan anak buahnya, hanya segelintir dari banyak hal yang mengingatkan kita kepada pelatih 71 tahun ini.

KOLEKSI TROFI BERBAGAI PELATIH

Sir Alex Ferguson
Valeriy Lobanovskyi
Jock Stein
Ottmar Hitzfeld
Giovanni Trapattoni
Walter Smith
Jose Mourinho
Bob Paisley
Louis van Gaal
Ernst Happel
49
28
26
25
23
22
20
20
19
17

Ferguson mungkin tidak sealami pelatih masa lalu dalam hal mewariskan sepakbola. Lihat bagaimana Valeru Lobanovskyi membawa ilmu pengetahuan dalam permainan indah, atau Jock Stein yang menjadi pelatih Britania Raya pertama yang memenangkan Piala Champions bersama Celtic pada 1967, serta Rinus Michels yang yang memperkenalkan pressing, passing dan possession ke level baru hingga dikenal dengan sebutan Total Footbal. Ada juga arsitek asal Argentina Helenio Herrera yang mempopulerkan strategi Catenaccio ketika merantau di Italia di era 1960-an atau Marcello Lippi sebagai menjadi pelatih pertama yang berhasil mengawinkan Liga Champions dan Piala Dunia.

Nama Fergie juga sering dibandingkan dengan Arrigo Sacchi yang membawa AC Milan berjaya di tahun 1980-an atau kemilau Pep Guardiola selama menjalani debut kepelatihan di Barcelona.

Tapi, lagi-lagi kita harus mengakui kehebatan Sir Alex. Sacchi tidak memiliki periode yang panjang di Milan. Sementara Guardiola, yang menyabet 14 gelar dalam empat tahun kepemimpinan di Camp Nou, dituntut membuktikan kehebatannya untuk menyamai konsistensi Fergie dalam beberapa tahun ke depan.

Setelah itu, ada juga Vicente del Bosque yang berhasil membawa Spanyol mendominasi dunia dengan gelar Piala Dunia dan Eropa serta dua Liga Champions bersama Real Madrid

Awal kehadiran Sir Alex di The Red Devils pada 1986 tidaklah mudah. Ketika itu, United tak pernah lagi juara liga sejak 1967 dan terlihat tak punya masa depan. Toh, dengan keyakinan, kharisma dan caranya mengelola tim membuat para petinggi Setan Merah bersabar memberikan waktu, kebebasan dan sumber daya untuk membangun dinasti. Kesabaran itu akhirnya baru membuahkan hasil tujuh tahun kemudian, atau tepatnya di musim 1992/1993 ketika Fergie untuk pertama kalinya memenangkan gelar Liga Primer Inggris sekaligus dinobatkan sebagai pelatih terbaik di tahun itu. Bos mana yang mau menunggu begitu lama untuk mendapatkan gelar?

Fergie berhasil mengalahkan sejumlah pelatih fantastis dan berbagai tim di Liga Primer, dia juga menikmati rekor dahsyat di kompetisi Eropa dalam 20 tahun terakhir. Hanya Bob Paisley yang memiliki trofi Eropa lebih banyak dibandingkan Fergie, dan hanya Lippi dan Miguel Munoz yang mampu menyamai rekornya sebagai pelatih yang paling banyak tampil di final.

Meski berhasil mencetak banyak pemain hebat dan beberapa kali menghabiskan dana besar di pasar transfer, skuat Fergie tidak sering disebut sebagai yang terbaik. Kesederhanaan skuat yang musim ini berhasil menyabet Liga Primer musim ini menjadi bukti, bahwa bukan pemain melainkan pelatih yang bisa membuat perbedaan.

Wataknya yang tanpa kompromi membuat para superstar Old Trafford tetap membumi dan termotivasi. Fergie juga mampu melewati sejumlah masa transisi setiap kali kehilangan pemain bintang, dia juga yang mematahkan teori Bela Guttmann bahwa setelah tiga tahun kepemimpinan seorang manajer akan kehilangan kekuatannya di mata pemain.

Pelatih seperti penjinak singa. Dia mendominasi hewan selama menunjukkan kepercayaan diri dan tak memiliki rasa takut. Tapi, ketika mengisyaratkan rasa takut di matanya, di kalah.
- Eks pelatih Benfica Bela Guttmann

Masa-masa awal kepelatihan Ferguson juga tak bisa dilupakan, sebelum dirinya bergabung dengan United 26 tahun lalu. Di Aberdeen misalnya, dia mematahkan duopoli Glasgow dan Celtic yang berlangsung selama 15 tahun dengan menyabet tiga gelar Liga Primer Skotlandia dan secara mengejutkan membawa The Dons berjaya di Piala Winners pada 1983. Catatan ini mengindikasikan bahwa, seperti Trapattoni atau Ernst Happel, Ferguson akan sukses jika diberikan keleluasaan melebarkan sayap keluar dari zona nyaman.

Sampai akhirnya, munculah Jose Mourinho…

The Special One diklaim sebagai satu-satunya pelatih yang menunjukkan lapar gelar sama seperti Sir Alex untuk memecahkan setiap rekor. Bak Midas, apa pun yang disentuhnya menjadi emas.

Mou mencatat rekor 20 gelar dan dua Liga Champions di usia 50, dan menjadi pelatih tunggal yang menyabet tiga gelar mayor di tiga negara berbeda [Inggris, Italia dan Spanyol].

Rivalitas Mourinho dan Ferguson dimulai ketika The Special One menukangi Porto dan kemudian melambungkan namanya bersama Chelsea. Namun, meski kerap terlibat psywar saat masih sama-sama di Liga Primer, mereka tetap berteman baik, bahkan Mourinho disebut-sebut bakal menjadi suksesor Sir Alex sejak rumor pensiunnya berembus dalam beberapa musim terakhir.

"Dalam hal periode, Ferguson telah melakukannya, dia telah menjadi yang terbaik. Banyak manajer - di dunia Mourinho - membuat permainan mereka, tapi mereka harus melakukan itu selama yang Fergie miliki"

- Gelandang Chelsea Frank Lampard

Sayang, kontroversi yang mengiri perjalanan Mourinho - terutama bersama Real Madrid musim ini - tampaknya membuat petinggi United berpikir ulang mengenai keberadannya di klub. Ferguson sendiri bukan malaikat, dia tak pernah menyebut dirinya sebagai yang terbaik - tapi egoisme Mourinho dan taktik kotor justru mendorongnya menciptakan banyak musuh, hanya supaya dia punya orang-orang yang bisa dikambinghitamkan di setiap kegagalannya.

Jika dia ingin mengungguli Ferguson dalam hal taktik, dia harus belajar bahwa otonomi manajer tidak terganggu oleh kompromi. Tanpa itu, dia akan ditakdirkan untuk tetap menjadi yang kedua.

GOAL.com hadir via ponsel di alamat m.goal.com.
Unduh juga aplikasi GOAL.com secara langsung untuk OS ponsel Anda:


Terkait