thumbnail Halo,

Top 10 Final Piala FA

GOAL.com mengkompilasi daftar pertandingan paling menghibur sepanjang sejarah final Piala FA.

GOAL.com Indonesia   EKSKLUSIF
GOAL.com
ALIH BAHASA
HENRY AA

Manchester City dan Wigan Athletic akan berhadapan pada final Piala FA ke-132 di stadion Wembley, Sabtu (11/5). City masih dalam kondisi terluka karena sudah dipastikan gagal mempertahankan gelar Liga Primer Inggris, sedangkan lawan mereka yang dilatih Roberto Martinez terancam terkena degradasi.

Selama bertahun-tahun, final Piala FA, kompetisi sepakbola tertua, sudah menampilkan beragam drama seperti terciptanya hat-trick, gol kemenangan di menit akhir, gol bunuh diri dan tumbangnya tim raksasa.

Dalam laga antara City kontra Wigan, apakah akan terjadi drama dan kejutan? Menjelang laga tersebut, GOAL.com mengkompilasi dan mempersembahkan daftar sepuluh laga yang dinilai paling menghibur sepanjang 141 tahun sejarah dari turnamen ini.

10. West Ham v Preston (1964)


Dua tahun sebelum memenangkan Piala Dunia 1966, Bobby Moore adalah kapten tim West Ham di salah satu final paling dramatis dalam sejarah Piala FA.

Preston yang kurang diunggulkan memimpin lebih dulu saat laga baru berjalan sepuluh menit saat Doug Holden  memanfaatkan kesalahan kiper Hammers, Jim Standen. Keunggulan itu ternyata hanya bertahan dua menit, setelah John Sissons bermain satu-dua dengan Johnny Byrne sebelum menjebol gawang lawan dari sudut sempit.

Meskipun begitu tim kota London itu masih kesulitan meladeni permainan lawan mereka, dan kembali tertinggal di lima menit menjelang babak pertama berakhir melalui sundulan Alex Dawson.

Geoff Hurst menyamakan skor di tujuh menit setelah babak kedua dimulai melalui sundulan, setelah umpan Ken Brown mengenai punggung kiper Peston, Alan Kelly kemudian mengenai mistar gawang dan disundul masuk oleh Hurst.

Sisa laga berjalan seru dan menarik. Saat laga memasuki detik-detik akhir, Ronnie Boyce mencetak gol dan membuat West Ham unggul 3-2, dan merebut Piala FA untuk pertama kalinya.

9. Liverpool v Everton (1989)


Final Piala FA yang mempertemukan dua tim Merseyside ini digelar lima pekan setelah tragedi Hillborough, mendapat perhatian dari banyak pihak dan terasa berlangsung lama. Sebelum laga dimulai, semuanya mengheningkan cipta lebih dulu dan pemain kedua mengenakan ban hitam di lengan mereka.

John Aldridge membuat Liverpool unggul saat laga baru berjalan empat menit. Tensi pertandingan meninggi sampai akhirnya Stuart McCall mencetak gol bagi Everton di menit akhir pertandingan, yang diikuti masuknya sejumlah suporter Toffees ke dalam lapangan. Sesudah itu peluit panjang berbunyi dan laga harus dilanjutkan dengan perpanjangan waktu.

Ian Rush kembali membuat Liverpool unggul saat babak pertambahan baru berjalan lima menit, namun Everton kembali membalas rival utama mereka melalui tendangan voli McCall dari dalam kotak penalti dan membuatnya menjadi pemain pengganti pertama yang membuat dua gol dalam final Piala FA.

Tapi kali ini Liverpool tak tertahankan saat Ian Rush mencetak gol keduanya dua menit setelah skor imbang, melalui sundulan setelah mendapat umpan silang dari John Barnes sekaligus langsung menyamai rekor McCall dan mengunci kemenangan dramatis 3-2 atas Everton.

8. Bolton v West Ham (1923)


Laga ini merupakan pertandingan sepakbola pertama di Wembley, mempertemukan Bolton dengan West Ham yang disebut-sebut sebagai 'Final Kuda Putih' yang kabarnya disaksikan lebih dari 300 ribu penonton di stadion yang kapasitasnya hanya untuk 127 ribu penonton.

Momen yang sangat dikenang adalah saat seorang polisi dengan menunggangi kuda putih mencoba untuk mentertibkan penonton yang sangat padat dan membuat kick-off sempat ditunda selama 45 menit.

Pertandingannya sendiri tidak begitu menegangkan. Bolton sudah unggul di menit-menit awal dan mampu menahan gempuran the Hammers dan kemudian mencetak gol lagi di menit ke-53 dan akhirnya menang dengan skor 2-0.

Momen-momen sebelum dan sesudah laga akan selalu dikenang sepanjang masa, dengan pengenalan pembatas keamanan setelah banyak penonton yang luber ke pinggir lapangan dan hanya berjarak beberapa meter dari lapangan pertandingan.

Usai pertandingan, pelatih West Ham Charlie Paynter menyalahkan tindakan polisi yang dinilai mengacaukan laga di lapangan. "Ini karena kuda putih yang menginjak-injak lapangan sehingga kondisinya menjadi rusak. Para pemain sayap kami selalu terjatuh karena banyak lubang dan rumput mengelupas di sebelah pinggir lapangan," keluhnya.


7. Liverpool v Wimbledon (1988)


Final Piala FA di tahun ini termasuk salah satu yang paling mengejutkan dalam sejarah turnamen, saat kekuatan paling dominan di Inggris saat itu, Liverpool kalah 1-0 dari Wimbledon yang tidak diunggulkan.

Tim berjulukan 'Crazy Gang' karena para pemain dan para stafnya sering melontarkan gurauan satu sama lain, tidak dianggap terlalu serius. Di sisi lain, Liverpool baru saja memastikan gelar juara Divisi Utama yang keenam dalam dekade tersebut, dan siap menjadi klub pertama yang meraih dua gelar domestik secara berurutan setelah meraihnya di musim 1985/86.


Namun Laurie Sanchez membawa Wimbledon unggul di babak pertama dengan memanfaatkan tendangan bebas Dennis Wise yang kemudian disundul masuk ke gawang Liverpool. Peter Beardsley sempat membuat gol tapi kemudian dianulir sebelum timnya mendapat hadiah penalti saat laga masih tersisa 30 menit, meskipun tayangan ulang menunjukkan kalau tekel yang dilakukan Clive Goodyear bukanlah sebuah pelanggaran.

John Aldridge mengambil tendangan penalti tapi berhasil diselamatkan oleh Dave Beasant, yang menjadi tendangan penalti pertama yang gagal berbuah gol dalam sejarah final Piala FA. Wimbledon mampu mempertahankan keunggulan dan meraih satu-satunya piala dalam turnamen ini, dan Beasant menjadi kiper pertama yang menjadi kapten tim pemenang.

6. Coventry v Tottenham (1987)

Berbagai kejutan terjadi di Piala FA, termasuk saat Tottenham yang sangat difavoritkan juara ditaklukkan oleh Coventry City.

Spurs sudah dua kali memenangkan kompetisi ini dalam dekade tersebut dan setelah hanya kebobolan tiga gol dalam perjalanan mereka ke final dan finis di peringkat ketiga di liga, mereka diunggulkan untuk mengalahkan tim besutan John Silett.

Clive Allen membuat tim asal London itu unggul di awal babak pertama, tapu Dave Bennett menyamakan skor enam menit kemudian. Tottenham tidak terlalu khawatir karena mereka mendominasi laga. Mereka semakin percaya diri setelah gelandang legendaris Gary Mabbutt membuat gol lima menit sebelum istirahat.

Babak kedua situasinya sangat berbeda. Gol sundulan Keith Houchen yang menjadi gol terbaik di musim itu, membuat the Sky Blues kembali menyamakan skor.

Skor itu tetap bertahan sampai akhir laga dan terjadi babak perpanjangan waktu. Coventry masih tampil trengginas dan untuk pertama kalinya unggul setelah tendangan Lloyd McGrath mengenai lutut Mabbutt dab masuk ke gawang Spurs saat laga baru berjalan lima menit. Skor akhir 3-2 bagi kemenangan Coventry.

5. Tottenham v Manchester City (1981)

Final Piala FA ke-100 banyak dikenang dengan dua gol terbaik dalam sejarah kompetisi, yaitu gol tendangan keras jarak jauh dari Steve MacKenzie dan Ricky Villa yang melewati hadangan lima pemain Manchester City untuk masuk ke kotak penalti dan mencetak gol kemenangan.

Dalam laga final pertama yang berakhir 1-1 dan berjalan membosankan yang ditandai dengan digantinya Villa karena bermain buruk, namun di laga final kedua pemain asal Argentina tersebut tidak mengulangi kesalahan dan membuat Tottenham unggul di menit kedelapan. Tak lama kemudian City membalas dengan gol spektakuler MacKenzie lewat tendangan voli dari jarak 30 meter yang menjebol gawang Spurs.

City mampu unggul di awal babak kedua melalui tendangan penalti. Spurs mencoba bangkit dan pelan-pelan kembali merepotkan pertahanan lawan, hingga mampu menyamakan skor melalui Garth Crook saat laga tersisa 20 menit.

Villa kemudian tampil mengemuka lagi. Kali ini dari jarak sekitar 25 meter ia berlari dengan kencang sambil berputar dan melewati daerah pertahanan City, mengelabui beberapa pemain dan menaklukkan Joe Corrigan dan mencetak gol sambil menjatuhkan diri ke dalam gawang. Gol kemenangan yang disambut perayaan besar-besaran.

4. Arsenal v Manchester United (1979)

Sepanjang laga final Piala FA 1979 antara Arsenal dengan Manchester United, sepertinya the Gunners terlihat jelas akan meraih kemenagan dengan mudah, tapi lima menit terakhir membuat laga ini masuk dalam urutan keempat dalam daftar kami, semua itu karena momen 'Final Lima Menit'.

Performa gemilang Liam Brady membuat Arsenal tampil dominan di Wembley. Sang legenda the Gunners mengkreasi dua gol yang dicetak Brian Talbot dan Frank Stapleton yang membuat timnya unggul dua gol di babal pertama.

Dominasi ini terus berlanjut sampai Gordon McQueen sepertinya hanya membuat gol hiburan di menit ke-86. Tak kurang dari 120 detik kemudian, United berhasil menyamakan skor, melalui Sammy McIlroy lewat aksi gemilangnya yang melewati beberapa pemain belakang Arsenal.

Meskipun begitu, tim kota London tidak mau larut dalam kebangkitan lawan dan mereka kembali mendapat inspirasi dari Brady. Ia mengirim umpan silang dari sayap kiri dan Alan Sunderland menyambutnya dengan tendangan yang menjadi gol kemenangan, yang tercipta hanya semenit setelah Arsenal kehilangan keunggulan mereka untuk mengakhiri pertandingan yang luar biasa ini.

3. Blackpool v Bolton (1953)


Hal langka dalam sebuah pertandingan sepakbola, terutama di final, hanya identik dengan seorang pemain dibandingkan dua tim yang terlibat, tapi performa Stanley Matthew dalam kemenangan Blackpool 4-3 atas Bolton memang pantas mendapat penghormatan tinggi.

Saat timnya tertinggal 3-1 dalam waktu sekitar sejam, berkat gol dari Nat Lofthouse, Bobby Langton dan Eric Bell untuk the Trotters dan Stan Mortensen bagi Blackpool, Matthew mengangkat timnya dan menggiring bola dari sayap kanan lalu umpan matangnya dimanfaatkan Mortensen yang mencetak gol kedua di laga itu.

Blackpool semakin percaya diri dan menguasai permainan sementara Bolton semakin khawatir dan lebih banyak bertahan. Saat waktu tersisa dua menit, the Seasiders berhasil menyamakan kedudukan melalui Mortensen yang menjadi satu-satunya pemain sampai saat ini yang mencetak hat-trick di final Piala FA melalui tendangan bebas.

Laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Matthews kembali membawa bola di sisi kanan dan mengirim umpan silang yang luput menyentuh Mortensen, tapi mampir di kaki Bill Perry yang mencetak gol kemenangan di babak perpanjangan waktu.

2. Arsenal v Liverpool (2001)

Sehubungan dengan renovasi stadion Wembley, maka final Piala FA di tahun 2001 untuk pertama kalinya digelar di luar Inggris yaitu di Millennium Stadium di Cardiff, Wales.

The Reds baru saja memenangkan Piala Liga sedangkan Arsenal berharap menebus finis di posisi kedua di Liga Primer dengan meraih Piala FA.

Pertandingan berjalan ketat, Arsenal lebih mendominasi permainan tapi tidak ada serangan mereka yang berbuah gol. Saat laga tersisa 20 menit, Robert Pires mengirimkan umpan yang cermat pada Freddie Ljungberg dan pemain Swedia itu berhasil mengelabui Sander Westerveld untuk membuat timnya unggul.

Liverpool akhirnya meningkatkan permainan mereka dan mampu menyamakan skor saat Michael Owen memanfaatkan keraguan lini pertahanan Arsenal dan tendangannya tidak mampu dihentikan David Seaman saat laga tinggal tujuh menit lagi.

Owen kemudian membuat situasi menjadi berbalik dan dramatis dengan mencetak gol kemenangan bagi timnya setelah mengelabui Tony Adams dan dengan dingin membuat gol di menit ke-88.

1. Liverpool v West Ham (2006)


Dengan data-data peringkat sebelumnya, Liverpool tidak asing lagi dengan drama di menit-menit akhir, tapi kemenangan adu penalti yang mereka peroleh atas West Ham pada 2006 memang pantas berada di puncak.

The Hammers mendapat 'hadiah' keunggulan di menit ke-20 ketika Jamie Carragher membuat gol ke gawang sendiri sebelum Dean Ashton menyelesaikan peluang dengan baik dan secara mengejutkan membuat timnya unggul dua gol dalam rentang waktu kurang dari setengah jam. Namun umpan silang Paul Konchesky tidak mampu diantisipasi Pepe Reina dan justru masuk ke gawang sehingga West Ham kembali unggul.

Laga mendekati akhir dan Liverpool mencoba segala upaya untuk menyerang lawan mereka. Dengan beberapa detik tersisa, the Reds berhasil membuat skor sama kembali dengan cara yang spektakuler yaitu tendangan jarak jauh Gerrard dari jarak 35 meter berhasil menjebol gawang Shaka Hislop.

Babak perpanjangan waktu berlalu dengan kedua tim sudah hampir kehabisan tenaga. Reina memperbaiki kesalahan di waktu normal dengan menyelamatkan tiga tendangan penalti dalam adu tendangan penalti yang membuat timnya meraih kemenangan.



Terkait