thumbnail Halo,

Dua kandidat pemain terbaik musim ini, Luis Suarez dan Robin van Persie, bersaing merebut perhatian penggemar Liga Primer Inggris dalam dua hari terakhir.


OLEH   AGUNG HARSYA     Ikuti @agungharsya di twitter

Wajah lugu Luis Suarez terpampang di berbagai halaman muka media massa Inggris dan internasional sepanjang Senin (22/4) kemarin akibat perangai uniknya menggigit lengan Branislav Ivanovic pada pertandingan malam sebelumnya. Seakan-akan semua media berlomba-lomba menertawakan aksi ganjil seorang manusia kanibal di era modern yang hidup di panggung lapangan hijau. "Kanibal dari Anfield" atau "Drakula Merah", bilang mereka. Reaksi pro dan kontra, lebih banyak yang kontra tentu saja, sahut menyahut karena bukan kali ini saja Suarez berulah.

Banyak media memaparkan daftar dosa Suarez sepanjang kiprahnya sebagai pesepakbola profesional. Paling disorot tentu saja insiden serupa yang terjadi November 2010 ketika seperti seorang vampir haus darah Suarez mencabik leher Otman Bakkal pada pertandingan Eredivisie Belanda Ajax Amsterdam versus PSV Eindhoven. Selain sanksi kartu merah dan larangan bertanding dua pertandingan, saat itu komisi disiplin KNVB memperberat sanksi dengan tambahan skorsing tujuh pertandingan.

"Tidak, saya tidak menyesal dengan apa yang terjadi. Biasanya saya selalu bersikap tenang, tapi tidak kali ini. Saya sedikit letih. Pekan ini saya banyak melakukan perjalanan," ujar Suarez membela diri kala itu. Satu bulan sebelum pertandingan, Suarez membela timnas Uruguay dalam lawatan uji coba ke Indonesia. Pada Juli tahun yang sama, Suarez mewarnai pemberitaan media massa karena "berhasil" mengeblok tendangan pemain Ghana Dominic Adiyiah dengan tangan di perempat-final Piala Dunia dan membuka jalan lolosnya Uruguay ke babak empat besar turnamen.

Jadilah Suarez seorang penyakitan yang hanya bisa menyaksikan Ajax bertanding sepanjang sisa paruh pertama musim 2010/11 sebelum pindah ditransfer ke Liverpool pada jendela transfer musim dingin. Menurut mantan wasit Graham Poll sanksi serupa sepatutnya dijatuhkan FA kepada Suarez. Jika FA mendengar saran wasit yang terkenal pernah membikin rekor dengan memberikan tiga kartu kuning kepada Josip Simunic hanya dalam sebuah pertandingan Piala Dunia itu, bisa-bisa Suarez tak lagi dapat bermain membela Liverpool di sisa pertandingan musim ini.

Bahkan, tak terlepas pula kemungkinan Liverpool menjual Suarez di bursa transfer musim panas jika memperoleh tawaran yang cocok. Apakah Suarez mengulang akhir kiprahnya bersama Ajax di Anfield dengan kisah yang murung seperti ini? Masih menarik menanti perkembangan situasinya. FA sendiri pada akhirnya (barangkali terdorong sentimen media massa) buru-buru mengumumkan vonis bersalah kepada Suarez. Striker penggigit dari Uruguay itu diberi kesempatan hingga Selasa sore waktu setempat untuk memberikan jawaban atas keputusan tersebut. Setidaknya Suarez telah meminta maaf kepada Ivanovic melalui telepon usai pertandingan.



Persembahan liputan media massa kepada Suarez seakan melupakan peristiwa penting yang dapat terjadi Senin petang harinya. Di Old Trafford, pendukung Manchester United siap menggelar pesta perayaan gelar Liga Primer Inggris untuk kali ke-20 sepanjang sejarah. Pesta itu terbilang dadakan karena sedianya United masih dituntut meraih enam poin dalam lima laga tersisa. Pada kenyataannya, Tottenham Hotspur berbaik hati mempercepat prosesi penasbihan gelar juara dengan mengalahkan Manchester City 3-1 dalam pertandingan yang digelar sehari sebelumnya. Kekalahan ini menyisakan kemasygulan di hati Roberto Mancini karena menilai anak-anak asuhnya tidak bermain sungguh-sungguh dengan segenap kemampuan. Dampaknya, United siap berpesta jika berhasil memukul Aston Villa, yang sedang terancam zona degradasi.

Pentas perayaan gelar juara ke-20 di Teater Mimpi Senin malam itu rupanya menjadi milik pemain bernomor punggung 20. Bekas hulu ledak meriam London yang bernama Robin van Persie. Di awal musim, Van Persie tidak menemukan jawaban yang dicarinya di Arsenal sehingga meminta pindah. Situasi ini dimanfaatkan Sir Alex Ferguson dan segera saja United melayangkan tawaran pada kisaran harga £24 juta pound. Gilanya, Arsenal dan Arsene Wenger tidak menolak.

Mungkin profesor Wenger menghitung keuntungan ekonomi yang bisa didapat dengan melepas Van Persie. Ada pemasukan berupa uang transfer serta gaji mahal sang pemain bisa dialihkan untuk membayar dua atau tiga pemain calon bintang sekaligus. Atau mungkin profesor Wenger ingin memberikan pelajaran kepada Van Persie kalau dia hanya bisa bersinar bersama Arsenal asuhannya. Kejayaan pribadi yang diincar Van Persie niscaya berakhir tragis karena United gagal juara dan Arsenal tetap baik-baik saja tanpa diperkuat sang (bekas) kapten serta topskor musim lalu dengan catatan 30 gol itu. Atau sederhana saja, mungkin Profesor Wenger sedang berbaik hati saat melepas Van Persie ke United sebagai kado gelar juara ke-20 saingan mereka.

Senin malam, 22 April 2013, Van Persie rupanya "hanya" butuh waktu 33 menit guna meraih apa yang diidam-idamkannya sepanjang karier, yaitu gelar juara liga. Tak pernah Van Persie merayakan sebuah trofi liga domestik saat memperkuat Feyenoord Rotterdam dan kemudian pindah ke Arsenal. Kepindahan ke United dengan memilih nomor punggung magis 20 diharapkan dapat mewujudkan impian selekas-lekasnya mengingat usianya sudah menginjak senja di dunia sepakbola bayaran. Menghadapi Villa, secara teori Van Persie akan mendapat kawalan ketat dari bek tengah sekaligus kapten lawan, Ron Vlaar. Tugas itu rupanya terlalu berat diemban Vlaar.

Di seberang Laut Utara, di Rotterdam tempat pekerja galangan kapal sedang mempertaruhkan upahnya untuk menebak-nebak posisi Feyenoord di klasemen akhir Eredivisie musim ini, Van Persie pernah dikenal sebagai si anak badung. Namanya mulai melejit musim 2001/02 saat diperkenalkan Bert van Marwijk. Anak muda berusia 18 tahun itu mencicipi sukses Feyenoord menjuarai Piala UEFA 2002. Namun, musim sebelumnya Van Persie berperang dingin dengan sang pelatih hingga berujung kepindahan ke Arsenal pada musim panas 2004. Di sana, Van Persie bertemu mentor sejatinya, Dennis Bergkamp.

"Dennis bilang situasinya tidak seperti di Belanda kalau seorang pemain pantas bertanya kepada pelatih kenapa dirinya tidak dimainkan. Ketika masih muda kita memang dipenuhi emosi. Anda ingin meraih semuanya. Anda harus menyembunyikan kegugupan dari dunia luar. Meski jarang diakui, sepakbola adalah sebuah dunia kejantanan tersendiri," ungkap Van Persie.

Berbekal kematangan, tiga kali Van Persie mampu berkelit menghindari penjagaan Vlaar dalam pertandingan di Old Trafford malam tadi. Pada detik ke-82, Van Persie berdiri sendirian di tiang jauh menyelesaikan dengan mudah umpan mendatar Ryan Giggs di sisi yang lain. "Ini terlalu gampang," sorak pendukung United membayangkan trofi ke-20 yang segera menghiasi lemari koleksi gelar mereka. Menit 13, Van Persie menyajikan aksi yang lebih rumit. Melihat Wayne Rooney menguasai bola di lapangan tengah, penjagaan Vlaar dilewati dengan bergerak horizontal. Lolos dari bendera off-side penjaga garis, Van Persie melepas tendangan voli yang indah dari luar kotak penalti. Bola bersarang di sudut tiang jauh gawang Brad Guzan. Sorak-sorai pendukung United mengiringi setiap kali siaran televisi mengulang-ulang proses terjadinya gol indah itu. Van Persie menyempurnakan pertandingan penentuan gelar juara ini menjadi mitos yang akan diceritakan turun-temurun oleh fans United dengan mengemas hat-trick pada menit ke-33. Menerima sodoran Giggs di muka gawang, Van Persie dengan tenang mengecoh Guzan dan membuat upaya penyelamatan empat pemain Villa (termasuk Vlaar) sia-sia dengan menempatkan bola ke sudut yang sulit dicegah.

Pemain bernomor punggung 20 mencetak hat-trick untuk membantu United meraih gelar ke-20. Bukankah ini kisah epik yang sempurna? Senin kemarin media massa Inggris dan internasional sibuk membahas perangai Suarez dan hari ini Van Persie mengambil alih halaman muka pemberitaan dengan pencapaian gilang-gemilang. Tidak perlu heran jika pemilihan gelar pemain terbaik musim ini sudah ditentukan melalui kisah yang kontras ini, seperti yang rupanya sudah diprediksi Vlaar akhir bulan lalu.

"Siapa pemain terbaik pilihan saya? Suarez? Tidak, saya akan pilih Van Persie. Orang mungkin bilang ini karena dia teman saya, tapi dia tampil gemilang sepanjang musim. Bahkan kalau Suarez mencetak lebih banyak gol, tetap saja United yang bercokol di puncak klasemen," ujar si penjaga yang lalai itu.

Dan kini setelah meraih ambisi pribadi dengan merebut gelar juara liga pertamanya, Van Persie seharusnya menerjemahkan inspirasi serupa ke kancah Eropa musim mendatang.



Ikuti perkembangan terkini sepakbola Inggris di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Liga Primer Inggris lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Inggris.

Terkait