thumbnail Halo,

Strategi sukses pemilik Chelsea adalah melemahkan kuasa sang pelatih serta memberikan staf yang bisa memuluskan transisi dari satu pelatih ke pelatih lain


EKSKLUSIF   WAYNE VEYSEY     PENYUSUN   DEFANIE ARIANTI    
Setelah Rafael Benitez menunjukkan aksi yang berisiko membuatnya diusir dari kursi pelatih Chelsea, model kepelatihan klub itu kembali menuai kritik.

Usai membawa Chelsea memenangkan laga Piala FA atas Middlesbrough, kritik Benitez terhadap pendukung Chelsea dan pria yang menunjuknya sebagai suksesor Roberto Di Matteo telah menempatkan masa depannya pada kemungkinan terburuk.

Namun emosi pelatih Spanyol yang meluap-luap tidak akan mengubah pemikiran para petinggi Stamford Bridge. Di bawah kekuasaan Abramovich yang telah memasuki satu dekade, pelatih kepala selalu berisiko dipecat.

Sepertinya ini bukan sistem yang dianggap tidak sehat atau tidak produktif oleh pengusaha Rusia atau para petinggi. Sebaliknya, para ofisial Chelsea meyakini bahwa sistem itu stabil dan logis. Bagi orang luar yang hanya fokus kepada peran pelatih kepala, memang tidak terlihat demikian. Tapi bagi mereka yang berada di tempat latihan Cobham, fasilitas latihan itu membangun transisi mulus dari satu pelatih ke pelatih lain.

THE COMPANY MEN

DIREKTUR TEKNIK
Michael Emenalo
ASISTEN PELATIH UTAMA
Steve Holland
ASISTEN PELATIH UTAMA
Bolo Zenden
MANAJER AKADEMI
Neil Bath
MANAJER U-21
Dermot Drummy
DIREKTUR OPERASIONAL OLAHRAGA
Mike Forde
SCOUT SENIOR
Mike McGiven
PELATIH KIPER
Christophe Lollichon
Seorang narasumber menjelaskan kepada Goal.com: "Pelatih tim utama selalu bisa digantikan di Chelsea, tapi memang itu yang terjadi di bawah kekuasaan Abramovich."

"Model sistem ini ditiru di seluruh Eropa dan sepertinya akan menjadi lebih familiar di Inggris di masa mendatang."

"Pemilik klub seperti Abramovich tidak ingin pelatih menjadi sosok utama dalam sebuah klub. Mereka tidak menyukai fakta bahwa pelatih memiliki kekuasaan besar dalam operasi klub sepakbola, misalnya memutuskan dana yang mereka berikan kepada agen untuk mendapatkan pemain-pemain yang mereka inginkan."

"Mereka ingin pelatih bekerja berdampingan dengan direktur olahraga, yang menurut mereka adalah sekutu mereka. [Pemilik] tahu peran pelatih utama hanya bergantung pada hasil dan mereka tidak mengerti mengapa pelatih harus memiliki kekuasaan besar."

"Stabilitas di Chelsea tidak berada di tangan pelatih, sebagaimana yang terjadi di Manchester United atau Arsenal, tapi dalam mempermanenkan sosok-sosok kunci dalam staf mereka."

Ambil contoh asisten pelatih utama Steve Holland, yang hijrah ke Chelsea dari Stoke City pada Agustus 2009 untuk menangani tim cadangan sebelum dipromosikan ke skuat utama dua tahun kemudian bersama pelatih Andre Villas-Boas.

Holland memiliki reputasi baik sebagai pelatih dan telah menempatkan dirinya sebagai sosok penting yang menjembatani skuat utama dengan akademi, begitu juga halnya dengan direktur teknik dan skuat utama Michael Emenalo, yang dinilai sebagai 'mata dan telinga' Abramovich di CObham.

Sebagai seseorang yang berbagi tugas sebagai asisten dengan Bolo Zenden, Holland adalah bagian dalam staf kepelatihan Benitez, tapi dia juga terlepas dari sang pelatih. Dia tahu bahwa Abramovich tidak suka asisten pelatih terlalu dekat dengan manajer.

"Semua orang tahu apa yang terjadi pada Paul Clement," tambah narasumber itu. "Dia terlalu dekat dengan Carlo Ancelotti dan membayarnya dengan pekerjaannya ketika Carlo dipecat."

Holland bisa jadi akan bekerja dengan manajer keempat dalam kurun dua tahun, namun dia terbilang masih 'hijau' dalam staf Chelsea dibandingkan sosok-sosok penting lainnya.

Neil Bath bergabung dengan Chelsea pada 1993 dan telah menangani Akademi sejak 2004. Manajer U-21 Dermot Drummy hijrah ke klub itu dari Arsenal pada 2006. Direktur operasional sepakbola Mike Forde sudah berada di Chelsea sejak 2007 dan kini duduk di kursi dewan.

Wajah-wajah familiar lain di Cobham termasuk scout senior Mick McGiven, yang sudah berada di Chelsea sejak 1990, serta pelatih kiper Christophe Lollichon, kolega dekat dari Petr Cech sejak berada di Rennes, dan di klub London Barat sejak 2007.

"Intinya adalah, ada stabilitas dalam sistem kepelatihan Chelsea," jelas narasumber itu lagi.

"Ya, para pelatih datang dan pergi dan, ya, itu membuahkan konsekuensi soal kekuasaan pemain, tapi Abramovich merasa sistem itu berhasil. Bagi dia, buktinya ada di rak trofi."

Di Ingggris, ada budaya bahwa pelatih kepala yang menjadi pusat operasional klub, atau setidaknya terlihat menangani klub dan tampil di konferensi pers serta hari pertandingan.

Kultur tentang manajer itu sudah meresap. Selama Ferguson dan mereka yang ingin mengikuti jejaknya, seperti David Moyes dan Sam Allardyce, masih ada, pandangan tradisional bahwa manajer adalah dewa akan selalu didukung.

Dengan mendobrak naskah yang sudah berjalan baik, sistem yang dijalankan Chelsea melemahkan kekuasaan pelatih kepala, sesuatu yang sulit diterima Benitez, dan menguatkan kekuasaan pemilik.

Meski begitu, Abramovich sudah memiliki trofi Liga Champions, tiga gelar Liga Primer, empat Piala FA dan dua Piala Liga untuk membuktikan bahwa dia tahu apa yang dia lakukan.

Dia digambarkan sebagai pemilik yang tidak sabar dan dingin yang selalu menuntut dan tidak kenal belas kasihan terhadap sosok yang menangani tim.

Tapi pengusaha Rusia ini, dalam standar Liga Primer, juga merupakan sosok revolusioner.



Ikuti perkembangan terkini sepakbola Inggris di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Liga Primer Inggris lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Inggris.

Terkait