thumbnail Halo,

Orientasi Arsene Wenger di Arsenal patut dipertanyakan karena sudah tujuh musim terakhir tak sekalipun timnya bisa meraih prestasi.


OPINI   M YANUAR F     Ikuti @mohammadyanuar di twitter
Menyusul kekalahan dari Manchester City di Emirates Stadium dinihari tadi, bahasan terkait masa depan Arsene Wenger di Arsenal kembali mencuat.

Seperti diketahui, Wenger belum lagi mampu meraih trofi juara sejak tujuh musim terakhir, dan kemungkinan akan berlanjut di musim ini.

Melihat pemandangan di papan klasemen Liga Primer Inggris sampai pekan ke-22, tak ada isyarat yang mengindikasikan Arsenal layak diposisikan sebagai kandidat juara Liga Primer Inggris musim ini.

Dari perolehan angka, Arsenal tertinggal 21 angka dari Manchester United, yang berarti, untuk bisa menyalip pimpinan klasemen Liga Primer itu, Arsenal harus bisa menang delapan kali, dan rival mereka juga kalah delapan kali. Sepertinya mustahil.

Kans juara Arsenal tersisa hanya ada di Piala FA dan Liga Champions. Jika dua kompetisi itu dibandingkan, kans terbesar ada di Piala FA, karena menghadapi tim papan atas Eropa sepertinya akan sulit bagi Arsenal untuk menang.

Dengan potensi kegagalan Arsenal di musim ini, Wenger pantas mendapat sorotan. Bagaimana tidak, program kerjanya selama ini tak juga membuahkan hasil. Mungkin, hanya dari sudut pandang finansial Wenger bisa memuaskan, itupun hanya kelompok direktur klub.

Ya, saat ini Wenger hanya berusaha menyenangkan para pemegang saham klub ketimbang fans mereka sendiri. Caranya, dengan membuat neraca keuangan klub tidak memasuki kategori negatif. Wenger, atau mungkin manajemen klub, sepertinya takut mengambil risiko.

Chief executive Arsenal Ivan Gazidis juga berkali-kali menerangkan bahwa pihak klub siap mengeluarkan dana besar untuk mendatangkan pemain bintang, dan seharusnya Wenger menangkapnya sebagai peluang untuk menggantikan pemain bintang yang sudah dijual sebelumnya dengan pemain lain yang memiliki kualitas sepadan.

Di musim ini, belum ada gelagat Wenger akan melakukan aktivitas transfer yang menjanjikan. Padahal, untuk kesekian kalinya, mereka kembali ditinggal pemain pilar mereka, seperti Mikel Arteta yang mengalami cedera dan bakal absen lama.

Dengan Yann M'Vila, Wesley Sneijder dan David Villa masuk dalam bidikan, sepertinya Wenger harus bergerak cepat untuk bisa mendatangkan salah satu dari mereka dan berani mengambil risiko dengan neraca keuangan klub.

Masalah lain yang harus dihadapi Arsenal, yang menghambat kans juara mereka, selama ditangani Wenger adalah terlalu mengandalkan pemain muda.

Sejatinya tak ada yang bisa disalahkan jika produk akademi mereka, atau pemain yang didatangkan di usia muda untuk dibentuk menjadi pemain bintang, bisa memberi kontribusi bagi klub. Tapi itu semua butuh proses yang tidak sebentar. Robin Van Persie misalnya, yang butuh setidaknya empat tahun untuk menimba ilmu dari Dennis Bergkamp dan Thierry Henry sebelum kembali menjadi bintang, dan kemudian dilepas ke Manchester United. Demikian juga Cesc Fabregas, Samir Nasri, Gael Clichy atau pemain lain yang berpeluang hengkang, seperti Theo Walcott.

Dengan gaya seperti ini, Arsenal mungkin akan mendapat keuntungan dalam hal finansial. Mendatangkan pemain setengah jadi dan dilepas dengan harga tinggi ketika sudah menjadi bintang. Tapi dalam hal prestasi juara, yang merupakan salah satu ukuran kesuksesan sebuah klub, Arsenal bukan tim apa-apa. Gaya seperti ini tak bisa diandalkan.

Hal lain yang juga berpotensi, dan sudah terbukti sebagai masalah adalah target minimalis Arsenal di setiap musimnya. Arsene Wenger seakan tak memiliki ambisi besar untuk bisa mengantar Arsenal ke tangga juara.

Bagi Wenger, bisa finis di posisi empat besar sudah menjadi kesuksesan besar. Padahal, jika ingin, dia bisa membidik target juara. Dengan dukungan fasilitas latihan yang dimiliki klub dan dana besar untuk dibelanjakan, Wenger sepertinya terlalu pengecut untuk memasang target besar.

Lalu mengapa Wenger sepertinya takut memasang target tinggi? Mungkin karena risiko yang diambil terlalu besar, yang mungkin berujung pada pemecatan dirinya.

Ya, Wenger merasa dirinya tak tersentuh, bahkan ada yang menilai terlalu diktator. Dalam sudut pandang apapun, bukan hal yang sehat hanya ada satu orang yang berkuasa dan mengendalikan segalanya di klub. Lagipula, tak ada dalam sejarah di mana kekuasaan yang dipegang oleh satu orang saja, akan menghasilkan sesuatu yang manis bagi banyak pihak.

Wenger memang memiliki pengalaman, dan pantas disegani karena prestasinya sebagai salah satu manajer veteran di Liga Primer Inggris. Tapi bukan berarti dia tak tersentuh.

Saya rasa, dengan krisis kepercayaan diri dan prestasi di Arsenal sekarang ini, sudah waktunya untuk merevisi keyakinan "in Arsene Wenger we trust".

Ikuti perkembangan terkini sepakbola Inggris di GOAL.com Indonesia. Dapatkan semua berita Liga Primer Inggris lengkap dengan jadwal, hasil, dan klasemen semua kompetisi di Inggris.

Terkait